
π»H 4 P P Y R 3 4 D I N Gπ»
πΉβ¨πβ¨πΉ
Setelah kejadian di kantor memutuskan Ara meninggalkan Nick, sudah hari ke 2 mereka belum bertemu lagi.
Nick sudah mengabari Ara untuk beberapa hari kedepan entah berapa hari itu ia tidak bisa menemukan Ara, karena ada urusan kerjaan di luar kota.
Ara tidak mempersalahkan itu, ia sudah biasa mendengar hal seperti itu pada Kakak nya yang mungkin bisa di kata setiap hari meminta ijin dengan alasan sama yang di katakan Nick.
Saat ini Ara duduk di kantin menikmati makan dan tentu makanan yang di nikmati di traktir Nila.
"Nila, Kak Nick ada rencana lanjut s2 gak?" tanya Ara.
"Hmmm, gak tau coba aja tanya sama orangnya, emangnya kenapa?" tanya balik Nila penasaran.
"Enggak pengen tanya aja," jawab Ara santai.
"Aneh, apa karena lo dengar gosip mahasiswa baru yang lanjut s2 di kampus kita?"
Ara menggeleng kepala.
"Lalu?"
"Boleh nambah lagi gak?" ucap Ara melihat bergantian pada mangkok bakso dan juga Nila.
"Lo ya..." kesal Nila mencoba sabar tidak mengamuk. "Silakan," sambung nya lagi.
"Thanks Nila, sayang deh," senyum Ara senang, lalu beranjak bangun.
Langkah Ara begitu cepat tanpa menoleh kiri kanan, hingga menabrak seseorang.
Brak...
Tubuh Ara hilang keseimbangan dan hampir terjatuh tapi dengan gerakan cepat orang tersebut menarik dan terjatuh di atas tubuh nya.
Banyak pasang mata di kantin menyaksikan adegan romantis Ara dan orang tersebut. Semua pada histeris, iri pasti ada.
Tatapan orang tersebut begitu dalam menatap Ara. Wajah cantik Ara pipi tembem yang menambah kecantikan dua kali lipat sangat memukau, bibir tipis menggoda, hidung mancung benar-benar sempurna Ara di mata pria.
"Cantik," ucap nya dalam hati tak lepas dari wajah Ara.
Ara tersadar dan segera bangun.
"Maaf, aku gak sengaja hingga menabrak Kakak," tulus Ara tidak enak hati.
"Selain cantik gadis ini sangat sopan, gadis yang langkah," ucap nya dalam hati tidak berkata langsung, kagum pada Ara.
"Tidak masalah, siapa namamu?" tanya orang tersebut tanpa peduli semua mata kini tertuju pada mereka, ia malah mengajak kenalan.
__ADS_1
Pertemuan pertama dengan Ara, ia langsung jatuh hati pada Ara entah bagaimana bisa ia tidak tau jangan tanyakan itu padanya.
Tentu ajakan kenalan orang tersebut membuat Ara mengerutkan kening bingung. Seharusnya pria tersebut marah, karena keteledoran nya tapi malah berlaku baik. Sungguh aneh.
"Hei kenapa? siapa nama mu?" tanya ulang orang tersebut melihat Ara diam bengong berdiri di tempat nya.
"Namaku Ara," jawab Ara.
"Nama yang cantik seperti orang nya," ucap nya tersenyum.
Ara balas tersenyum mendengar ucapannya. Dan ia baru tersadar tujuan nya tadi ingin memesan makan.
"Saya harus segera pergi sekali lagi saya minta maaf, ucap Ara lagi dan beranjak pergi. Namun tangan nya di tahan seseorang.
"Tunggu," cegah orang tersebut memengang pergelangan tangan Ara.
"Ada apa Kak?" Ara berbalik menaikan alis menatap orang tersebut.
"Minta no telpon mu," ucap nya sambil menyodorkan ponsel pada Ara.
"Untuk apa?" kaget Ara bingung dengan pria di depan nya.
"Kalau tidak ingin, saya tidak memaksa. Maaf jika saya lancang," ucap nya.
"Tidak seperti itu Kak, mana," Ara mengambil ponsel pria tersebut dan mengetik nomornya.
"Ini," menyodorkan ponsel kembali setelah selesai.
πππ
Nila menunggu Ara belum kembali juga menjadi tidak tenang dan ingin menyusul Ara. Tapi saat bangkit orang yang di khawatirkan muncul dengan dua mangkok bakso di atas nampan.
"Dari mana aja sih lo? kenapa baru kembali?" tanya Nila pada Ara meletakkan makanan nya di meja.
"Aku nabrak orang tadi makanya lama," jawab Ara.
"Apa dia marah?" cemas Nila pada Ara.
"Tidak, dia bahkan ajak kenalan dan minta nomor HP ku tadi," jawab Ara enteng mulai menikmati bakso nya.
"What! terus lo kasih?" kaget Nila dengan suara cempreng nya.
"Hmmm," jawab Ara dengan berdehem.
"Dasar bego, kenapa di kasih?"
"Emang kenapa? dia gak jahat kok."
"Benar kata orang sekali bodoh akan tetap bodoh sampai kapan pun gak bakal bisa pintar," batin Nila tidak tau harus berkata apalagi menghadapi kepolosan Ara.
__ADS_1
Kedua menikmati makanan dengan lahap tanpa ada obrolan lagi, Nila bingung harus menceritakan ini pada kakaknya atau tidak. Ia di beri amanah untuk menjaga Ara dan apapun yang terjadi pada Ara harus di ceritakan padanya.
"Hai, apa boleh saya duduk di sini?" tanya seseorang berdiri di dekat meja Ara dan Nila duduk.
"Silakan," ucap Nila, sedangkan Ara tidak mengatakan apapun mulut nya penuh dengan makanan.
Seseorang tersenyum senang, " Terimakasih," ucapnya dan duduk di samping Ara.
Ara tidak memperhatikan orang tersebut, makanan di depan mata tidak pernah bisa membuat nya mengalihkan pandangan.
Berbeda hal dengan seseorang yang duduk di samping Ara tersenyum menatap Ara yang tidak berpindah dari makanannya.
Nila menyadari itu sedikit curiga dengan pandangan orang tersebut.
"Kakak baru ya di sini?" tanya Nila buka suara matanya tak berpindah dari orang tersebut sejak memandang Ara.
"Iya, saya baru di sini. Kenalkan nama saya Dirli pindahan dari New York sedang melanjutkan studi Manejemen s2," ucapnya mengenalkan diri.
"Saya Nila, prodi Akuntansi semester 1. Dan sebelah kakak namanya Ara teman saya kita sama satu prodi," ucap Nila.
"Hmmm, saya sudah mengenal Ara," kata Dirli.
Ara yang namanya di sebut langsung menoleh penasaran, pasalnya ia tidak pernah kenal dengan kakak semester apalagi menginjak di perguruan tinggi S2.
"Hai," sapa Dirli saat Ara menoleh padanya.
"Kakak ngapain di sini?" tanya Ara tidak mempedulikan sapaannya. Ia bingung bagaimana pria tersebut berada bersama mereka.
"Kenapa? tidak boleh saya di sini? ya sudah saya pindah saja, maaf membuat kalian tidak nyaman," Dirli beranjak bangun dan saat akan pergi di cegah Nila cepat.
"Kak tunggu. Jangan masukin hati teman saya Ara tidak bermaksud seperti itu," ucap Nila merasa tidak enak sepertinya pria di depan mereka juga tidak jahat kelihatan baik, sudah gitu tampan gak kalah sama Kak Nick 11, 12.
Nila melirik Ara memberi kode agar mengatakan sesuatu. Ara tidak mengerti maksud kode Nila hanya menatap.
Tapi lagi dan lagi Nila melirik bergantian padanya dan pria bernama Dirli.
"Nila kenapa? suka ya sama Kak Dirli? kenapa harus lirik gitu langsung katakan saja," ucap Ara tidak mengerti malah salah mengartikan lirikan Nila.
"Dasar bego, pengen gue tutup tuh mulut," kesal Nila tersenyum canggung pada Dirli dengan ucapan Ara barusan.
"Gak usah dengar apa yang dikata Ara. Silakan duduk Kak kita sama sekali gak terganggu," Nila mempersilahkan Dirli untuk kembali duduk.
"Apa tidak masalah?" tanya Dirli ragu memastikan.
"Tidak, bukan begitu Ara?" tekan Nila di akhir kata menatap Ara tajam.
"Hmmm, tidak masalah asal tidak ganggu makan ku saja," sahut Ara santai kembali mencicipi makanan nya.
"Hehehe, udah biasa kayak gitu gak usah di pedulikan kak, orang nya hobi makan."
__ADS_1
...Bα΄Κsα΄α΄Κα΄Ι΄Ι’......
...β¨____________ πΌπΌ_______________β¨...