Wanita Kesayangan CEO Dingin

Wanita Kesayangan CEO Dingin
Kenapa Harus Aku


__ADS_3

Assalamualaikum kak, Yuk mampir.


Di novel baruku, berjudul: Kenapa Harus Aku.


ceritanya bebas dari pelakor😁



Kehidupan tak seindah yang di bayangkan, Chiara tak pernah merasa kebahagiaan, sejak kecil hidup nya penuh dengan siksaan dari Paman dan Bibi yang selalu memperlakukan nya seperti pembantu.


Sedikit kesalahan yang di lakukan tidak sengaja, hukuman tak segan mereka berikan padanya. Meski tangisan memohon ampunan Chiara lakukan tidak ada yang peduli.


"Ampun, Paman... sakit... " tangis Chiara kesakitan di pukul Paman Baren dengan sapu ijuk.


"Apa peduli saya kalau kau kesakitan? mati pun tidak masalah," ucap Paman Baren tidak peduli terus memukuli.


"Hiks... sakit Paman.... "


"Kau sejak tadi terus menangis, kau pikir dengan air mata mu itu saya akan mengasihani mu? tidak, kau salah besar. Kami membesarkan mu agar dapat membantu keekonomian keluarga kami tidak lebih dari itu, jadi jangan mengharapkan apapun," tegas Paman Baren dengan tega tanpa mempedulikan perasaan Chiara yang sedih mendengar itu.


Chiara tak menyangka Paman kandung nya sendiri berkata hal seperti ini. Chiara berpikir Paman dan Bibi merawat nya sejak kecil karena sayang, tapi ternyata salah. Kedua orang tua yang sudah di anggap orang tuanya sendiri tidak pernah menganggapnya keluarga melainkan seorang pembantu.


"Hiks... hiks... hiks... kenapa Paman berkata seperti itu? apa salah Chiara? Chiara keponakan Paman," tangis Chiara sekujur tubuh nya terasa sakit terus di pukuli Paman.


Dan Bibi dan Aida sepupunya menyaksikan Paman memukulinya memasang wajah bahagia seperti sedang menyaksikan drama yang seru.


"Ck, masih tanya lagi, kau tidak sadar apa kesalahan mu itu sangat banyak. Kau sudah merebut Sky dari ku, dasar murahan!" maki Aida ikut memukuli Chiara. Tanpa rasa kasihan dia menendang Chiara.


"Auwh... sakit Aida... " ringis Chiara kesakitan.


"Ini tidak seberapa dengan sakit yang saya rasakan murahan! sakit yang saya rasakan lebih dari apa yang kau rasakan," tidak peduli Aida.


Dia sangat membenci Chiara, sejak kecil sepupunya selalu menjadi nomor satu di sekolah, dan dia menjadi nomor dua, tentu hal itu yang paling tidak di sukai Aida.


Hidup Chiara tidak pernah tenang di buat, dimana ada celah untuk Aida mencelakai Chiara dia pun melakukan tanpa peduli tindakan yang di perbuat itu berlebihan atau tidak.


Satu hal yang Aida tau, penderitaan Chiara adalah kebahagiaan terbesar untuk nya.


"Aku minta maaf sudah menyakiti mu, sumpah aku tidak tau selama ini kau menyukai Sky, aku hanya menganggap Sky sahabat tidak lebih, percayalah," Chiara menyakinkan Aida untuk percaya yang di katakan.


"Murahan seperti mu, mana ada yang percaya? kau begitu pandai bersilat lidah bisa saja apa yang kau katakan barusan adalah kebohongan untuk menutupi kebohongan lainnya," tidak percaya Aida. Chiara yang tak berdaya sudah terduduk, tangan nya di injak Aida dengan sepatu yang di kenakan.


"Akkkk, sakit!" jerit kesakitan Chiara tangan nya di injak dengan kuat.


"Ups... maaf. Sengaja saya injak," senyum bahagia Aida tanpa rasa bersalah.


"Sudah hentikan seperti ada tamu di depan."


Mendengar bel di depan, Heidi Bibi nya Chiara menghentikan pertunjukan yang seru untuk segera melihat tamu di depan.


"Hei murahan, cepat masuk ke kamar mu jangan pernah menampakkan dirimu sebelum di panggil, cepat pergi!" usir Aida menendang punggung belakang nya dengan kuat.


Dengan langkah tertatih-tatih Chiara pergi, dia tidak tahan dengan rasa sakit di sekujur tubuh dan juga tangan yang di injak.


Rasanya dia ingin menyerah, siksaan demi siksaan di lalui sudah membuat nya lelah. Chiara tidak memiliki banyak kekuatan lagi sekarang.


"Hiks... hiks... hiks... Bunda, Ayah, Chiara tidak kuat, Chiara ingin ikut, ajak Chiara bersama kalian..." isak Chiara berjatuhan air mata.


"Kenapa harus aku yang mengalami ini? kenapa? aku bukan wanita kuat, aku lemah, aku tidak memiliki kekuatan untuk melawan, hiks... hiks.... "


 


"Tuan Abel, mari duduk," sopan Paman Baren tunduk terlihat ketakutan di wajah nya dengan kedatangan orang berkuasa di rumah kecilnya.


"Saya tidak mau berlama-lama di sini, kapan kau melunasi utang mu?" tanya Abel dengan sorotan mata yang tajam siap menerkam pria di hadapan nya.


"Berikan saya waktu Tuan, saya janji secepatnya akan melunasi," mohon Baren, menunduk memeluk lutut Abel minta belas kasihan.

__ADS_1


"Ck, menjauh lah! kau dari kemarin terus meminta waktu setiap di berikan bukan berusaha melunasi, malah mempersulit. Kau pikir kau siapa bisa permainan kan saya? saya bisa saja membunuh mu hari ini jika mau, tapi nyawa mu masih terlalu murah dengan uang yang kau pinjam, jadi cepat cari cara untuk melunasi atau nyawa istri dan anak mu ini taruhannya," ancam Abel serius menatap kedua wanita di samping Baren.


Aida yang awal sempat terpesona dengan ketampanan Abel bagaikan pangeran, mendadak sirna. Ancaman Abel membuat nya susah menelan saliva. Selain tampan pria yang mendatangi rumah mereka juga menakutkan saat marah, tatapan mata yang tajam ketika menatap sangat menyeramkan.


"Ya Tuhan dia begitu tampan, tapi juga menakutkan," batin Aida.


"Turun kan pandang mu dari saya, murahan!" bentak Abel. Dia paling tidak suka ada seorang wanita menatap nya. Apalagi dengan tatapan memuja itu sangat menjijikkan.


Aida ketakutan mendengar suara tinggi Abel, cepat menundukkan kepala. Seumur hidup nya tidak pernah ada seorang pun meninggikan suara padanya, tapi lihat sekarang ada.


"Ajarin putri mu yang murahan ini untuk tidak menatap saya lebih dari 1 menit, kali ini saya maafkan tapi lain kali tidak, saya tidak segan membunuh nya langsung," Abel memperingati Baren malas melihat Aida yang bagi nya wanita murahan, lihat saja dari pakaian yang di kenakan begitu terbuka seperti kekurangan bahan.


"Otton," panggil Abel menggerakkan jari telunjuk maju mendekat.


"Iya Tuan," sahut Otton berjalan mendekat.


"Awasi mereka jangan sampai tikus got ini melarikan diri, perintahkan semua anak buah kita untuk berjaga di sini. Dan tahan putri kesayangan mereka ini di ruang bawah tanah," perintah Abel.


"Jangan Tuan putri saya tidak tau apapun,


lepaskan dia. Saya janji dalam bulan ini akan melunasi semuanya," janji Baren entah darimana akan mendapatkan uang sebanyak itu tidak di pedulikan sekarang terpenting menyelamatkan putri nya dari pria jahat seperti Abel.


Abel terkenal sebagai pria tak berperasaan, besar kecil pria wanita semua di hajar tanpa belas kasihan. Baren mengetahui itu dia yakin Abel tidak akan segan bahkan tanpa berpikir panjang menyakiti Aida.


"Lakukan saja tidak perlu banyak janji, putri mu akan aman saya tidak akan menyentuh nya dia bukan tipe saya. Meski sekali pun tak mengenakan sehelai benang di tubuh nya saya tidak akan tertarik," ucap Abel seolah Aida adalah sampah tidak begitu jorok untuk di sentuh.


----------------


Abel pergi meninggalkan kediaman keluarga Baren, suasana hatinya menjadi semakin buruk, pertemuan kali ini membuat nya ingin menghancurkan apa yang berada di dekatnya.


Melihat wanita menjijikkan tadi membuat mood nya rusak, tidak pernah terpikir akan seburuk ini.


Sepanjang perjalanan pulang wajah nya tidak berubah.


"Tuan, apakah tidak sebaiknya kita kita mencari hiburan? situasi seperti ini sangat tepat untuk melepaskan semua hal yang membuat otak tak bisa berpikir tenang," saran Otton asisten pribadi Abel sekaligus tangan kanannya.


"Ck, kau sudah bosan hidup sekarang? berani sekali menawarkan hal menjijikkan seperti itu? ingat saya tidak berniat apalagi terpikir untuk menyentuh wanita manapun, semua wanita menjijikkan," tidak suka Abel dengan namanya wanita.


Tangan nya gemetaran, bulu kuduk berdiri. Suara berat Abel sangat menakutkan. Otton tidak berani berbicara, mulut nya di tutup rapat agar tidak melakukan kesalahan lagi.


"Sekali kau mengulangi lagi tidak ada kata maaf. Kepala mu akan berubah posisi," ancam Abel tidak peduli ketakutan Abel.


"Tidak Tuan, ampun kan saya. Ini benaran yang terakhir," takut Otton keringat bercucuran. Setiap Abel berkata tidak ada yang tidak pernah di lakukan.


"Bagus, ke kantor sekarang masih ada yang harus saya kerjakan di sana," perintah Abel.


"Siap Tuan."


 


Di tempat lain...


Seorang wanita cantik menangis dengan rasa sakit di sekujur tubuh, tertidur. Chiara wanita cantik bernasib buruk yang tak memiliki nasib secantik wajah nya.


Siksaan dan air mata sudah seperti makanan hari-hari nya, tanpa semua itu hidup akan terasa kurang lengkap.


"Hei, bangunlah wanita pemalas, kau sejak tadi enak-enakan tidur di sini dan kami di luar menderita," Aida menyiram segelas air di wajah tenang Chiara. Rasa kesal nya pada Abel di luapkan semua meski wanita tersebut tidak bersalah.


Melihat ketenangan Chiara, salah satu hal yang di benci nya. Seumur hidup dia tidak akan membiarkan Chiara hidup tenang.


"Kau tidur seolah hidup mu sangat menyenangkan, cepat bangun masakan kami makanan," Abel menarik rambut panjang Chiara dengan kuat.


"Auwh... sakit Aida... lepaskan ini sakit... " mohon Chiara kesakitan minta di lepaskan.


"Sakit? itulah hal yang saya inginkan. Wanita seperti mu pantas mendapatkan semua ini," tidak peduli Aida menarik makin kuat. Tangisan kesakitan Chiara adalah nyanyian lagu favorite nya dan dia sangat menyukai itu.


"Aida ku mohon lepaskan... "

__ADS_1


"Kau sangat cengeng, apa di hidupmu itu hanya menangis yang bisa kau lakukan? dasar murahan!" marah Aida seketika kejadian tadi kembali mengingatkan nya denger perkataan itu. "Dia mengatakan ku seolah sudah melihat ku berhubungan saja, lalu bagaimana dengan mu jika sudah di lihat? apa akan sama? atau lebih buruk yang di katakan?" sambung nya lagi masih tidak terima mengenai hinaan Abel padanya.


"Karena kau kehidupan keluarga ku menderita seperti ini, sekarang kau harus bertanggungjawab jawab."


Tanpa peduli dengan tindakan nya sudah membuat Chiara kesakitan, Aida menarik kuat keluar Chiara menuju kamarnya.


Aida tidak mau menjadi tahanan Abel, dia tidak tau hidupnya akan menjadi apa jika berada dalam aturan nya. Hingga keputusan pun di ambil tanpa berpikir panjang dari mana mereka bisa melunasi utang pada Abel.


Perjanjian yang di beri waktu satu minggu begitu singkat, Aida tak kehabisan otak untuk mencari jalan keluar agar terlepas dari siksaan yang berada di depan mata.


"Apa ini Kak? aku gak mau, jangan memaksa ku mohon," tolak Chiara tidak mau menggenakan pakaian yang diberikan Aida. Dia merasa pakaian itu sangat buruk dan itu tidak pantas untuk kenakan.


"Hei saya tidak meminta mu menyetujui, menolak atau pun tidak saya pedulikan kau akan tetap melakukan. Keinginan saya tidak bisa di tolak," Aida menarik Chiara dan memaksa menganti pakaian yang sudah di pilih kan.


"Tidak, tidak mau Aida. Jangan melakukan ini. Aku akan melakukan apapun yang kau minta asal tidak seperti ini," mohon Chiara berharap Aida mengerti.


"Apapun, maka lakukan yang ini, karena hanya ini yang bisa mendapatkan uang dengan cepat. Kau cukup memberi kepuasan pada mereka, semua beres uang pun masuk," ucap Aida enteng tidak mempedulikan Chiara yang memohon.


"Tidak Aida. Aku tidak mau... " Chiara terus menolak, berontak dengan kekuatan yang di punya untuk terlepas dari Aida. Tapi sayang semua hanya sia-sia saja. Kekuatan nya kalah jauh dari Aida.


Keadaan yang belum pulih setelah penyiksaan tadi, Chiara hanya bisa menangis meratapi hidup nya yang buruk.


"Pas, seperti ini kau terlihat cocok. Kenapa tidak dari dulu saja saya kepikiran hal ini? sudahlah tidak masalah terpenting semua masih belum terlambat kau masih bisa melakukan itu sekarang," senyum Aida senang melihat ketidakberdayaan Chiara.


"Aida, ku mohon jangan melakukan ini... Aku akan bekerja apapun asal halal, tapi tidak seperti ini," mohon Chiara.


"Kau pikir jaman sekarang masih ada kerjaan yang halal menghasilkan uang banyak? tidak, jadi lakukan apa yang saya katakan. Jangan coba kau melakukan hal yang dapat membuat saya marah, mengerti itu?" ancam Aida mencengkram dagu Chiara dengan kuat.


"Tidak, aku tidak mau. Lepaskan."


Namun bukan Aida jika menuruti, dia terus menarik paksa Chiara keluar kamar, menuju ruang tamu.


Di sana sudah ada pria yang menunggu mereka.


"Wah.. lihat Tuan Hans, wanita mu sudah datang," ucap Bibi Heidi menyambut kedatangan putri nya yang membawa Chiara.


Chiara terlihat seperti wanita malam, Aida memaksa Chiara memakai dress pendek memperlihatkan buah da**. Paha jenjang putih dan mulus Chiara begitu indah menggoda.


Pria yang menanti kedatangan Chiara terpesona, dia tidak menyangka foto yang di kirim Aida lebih dari cantik yang terlihat di foto.


"Dia sangat cantik, Nyonya. Saya menyukai nya hanya dengan sekali pandangan. Saya rasa akan puas," ucap Hans tersenyum nakal berjalan mendekat dan merangkul pinggang Chiara.


"Kau begitu memukau sayang, puaskan aku di ranjang aku sudah membayar mu mahal hari ini," bisik Hans tanpa malu menghirup harum tengkuk leher Chiara.


"Lepaskan, saya tidak melakukan ini. Saya mohon," berontak Chiara tidak mau.


"Kenapa, apa kau takut? jangan takut aku akan melakukan lembut. Kita bisa bersenang-senang," goda Hans tidak peduli. Sesuatu yang sudah di beli dengan mahal tidak akan di lepaskan sebelum mendapatkan yang di inginkan.


"Benar Tuan, sekarang bersenang-senang lah. Jika belum puas silakan, tapi jangan lupa bayarannya," ucap Bibi Heidi mata duitan. Tanpa memikirkan apa yang akan terjadi pada keponakannya setelah menghabiskan malam berdua bersama pria.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...PENGUMUMAN!...


Berhubung sekarang lagi ramadhan, author akan adakan Giveaway dan pengumuman nya akan di beritahu di Instagram. @auliarisa05.


Syarat nya mudah bagi yang mau ikutan.


Cukup upload salah satu cover novel author yang kalian suka Di IG masing-masing, dan tulis sedikit cerita yang mana membuat kalian suka, pastikan sebelum upload untuk tag author.


Pengumuman pemenang akan di lakukan di malam takbiran di tanggal 20🤗


Hanya ada Tiga Dia pemenang kali ini yang di pilih.


Juara 1: Mukenah


__ADS_1


Juara 2: satu set, tas, dompet, sepatu, jam dan kacamata.



__ADS_2