
π»H 4 P P Y R 3 4 D I N Gπ»
πΉβ¨πβ¨πΉ
Nick yang berada di dalam mobil menunggu kedatangan sopir yang sedang membeli bunga di kaget kan dengan teriakan. Suara itu terdengar tidak asing dan sangat familiar di telinganya.
Dan seketika ia keluar ingin melangkah masuk ke dalam toko, ia di tahan oleh seorang wanita.
Nick yang tidak pernah suka tubuh nya di sentuh sekecil apapun oleh wanita langsung menepis dengan kasar.
"Jangan pernah menyentuh saya dengan tangan kotor mu itu!" marah Nick mendorong wanita tersebut dan tubuh wanita itu hampir saja terjatuh jika tidak cepat di tahan pria di sebelah nya yang tidak lain adalah sopir Nick.
"Nona tidak apa-apa," khawatir pria itu kasihan dengan wanita malang di depan nya yang di perlakukan buruk oleh atasannya di pertemuan pertama.
"Iya saya tidak apa-apa," jawab Vava sedikit kaget dengan sikap pria berwajah datar dan dingin di depan nya.
Teriakan dari dalam semakin kencang, dan saat kedua pria di depan nya itu melangkah ingin ikut pada arah suara. Vava menghentikan.
"Tunggu. Bapak pergilah dari sini," usir Vava takut Ara semakin histeris dan akan berakibat fatal dengan kondisi nya.
"Tidak kah kau dengar betapa histeris nya orang di dalam, dia pasti butuh bantuan, bukan? jadi saya akan membantu membawanya ke rumah sakit," ucap Nick enggan pergi malah menawarkan bantuan.
"Mengertilah Pak, pergi dari sini. Kehadiran Bapak bukan membantu adik saya, tapi malah membuat nya menginginkan kematian," frustasi Vava pusing harus menjelaskan bagaimana, pria di depan nya sangat keras kepala.
"Adik?" tanya Nick pelan mendengar kata adik dari mulut wanita bernama Vava itu.
"Iya orang di dalam itu adalah adik saya. Jadi saya mohon pergi dari sini," pinta Vava putus asa mengatupkan kedua tangan memohon untuk merek pergi meninggalkan toko nya.
Dengan sangat berat hati Nick pergi dan masuk kedalam mobil dan di susul sopir nya. Tapi entah kenapa teriakan wanita di dalam membuat nya merasa sakit padahal ia tidak kenal.
__ADS_1
"Ada apa dengan ku? kenapa merasakan sakit hanya mendengar suara tangis wanita itu?" gumam Nick matanya tak lepas memandang toko bunga.
"Pak, pertemuan akan di mulai 30 menit lagi, bagaimana? apa kita akan tetap di sini apa segera pergi?" tanya asisten Nick buka suara menatap atasannya.
"Hmmm, kita kesana sekarang," jawab Nick. Fokusnya masih saja pada wanita yang histeris di dalam toko bunga.
"Aku akan kembali lagi setelah pertemuan ini, entah kenapa aku merasa dia Ara ku," batin Nick sangat yakin.
πππ
Kepergian Nick dari tempat nya, Vava menghela nafas lega, berjalan masuk ke dalam toko dan menghampiri seorang pria yang ingin membeli bunga.
Dengan sopan Vava meminta pria tersebut sedikit menjauh dari Ara dengan sedikit pengertian keadaan adiknya tidak sehat dan syukurnya pria itu mengerti.
"Terima kasih dan mohon maaf adik saya pasti membuat Bapak kebingungan dan takut," ucap Vava tulus.
"Tidak masalah Dek, Bapak bisa mengerti, tapi sebaiknya di bawa ke psikiater kasihan jika seperti ini terus," saran pria tersebut kasihan dengan gadis cantik yang malang ini jika seperti ini keadaan mentalnya tidak akan pernah bisa di atasi jika di biarkan lama.
Tapi tidak ada yang bisa ia perbuat seperti yang di kata pria tersebut, karena ekonomi keuangan tidak mencukupi. Hingga 5 tahun ini keadaan Ara dan semakin memburuk dengan trauma menjadi.
"Maafkan aku Ara, aku tidak bisa melakukan apapun. Jika saja aku punya uang aku sudah pasti membawa mu ke psikiater agar dirimu sembuh tidak terus histeris dan melukai diri sendiri karena pria," sedih Vava melihat wanita yang terus saja menangis dengan histeris ketakutan menutup wajahnya.
"Ara tenang lah aku di sini. Tidak akan ku biarkan seorang pun menyentuh mu, percayalah. Aku akan melindungi," dengan lembut Vava mencoba menenangkan Ara menyakinkan.
Tanpa berkata apapun Ara memeluk Vava menyembunyikan rasa takutnya. Tubuh nya gemetar hebat dan seketika tak sadarkan diri.
Di rumah sakit Vava mondar-mandir menunggu dokter yang memeriksa kondisi Ara saat ini.
"Ya Tuhan lindungi Ara, sudah cukup penderitaan yang di alami 5 tahun ini, bukan maksud ku menyalakan Mu atas penderitaan yang di alami Ara, tapi lihatlah keadaannya sekarang sangat menyedihkan, gadis yang malang tidak mengingat keluarganya, bahkan hanya mengingat penderitaan dari pada kebahagiaan meski itu secuil saja." mohon Vava berdoa pada sang kuasa.
__ADS_1
Pintu ruangan di mana Ara di periksa terbuka, dokter pun keluar menghampiri nya.
"Bagaimana keadaan adik saya Dok? adik saya baik-baik saja? tidak ada yang serius kan, padanya? apa perlu di rawat nginap lagi?" tubian pertanyaan beruntun keluar dari mulut Vava khawatir dengan kondisi Ara.
Malah rumah sakit sudah seperti rumah kedua bagi Ara, karena keluar masuk tiada henti.
"Tenanglah, saya akan menjawab satu persatu. Nona Ara sekarang sudah jauh lebih baik, saya barusan menyuntik obat penenang untuk sementara waktu biarkan Nona Ara istirahat dulu dan sebaiknya cepat lakukan tindakan atau keadaan Nona Ara semakin memburuk dan sulit untuk di sembuhkan. Mungkin saat ini masih bisa di atasi, tapi namanya musibah tidak ada yang tau. Saran saya untuk saat ini hindari yang nama pria dari Nona Ara, meski itu dari jauh maupun dekat," jelas Dokter yang setia menangani kondisi Ara sejak masuk hingga sekarang.
"Baik jika seperti itu. Apa saya sudah bisa melihat adik saya?" tanya Vava.
"Silakan, pasien sudah bisa di jenguk," jawab Dokter dengan senyuman di wajah melihat Vava tidak sabar dan langsung masuk begitu saja tanpa mempedulikan nya lagi.
Sedangkan di sisi lain, Nick dalam perjalanan menuju toko bunga, pertemuan nya dengan klien tidak memakan banyak waktu, hingga ia bisa kembali sekarang.
Perjalanan dari tempat pertemuan bersama klien dengan toko bunga tidak jauh hanya sekitar 20 menit jika mengendarai mobil.
"Kenapa sepi?" tanya Nick pelan melihat toko buka tidak seperti awal.
"Mungkin saat ini Nona Ara drop dan Nona Vava membawa ke rumah sakit seperti biasa," jawab pria tersebut tidak lain sopir Nick mendengar pertanyaan atasannya.
"Rumah sakit? apa kau tau rumah sakit nya di mana?" khawatir Nick entah kenapa perasaan nya menjadi tak karuan.
"Iya Tuan, apa Tuan ke sana?" tanya nya meski ada rasa penasaran pada Tuan nya mendadak menjadi aneh seperti ini.
"Hmmm, antar kan saya kesana sekarang," perintah Nick dengan wajah datar tanpa ekspresi.
Dalam perjalanan tiada henti Nick berdoa pada sang kuasa. Entah doa apa yang di panjatkan itu hanya author dan Nick yang tauπ
...Bα΄Κsα΄α΄Κα΄Ι΄Ι’......
__ADS_1
...β¨____________ πΌπΌ_______________β¨...