
π»H 4 P P Y R 3 4 D I N Gπ»
πΉβ¨πβ¨πΉ
Perjalanan menuju Vila memakan waktu 3 jam, selama itu juga Nick tidak mengeluarkan sepatah kata pun.
Dia marah dan kecewa pada Ara, padahal yang lakukan itu semua bukan untuk dirinya melainkan untuk Ara, tapi Ara tidak mematuhi itu.
Setiba di Vila Nick lebih dulu keluar meninggalkan Ara, Ara belum menyadari jika saat ini Nick marah padanya.
Berbeda dengan Nila dan kedua sahabat Nick mereka menyadari itu.
"Wah, tempat nya sangat indah, Nila sudah berapa kali ke sini?" mata Ara menatap takjub pemandangan Vila yang indah.
"Beberapa kali dan kalau tidak salah ini sudah ke 5 kali," jawab Nila mengingat dan melihat pemandangan yang semakin hari semakin cantik.
Udara di vila begitu segar banyak pepohonan dan bunga bermekaran di sini.
"Benar kah? Aku baru pertama ke sini, bahkan ini pertama kali aku jalan-jalan tanpa pengawasan kakak," ucap Ara wajah nya terlihat begitu bahagia.
"Ya gue tau itu, tapi sekarang bukan waktu nya mengagumi pemandangan sekarang yang lebih penting kau hampiri Kak Nick sepertinya dia sedang marah padamu, cepat sana sebelum ada perang ke tiga," usir Nila mendorong pelan Ara segera pergi menyusul kakaknya.
"Why? apa kesalahan ku Nila? kenapa sampai ada perang ketiga sudah seperti perang jaman dahulu saja, aneh deh Nila" ucap Ara.
"What! kau bilang gue aneh? hello... Ara kau benar-benar menyebalkan," kesal Nila pusing dengan Ara.
"No, I am fungsi annoying Nila," kata Ara tak mau kalah.
Kedua dari mereka tidak ada yang ingin mengalah, suara mereka bahkan terdengar sampai dalam, Nick yang sedang duduk di sofa bersama kedua sahabat nya menjadi terganggu.
"Ada apa dengan mereka kenapa begitu berisik," ucap Geri bangun dari duduk nya.
"Kita keluar saja lihat apa yang terjadi di depan," usul Alex.
"Lo gak ikut Nick?" sambung nya melihat Nick tidak berpindah dari duduk nya.
"Tidak, kalian saja," jawab Nick.
"Ya sudah kita ke depan dulu."
Lalu kedua pria tersebut pergi meninggalkan Nick sendiri dan menghampiri Nila dan Ara yang masih debat.
Perdebatan yang kecil tapi suara sudah begitu mengalahkan toa masjid.
__ADS_1
"Nila menyebalkan, kan sudah ku bilang aku khilaf. Mana ada khilaf harus ingat," kata Ara.
"Khilaf? dasar bego sejak kapan kau khilaf Ara? kau lupa di kantin kampus kau sering melakukan kesalahan dengan memesan makanan, padahal kau tau makanan itu tidak bisa kau makan," ucap Nila mengingatkan Ara.
"Kata siapa gak bisa? aku bisa kok palingan nanti cuman gatal-gatal doang seperti di gigit nyamuk," sahut Ara enteng.
"Kau ya Ara dari tadi ada saja jawaban nya," gemas Nila dengan sahabat nya.
"Kalian ini kenapa sangat berisik? sadar gak sih suara kalian berdua itu sampai kedengaran di dalam dan kita sangat terganggu," kata Geri saat tiba di antara mereka dan di ikuti Alex di samping nya.
"Kak Geri jangan salahkan aku, salahkan saja Nila. Semua karena Nila dia sangat menyebalkan," ucap Ara dengan wajah sebal tidak terima di kata berisik.
"Hey enak saja kau salahkan gue, lo yang tuh yang salah," bantah Nila tidak terima.
"Menyebalkan Nila menyebalkan," Ara lelah terus berdebat dengan Nila. Perutnya sedikit tidak enak sekarang.
Tanpa berkata lagi, ia pergi meninggalkan mereka menuju Vila.
Perutnya terasa sedikit sakit, ia sendiri tidak tau kenapa dengan perutnya. Tiba di dalam ia melihat Nick dan menghampiri nya.
"Kak, kamar ku ada di bagian mana?" tanya Ara tanpa basa-basi berdiri di depan Nick.
"Di lantai 2 pilih saja mau kamar yang mana," jawab Nick tanpa menatap Ara, mata nya tertuju pada layar ponsel di genggaman nya.
Nick melihat Ara pergi tanpa merasa bersalah menatap tajam punggung belakang wanita nya.
Masih saja dia bersikap santai seperti tidak melakukan kesalahan, Nick benar-benar di buat tidak percaya dengan sikap malas tau Ara.
Nick mulai berpikir apa Ara tidak sadar atau bagaimana? kepergian Ara menghentikan nya dari kesibukan sesaat.
πππ
Ara tiba di lantai dua dan memiliki kamar setelah memutuskan kamar mana yang akan ia tepati semalam ia langsung masuk dan mengunci pintu.
"Perut ku kenapa? kok rasanya tidak enak," lesuh Ara duduk di tepi kasur dengan tangan memengang perut.
Lama berdiam diri di kamar, rasa sakit di perut semakin kuat, keringat bercucuran di wajah.
Ara berbaring di kasur dengan posisi meringkuk. Hal itu memang sering ia lalu saat merasa tidak nyaman pada perut.
"Huftt.... " menghembus nafas dalam-dalam, Ara mencoba tenang.
"Aku pasti bisa, tapi... aku tidak kuat lagi ini sangat sakit."
__ADS_1
Sedangkan di ruang bawah Nila duduk bersama Nick dkk. Sudah 30 menit Ara belum juga keluar dari kamar, Nick menjadi tidak tenang ia khawatir entah kenapa perasaan nya merasa aneh.
"Kenapa Ara tidak turun juga?" tanya Nila.
"Entahlah, apa Ara lagi marah sama lo Nila," kata Geri.
"No, tidak mungkin, gue kenal seperti apa Ara. Ara bukan wanita yang pendendam, apalagi marah hanya hal kecil begini, kami sudah sering berdebat seperti ini," sahut Nila.
"Lalu kenapa Ara belum keluar?" timpal Alex bertanya pada Nila.
"Entahlah gue sendiri gak tau," menaikan bahu tidak tau kenapa Ara belum turun.
Nick menyimak obrolan mereka tanpa ikut nimbrung, perasaan nya makin tak tenang sekarang, hingga memutuskan untuk mengecek Ara di kamar nya.
"Kakak mau kemana?"
"Cek Ara, kalian di sini saja," kata Nick, lalu kembali jalan menaiki anak tangga menuju kamar Ara.
Setiba di depan kamar Nick mengetuk pintu.
"Ara," panggil Nick dari luar.
Namun tidak ada sahutan dari dalam, Nick kembali memanggil lagi, tapi jawaban nya tetap sama.
Nick mencoba masuk, karena Ara tidak menyahuti panggilan nya, ia memegang gagang pintu dan segera membuka tapi alangkah kaget nya ia pintu tidak dapat di buka, pintu di kunci dari dalam.
Nick menjadi cemas takut Ara kenapa-napa.
"Ara buka pintu nya ini aku Nick. Kamu baik-baik saja, kan di dalam?" Nick terus mengetuk pintu, suara nya sudah tak bisa di kondisikan lagi.
Nila dan kedua pria tersebut saling pandang mendengar suara Nick di atas.
Mereka langsung bangkit dengan cepat menyusul naik ke atas.
"Kakak ada apa? kenapa berteriak seperti ini?" tanya Nila ketika mereka tiba di depan pintu bersama Nick.
"Ambil kunci serep kamar ini cepat," perintah Nick cemas tidak menjawab pertanyaan sang adik.
"Tapi kak, sebenarnya apa yang terjadi?" Nila masih belum ingin beranjak pergi, ia masih sangat penasaran.
"Cepat Nila jangan banyak tanya ambil kunci serep nya," marah Nick sedikit kesal pada Nila banyak tanya di situasi menegangkan seperti ini.
...Bα΄Κsα΄α΄Κα΄Ι΄Ι’......
__ADS_1
...β¨____________ πΌπΌ_______________β¨...