
Banyak adegan dewasa, bukan area bocil silakan menjauh. Latar tempat dunia barat ( Luar Negeri). Maka dari itu author tidak pernah menulis nama tempat atau negara.
Waktu berputar begitu cepat, kebahagiaan yang di rasakan sangat singkat dan tersimpan dalam di hati selamanya.
Tiga tahun lalu ia baru merasakan kebahagiaan mengetahui kehamilan sang istri, dugaan nya pun tak meleset saat di bawa ke rumah sakit terbukti benar adanya.
Tapi semua kebahagiaan tidak berlangsung lama, sang kuasa begitu menyayangi istri kecil nya. Kelahiran putri kecil mereka, istri nya pergi meninggalkan nya selamanya karena kehilangan banyak darah.
Kelahiran putri mereka belum pada waktunya, sebab Ara terpeleset dan terjatuh hingga terjadi pendarahan.
Sejak kejadian itu Nick berubah dingin tak ada sosok wanita yang selalu membuatnya tersenyum lagi sekarang.
Cinta nya pun sama ikut pergi bersama dengan pergi Ara dari dunia.
"Nick bagaimana Nara?" tanya Yanto mengenai keponakan kesayangan nya.
"Baik, Mama merawat dengan baik," jawab Nick, sikap dingin nya tak berlaku pada keluarga.
"Oh senang dengar nya. Sore nanti saya dan Yudha akan berkunjung melihat Nara sebelum pergi," ucap Yanto pasti akan merindukan Nara titipan dari sang adik tersayang sebelum pergi meninggalkan mereka selamanya.
"Emangnya kakak pergi kemana?" tanya Nick menatap Yanto.
"Luar negeri ada kerjaan mendadak," ucap Yanto, tapi tidak mengatakan sebenarnya kerjaan apa.
Dia dan Yudha memutuskan untuk merahasiakan ini. Kedua benar-benar tidak menyangka sang Daddy menyembunyikan hal sebesar ini pada mereka. Sungguh keterlaluan.
"Semoga cepat selesai," kata Nick tulus.
"Iya terimakasih. Segera lah cari istri, kasihan Nara ia sangat membutuhkan sosok seorang Ibu," ucap Yanto tidak tega pada Nick baru setahun hidup bahagia bersama Ara harus kembali kehilangan untuk selamanya.
"Saya mencintai Ara, tidak akan saya biarkan seorang pun merebut posisi Ara menjadi Ibu Nara. Lagian Nara tidak membutuhkan Ibu, sudah cukup adanya Mama dan Nila," sahut Nick tidak pernah ingin mencari pengganti Ara.
"Terserah kau saja, saya tidak bisa memaksa jika sudah seperti ini. Kau sangat keras kepala," menyerah Yanto melihat Nick tidak mau mencoba membuka hati.
"Kakak lebih keras kepala, hingga sekarang saja tidak menikah padahal Ara sangat menginginkan pernikahan kakaknya," ingat Nick pada perkataan Ara.
"Baiklah saya harus pergi sekarang. Salam pada ponakan ku uncle nya akan datang sore nanti," Yanto cepat memutuskan untuk pergi. Terus di sini Nick akan mengungkit pernikahan nya.
Dia belum ada niat untuk menikah saat ini. Fokusnya sekarang mencari seseorang. Entah orang yang ingin di temui sekarang masih hidup atau tiada. Harapannya semoga masih.
"Yan, kau sudah kembali?" melihat keberadaan Yanto di kantor, Yudha mendekat.
"Iya, ada apa? kau sudah mendapat informasi?" tanya Yanto merasa Yudha sudah menemukan apa yang mereka cari selama ini.
"Sudah, dan dia masih hidup," jawab Yudha diam memikirkan sesuatu.
"Bagus. Kita bisa menemuinya hari ini," seru Yanto bahagia mendengar kabar baik itu.
"Tidak Yan. Tidak semudah itu kita menemuinya," wajah Yudha seketika berubah sedih.
"Ada apa? kenapa tidak bisa menemuinya?" bingung Yanto tidak mengerti.
"Dia berada bersama keluarga Allen. Kau tau kekuasaan yang dimiliki keluarga Allen? mereka berkuasa, bahkan dia di didik sangat keras di sana. Tidak kelembutan yang di rasakan," sedih Yudha menceritakan semua yang di dapatkan.
Dua tahun kemarin setelah mendapat kebenaran dari Sang Daddy, mereka langsung mencari tapi tidak pernah menemui apapun. Dan kini baru terungkap semua.
Tubuh Yanto terasa lemas mendengar kenyataan seperti apa yang di dapat sekarang.
"Kita berangkat sekarang ke Inggris, menunggu besok terlalu lama. Dia tidak pernah tenang di satu tempat," saran Yudha tidak bisa menunggu. Sudah cukup lama mereka mencari informasi sekarang harus segera bertindak.
"Tapi, aku baru saja berjanji pada Nick sore kita berkunjung bertemu Nara," ucap Yanto sudah melakukan janji terlebih dahulu, karena Yudha tak mengatakan apapun tadi.
"Katakan pada Nick setelah pulang kita akan berkunjung."
"Baiklah, aku akan menghubungi Nick sekarang," setuju Yanto tak punya pilihan lain sekarang.
"Aku keluar dulu menghampiri Johan," tinggal Yudha meninggalkan Yanto.
Sepeninggalan Yudha, Yanto segera menghubungi dan mengatakan tidak bisa berkunjung, syukur Nick mengerti karena alasan yang diberikan tentang kerjaan.
...----------------...
__ADS_1
"Cantik nya aunty menggemaskan sekali," cium Nila gemas pada pipi gembul Nara. Wajah nya sangat mirip dengan Ara.
"Aunty geli," ucap bocah kecil ciuman Nila tanpa henti membuat nya cemberut.
"Hehehe, maaf sayang. Aunty gemas padamu. Kau sangat cantik dan imut seperti Mommy mu," jujur Nila sedih mengingat Ara wanita ceria yang manja.
"Iya Aunty. Nara tau Daddy selalu bilang seperti itu. Nara rindu Mommy," sedih nya dengan mata berkaca-kaca.
"Jangan sedih sayang. Mommy nanti ikut sedih di atas kalau Nara sedih. Jadi harus senyum. Tunjukkan pada Mommy, Nara anak baik tidak cengeng," hibur Nila. Ucapan nya hanya palsu, hati nya menangis merindukan Ara.
"Aku meminta anak mu untuk tidak sedih, tapi aku sendiri yang sedih. Kenapa kau harus pergi secepat ini Ra? kau lihat anak sekecil ini kau tinggal," batin Nila menangis.
Dia memang terlihat kuat di depan semua orang menunjukkan ia baik-baik saja. Tapi kenyataan tidak seperti itu, Nila begitu rapuh kehilangan sahabat satu-satunya yang di miliki.
"Aku janji padamu akan menjaga Nara seperti anak ku sendiri. Aku juga ingin memberitahu mu sekarang aku sedang hamil anak Kak Alex. Coba kau masih ada kita akan sangat bahagia," tambah Nila sedih mengingat dulu Ara membujuk nya untuk tinggal bersama mereka. Tapi ia tolak.
Dia sangat menyesal, jika saja tau permintaan itu terakhir untuk menghabiskan banyak waktu, sudah Ia lakukan.
Lamunan sedih Nila buyar, tangan kecil Nara menyentuh pipi nya.
"Aunty, Nara tidak akan sedih. Nara tidak mau Mommy sedih. Nara sayang Mommy," ucap Nara.
"Pintar. Aunty yakin Mommy di atas sana bangga sama Nara," senyum Nila, memeluk ponakannya di usia seperti ini harus merasakan hal sekejam ini.
"Iya," senyum Nara.
"Ayo kita makan, aunty akan masak makanan kesukaan Nara," ajak Nila menggendong Nara.
"Horee... Nara mau makan ayam goreng banyak-banyak dan udang saos tiram," sorak Nara riang.
"Siap, princess. Aunty akan langsung masak sekarang. Duduk lah di sini jangan kemana-mana," pesan Nila memperingati keponakan cantiknya.
"Iya," Nara mengangguk menuruti seperti pesan Nila.
Nila tersenyum sifat dan kelakuan Nara sama persis dengan Ara yang akan diam patuh jika sudah mendengar kata makanan.
"Dia sama persis dengan mu mendengar kata makan matanya langsung berbinar, entah seperti apa besarnya nanti. Ku harap dia tak lemah seperti mu muda di injak. Aku akan mengajar nya menjadi wanita kuat melawan siapa saja yang menindas nya," janji Nila.
...****************...
"Iya sabar," sahut Bela dari dalam segera keluar.
Cekrek...
"Ada apa Daddy?" tanya Bela, pintu terbuka seorang pria tidak lain Daddy nya berdiri dengan wajah dingin.
"Kau tanya ada apa? kau tidak sadar juga kesalahan apa yang sudah kau perbuat? dasar bodoh," maki pria itu marah besar dengan tatapan tajam pada Bela.
"Kesalahan," ucap Bela tidak mengerti kesalahan apa yang sudah di lakukan.
Dia merasa selama ini apa yang di kerjakan sudah benar. Tidak mungkin ia berani melakukan kesalahan, satu kesalahan sudah mendapat cambukan dari Daddy, bagaimana ia berani melakukan hal gila yang menyakiti dirinya sendiri.
"Ikut Daddy, kau harus di hukum biar mengingat apa kesalahan mu," tarik pria itu kasar pada Bela.
Bela tidak berontak ia mengikuti langkah Daddy membawa di ruang bawah tanah untuk menghukum nya seperti biasa di lakukan setiap kesalahan.
Hidup nya sudah sangat keras sejak kecil. Kasih sayang tidak pernah ia dapatkan. Keluarga nya begitu keras mendidik nya, entah kenapa mereka melakukan ini yang Ia ketahui Daddy nya tidak ingin tidak sempurna, jadi satu kesalahan yang di lakukan tidak ada kata ampun.
15 menit Bela di cambuk tanpa henti, sekujur tubuh terasa sakit, bekas pasti sudah banyak di punggung belakang. ia tetap menampilkan dirinya baik-baik.
Semua hukuman dari Daddy di terima dengan lapang dada. Semua ajaran Daddy selalu di tanam di dalam otak.
Pria itu melarang keras Bela jatuh cinta atau menjalin hubungan dengan pria manapun. Bukan hanya itu pria itu juga mengajarkan nya jangan pernah mengasihani siapapun yang melakukan kesalahan, bersikap dingin dan tegas pada namanya pria terkecuali Daddy.
Bela selalu taat dan menurut apa yang di katakan Daddy.
"Kau sudah ingat sekarang apa kesalahan mu?" tanya nya dingin menatap serius Bela.
"Iya, aku ingat Dad," tegas Bela sadar kesalahan apa yang sudah di perbuat.
"Bagus, jangan ulangi lagi. Kau tau Daddy tidak pernah mengajarkan mu mengalah, jika kau lakukan lagi hukuman mu akan lebih dari ini," ancam nya memperingati Bela tidak bertindak bodoh dalam bekerja.
__ADS_1
"Iya aku janji tidak lagi," serius Bela.
"Pergi, 30 menit lagi harus berada di perusahaan," titah nya tegas.
"Iya," Bela langsung keluar cepat, seluruh tubuh nya saat ini sangat sakit, berjalan sebenarnya tak mampu, tapi apa dayanya selalu menguatkan diri memaksa untuk bisa.
Setiba di kamar Bela berjalan pelan, ia tidak kuat berpura-pura tidak sakit lagi. Cambukan Daddy berikan sangat keras dan itu sangat sakit.
Dia hanya menangis di kamar, itu lah yang sering di lakukan.
Merasa sedikit puas mengeluarkan semua, ia masuk ke kamar mandi, tidak sampai 10 menit ia sudah keluar dan berpakaian rapi.
Waktu yang diberikan 30 menit tidak cukup jika ia harus mengobati luka cambuk yang diberikan Daddy.
Mau tidak mau, ia pergi tanpa mengobati. Lagi pula ia sudah biasa akan hal itu.
Kurang 2 menit Bela sudah berada di perusahaan. Ia bernafas lega tidak telat.
"Pagi Bu Bela," sapa karyawan nya melihat kedatangan Bela di perusahaan.
Bela diam tidak mempedulikan sapaan mereka. Hidup nya penuh tekanan, penuh aturan yang di buat Daddy.
Hingga Bela terbiasa akan kehidupan yang begitu keras padanya.
Tak ada senyuman pun di wajah nya sejak kecil hingga sekarang menginjak usia 27 tahun.
Hatinya benar-benar beku, ia bahkan tidak pernah mengenal cinta, kasih sayang dan apapun sejenis yang membuat senyuman terukir di wajah.
Bela tak menyalahkan semua pada Daddy. Ia yakin semua yang dilakukan pasti yang terbaik untuk nya.
Hidup berdua hanya bersama Daddy tanpa sosok Ibu. Membuat nya sadar akan apa yang terjadi tanpa ia tanyakan pada Daddy.
Tiba di ruang CEO, ruang kerja nya. Ia menjatuhkan bokong di kursi kebesaran nya.
💙💙💙
"Bagaimana? apa kita bisa bertemu?" tanya Yanto melihat Yudha diam dengan telpon di genggam nya.
"Tidak, mendekati nya sangat susah. Dia selalu di kawal 5 bodyguard dan dua asisten setia mengikuti nya bekerja," jawab Yudha menggeleng kepala.
"Aaaa! kenapa ingin bertemu adik sendiri tidak bisa?" marah Yanto membenci Daddy nya tidak bisa melawan pria yang membawa kembaran Ara.
"Kau benar," setuju Yudha.
Ara memiliki kembaran dan itu adalah Bela adiknya. Tanpa Yanto dan Yudha ketahui Mommy mereka melahirkan anak kembar. Bahkan saat baru melahirkan Bela sudah di rebut paksa oleh pria asing dan para pengawal yang di bawa menghajar Daddy mereka hingga babak belur.
Itulah cerita yang mereka ketahui dari Daddy yang merasa bersalah saat mereka memberitahu kabar duka Ara telah tiada.
"Lalu sekarang bagaimana? apa kita harus diam seperti ini saja? tidak Yudha, dia adik kita, dia tidak memiliki hubungan apapun dengan pria asing itu. Kita harus membawa adik kita pulang," tidak terima Yanto membiarkan sang adik menderita lebih lama lagi.
"Aku tau itu, tapi untuk bertemu saja tidak bisa, bagaimana cara membawa pulang. Kau harus bisa tenang. Aku pusing terus memikirkan semua ini. Aku mulai membenci pria gila itu!" marah Yudha muak.
"Aku akan meminta teman ku yang bekerja di perusahaan nya mencari tahu jadwal nya apa saja," tambah Yudha.
"Lakukan secepatnya. Aku juga akan meminta orang ku mengawasi nya dari jauh sementara waktu," seru Yanto.
"Jangan!" cegah Yudha tidak setuju.
"Kenapa?" tanya Yanto bingung.
"Kau hanya akan mendapatkan sakit hati dan amarah yang besar jika melakukan itu," jawab Yudha dan Yanto tidak mengerti maksud perkataan Nya.
"Aku tidak mengerti yang kau maksud," kata Yanto.
"Hidup nya sejak kecil penuh kekerasan, meski bergelimang harta. Banyak aturan dalam hidupnya salah sedikit hukuman melayang. Aku tidak mau kau tidak bisa mengontrol amarah mu. Jadi selama ini aku tidak memberitahu mu," ungkap Yudha yang sudah banyak tau kehidupan adik nya.
"Aku berjanji akan membunuh nya jika bertemu," marah penuh benci Yanto mengepalkan kedua tangan nya.
Yudha tersenyum sedih mendengar itu. Semua tidak semudah yang di pikirkan. Banyak hal yang tidak mereka ketahui hidup adik nya itu.
"Kubur semua itu dalam-dalam. Lebih baik sekarang kita pikirkan bagaimana cara bertemu nya. Itu lebih penting, lainnya pikirkan setelah berhasil," saran Yudha bijak.
__ADS_1
"Hmmm, terimakasih kau adik terbaik ku selalu bisa membuat ku tenang di saat seperti ini," Yanto menepuk pundak sang adik makin hari makin bijak.
"Itu sudah tugas ku. Kita adalah keluarga. Aku tak memiliki siapapun di dunia selain mu dan Bela," seru nya tersenyum tipis.