Wanita Kesayangan CEO Dingin

Wanita Kesayangan CEO Dingin
Bab 8: Satu meja


__ADS_3

🌻H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻


🌹✨💞✨🌹


Keesokan hari.


Ara tiba di sekolah dengan pakaian rapi, hari ini ia di antar Yanto, Yudha dan Johan pagi-pagi sudah berangkat kerja.


"Kakak akan jemput pulang nanti, belajar yang rajin. Jangan jajan sembarangan makan tepat waktu, oke," pesan Yanto lembut mengecup kening Ara.


Cup.


"Baik Kak," senyum Ara menampilkan deretan gigi putih nya.


"Sana masuk, kakak akan lihat dari sini baru pergi."


"Oke."


Ara berjalan pergi meninggalkan sang kakak. Dan tak lama kemudian Yanto melajukan mobil pergi meninggalkan area kampus.


Dalam perjalanan Ara berpapasan dengan Nick, dengan cepat ia menundukkan kepala. Nick menyadari itu tidak peduli terus berjalan melewati Ara tanpa menyapa seperti biasa sifatnya cuek, dingin dan datar.


"Huftt," Ara menghela nafas lega dan melangkah cepat masuk ke kelas.


15 menit lagi kelas akan di mulai, ia tidak ingin terlambat karena dosen yang mengajar di jam kuliah hari ini sangat kejam tak memberi toleransi apapun itu.


Setiba di kelas Ara langsung masuk duduk di bangku biasa ia duduki bersama Nila. Dan di sana sudah ada Nila.


"Kenapa baru lihat hantu sampai ngos-ngosan gini," ledek Nila melihat Ara menarik nafas setengah-setengah.


"Nila ini lebih seram dari hantu, oh iya dosen belum masuk, kan?" Ara menoleh kiri kanan memastikan.


"Belum masih ada 12 menit lagi," sahut Nila.


"Syukur lah," Ara bernafas lega.


"Sekarang cerita kan apa yang terjadi? maksud nya lebih seram dari hantu itu apa?" tanya Nila kepo menatap serius Ara yang diam terlihat bingung.


"Tadi aku ketemu kak Nick, aku sangat takut Nila, dia lebih seram dari hantu dan aku selalu berdoa pagi siang, sore dan malam untuk tidak bertemu dengan nya, tapi doa ku tak pernah terkabul aku selalu saja bertemu dengan nya. Itu sangat menyebalkan bukan? aku benar-benar bingung harus apa Nila, aku takut, aku tidak ingin melihat wajahnya, setiap melihat nya aku selalu teringat akan bentakan dan hukuman nya yang membuat ku jatuh pingsan, aku tidak suka itu," terang Ara mengungkapkan apa yang di rasakan.


Tanpa Ara sadari pria yang di katakan itu adalah kakak dari sahabat nya yang mendengar langsung keluh kesah nya.

__ADS_1


Ara tidak menyadari dan terus saja bercerita.


"Nila bisa kah kamu memberi ku ide? kepala ku pusing memikirkan ini sendiri," lesuh Ara menunduk kepala.


"Apa kau benar-benar takut Ara? apa kau tidak bisa melupakan itu?" tanya Nila.


Dia tidak jika selama ini Ara masih trauma hingga takut pada Kakak nya atas kejadian 1 bulan yang lalu.


Bahkan ia baru sadar sekarang pantas kemarin mendadak Ara terdiam menunduk semua karena Nick.


"Tidak Nila, aku tidak bisa melupakan itu. Aku sendiri tidak tau kenapa," sahut Ara jujur.


"Cobalah perlahan Ara, Kak Nick memang orang seperti itu, tapi dia pria yang baik meski sangat menyebalkan," kata Nila.


"Maaf Nila aku tidak bermaksud buruk, aku akan berusaha nanti," Ara menyadari jika pria yang di bicara kan adalah kakak wanita di depan yang mendengar curahan isi hati nya.


"Tidak apa-apa, santai saja. Aku mengerti."


...----------------...


Di kantin.


"Lo kenapa Nick? dari tadi kita perhatikan seperti ada masalah, cerita saja gak usah di pendam siapa tau kita bisa bantu, benar gak Al?" Geri menatap Alex yang mengangguk membenarkan.


"Ya sudah kita gak maksa kalau lo gak mau cerita, tapi kalau lo mau cerita kita siap untuk mendengar."


Nick tidak terlalu menghiraukan perkataan Geri, ia tetap fokus pada makanan nya.


Nila dan Ara sudah menyelesaikan kelas mereka, sekarang kedua akan mengisi perut sebelum kelas berikut di mulai sekitar 30 menit lagi.


Tiba di kantin Nila menggeledah setiap sudut ruang kantin hingga menemukan apa yang di cari.


Nila menarik tangan Ara mengikuti nya tanpa bisa berontak hanya pasrah.


"Hay kak, apa kita bisa duduk di sini?" Nila menatap sang kakak yang acuh pada nya.


"Duduk saja La, gak ada yang larang, ayo," ucap Geri akrab karena semenjak SMA ia sering bermain di mansion Nick.


Terimakasih. Ara kau tunggu sini aku pesankan makanan dulu. Kak aku titip Ara sebentar jangan di apa-apain ni bocah, ok," Nila langsung kabur sebelum Ara mengamuk dengan ucapan nya.


Benar saja saat Ara ingin protes Nila sudah lebih dulu kabur, dan Ara tidak bisa melakukan apapun selain mengurungkan niat nya dengan wajah cemberut.

__ADS_1


Ara benar-benar tidak terima di kata bocah, itu kata-kata yang menyebalkan dalam hidup nya.


Mereka yang berada di meja yang sama dengan Ara melihat wajah Ara menjadi tidak tahan.


"Auwh sakit Kak," Ara meringis kesakitan dan juga kaget dengan cubitan Geri.


"Maaf habis kamu sangat mengemaskan Ara, jika saja aku punya adik seperti mu aku akan senang," jujur Geri menatap Ara.


"Benar kah? tapi aku sudah tau aku mengemaskan karena kakak ku sangat menyayangi ku, dan kakak bisa menganggap ku adik kakak aku tidak keberatan, malah aku senang punya banyak kakak," Ara tersenyum tidak ada kebohongan dari apa yang di katakan.


"Terimakasih Ara kau gadis mengemaskan."


"Ya, aku tau itu kakakku sering mengatakan itu. Karena Kak Geri sudah menjadi kakakku berarti aku memiliki 4 kakak, hore," sorak Ara bahagia.


"4?" ucap Geri ulang mendengar perkataan Ara.


"Ya, kakak kandung ku ada 2 dan 1 sudah ku anggap kakak kandung ku sendiri karena Kak Johan sudah merawat ku sejak kecil dan aku sangat menyayangi nya."


Alex yang sejak tadi diam menjadi pendengar setia sedikit kaget mendengar nama seseorang yang di kenal.


Dia ingin sekali bertanya, tapi di urungkan.


"Tidak masalah aku jadi ke empat asal aku bisa memiliki adik secantik dirimu Ara."


Tak lama kemudian, saking asyik ngobrol Nila sudah datang membawa makanan mereka di tangan nya.


"Ini makanan mu, makan lah," ucap Nila menyodorkan makanan milik Ara di meja nya.


"Terimakasih," Ara langsung saja menyantap makanan nya dengan lahap.


Dia tidak mempedulikan Image sama sekali seperti wanita di luar sana saat makan. Ara menunjukkan dirinya apa adanya, ia tidak pernah menjadi orang lain untuk bisa dihargai.


Bagi nya makan adalah no 1, Image no terakhir setelah ia puas makan.


Dan tanpa di sadari Ara, Nick terus memperhatikan nya begitu lahap memakan santapan.


Senyuman lagi dan lagi terbentuk melihat Ara, tapi tidak ada seorang yang menyadari itu, karena senyum nya sangat tipis.


Meski hati masih merasa sakit dengan apa yang di lihat, tapi hati Nick tidak bisa di bohongin ia tidak bisa tidak memperhatikan Ara. Ara seperti magnet yang menariknya terus memperhatikan nya.


...Bᴇʀsᴀᴍʙᴜɴɢ......

__ADS_1


...✨____________ 🌼🌼_______________✨...


__ADS_2