
"Jangan gampang percaya Al, semua laki-laki emang kayak gitu. Alasannya banyak. Aku gak mau kamu masuk jebakan Dave. Jangan mentang-mentang dia banyak uang bisa seenaknya sama kamu." seru Firly ketika ditelepon olehnya siang itu.
"Sabar Ly, kok kamu yang sewot" ucap Alena sambil tertawa.
"Aku gak bisa sabar kalo menyangkut kamu! Pokoknya jangan gampang percaya!"
"Oke, kak.."
Alena menutup teleponnya sesaat sebelum pintu ruangannya diketuk. Hari ini seharusnya ia masih libur, tapi ia dipanggil oleh direktur rumah sakit.
"Dok, dipanggil." ucap Suster Marisa yang saat itu menggantikan Suster Ana untuk jaga.
Alena hanya mengangguk. Iapun keluar dari ruangan untuk pergi ke kantor direktur.
Pria tua yang bergelar profesor itu duduk dikursi kebesarannya dengan memegang selembar kertas.
"Siang prof.." ucap Alena ketika ia baru saja masuk keruangan direktur.
Pria itu tersenyum ramah. "Kamu lagi libur ya dok?"
"Iya prof.."
"Maaf ganggu liburan kamu. Tapi berhubung kamu bersemangat soal misi kemarin, ini surat pengantar yang
sudah disetujui. Kamu bisa pergi dua bulan lagi untuk menggantikan dokter Adam yang sekarang ada disana."
Alena tersenyum senang. "Baik prof."
"Oh ya, berhubung disana dalam tahap pemulihan, banyak media yang masih meliput. Saya harap kamu bisa menjaga kode etik profesi kita." ucap pria itu tenang. Suaranya sedikit berat karena kelelahan.
"Saya pastikan prof gak akan kecewa." Alena tersenyum senang ketika ia melihat isi surat itu.
"Satu lagi." Pria itu mengeluarkan satu lembar kertas kembali dan menyerahkan pada Alena. "Saya menugaskan kamu untuk menjadi kepala tim calon-calon dokter yang akan dikirim kesana beserta para dokter muda yang baru bergabung dengan beberapa rumah sakit dikota kita."
Alena terkejut. "Kepala tim prof?"
Pria itu mengangguk. "Ya, saya percaya sama kemampuan dokter Alena." ucapnya sambil tersenyum.
Alena terharu. Air mata mulai membayangi matanya. Ma, aku berhasil. Mama bangga kan sama aku?
"Terimakasih prof"
Alena keluar dari ruangan direktur dengan wajah gembira. Ketika ia sedang berjalan di lobi rumah sakit, tiba-tiba ia dipanggil oleh seseorang dari belakang.
"Al!"
Alena membalikkan badannya. Ia terkejut melihat Sandra ada dirumah sakit. "Sandra? lagi ngapain kamu kesini?"
__ADS_1
Sandra berjalan dengan sedikit pincang menghampiri Alena.
"Kenapa kaki kamu?" tanya Alena bingung.
"Kita minum kopi yuk!" ajak Sandra. Alena hanya mengangguk. Mereka berdua pun pergi menuju cafetaria rumah sakit.
"Jadi lagi apa kamu kesini?" tanya Alena sambil melihat kakinya. Seperti tidak terjadi sesuatu. Apakah Sandra kecelakaan? Tapi celana yang dipakainya baik-baik saja. Ia menatap wajah Sandra. Dan terlihat cantik seperti terakhir mereka bertemu.
"Aku lagi kontrol sama Prof Indra."
Alena tahu jika prof Indra adalah dokter ortopedi kebanggaan rumah sakit ini. "Emangnya kaki kamu kenapa?"
"Waktu kecelakaan di Korea beberapa tahun kemarin kaki aku patah, aku sempet dipasang pen. Kalo banyak jalan, kaki aku sakit. Ngilu. Semalem aku pergi jalan-jalan sama anak-anak komunitas Korea. Aku gak mikir punya pen di kaki."
Alena mengangguk. "Calvin tau?"
Sandra tertawa sambil menggelengkan kepalanya. "Buat apa Al? Dia bukan pacar aku. Gak ada urusan sama dia." jawab Sandra sewot
Alena tertawa. "Kok kayaknya sewot banget. Hari ini aku ketemu 2 orang yang sewot."
Sandra terkekeh. "Kamu tau kapan mereka bertiga pulang?"
Alena menggelengkan kepalanya.
"Kamu pacarnya Dave kan? Kok bisa gak tau mereka pulang kapan? Emang kalian gak komunikasi?"
"Enak aja, enggak lah. Kalo gak ada Calvin justru aku tenang. Dikantor gak akan dipanggil tiba-tiba. Diakan aneh." jawab Sandra.
Alena hanya tersenyum melihat Sandra. Mungkin ada sesuatu antara Sandra dan Calvin yang tidak ia ketahui. Tapi, jika Sandra menganggapnya sebagai sahabat, pasti ia akan tahu sendiri.
\*\*\*
Dave masih melakukan meetingnya yang kesekian kalinya dengan investor. Namun ini adalah hari terakhir dan ia hanya tinggal menunggu surat kontrak keluar. Selama hampir dua minggu berada di NewYork, pekerjaan ini telah menguras tenaga, pikirannya dan mengabaikan Alena. Tapi ia senang ketika akhirnya ia sudah mengakui kesalahan dan Alena mengetahuinya, Ia merasa tenang. Hanya saja ia tidak tahu perasaan mereka masing-masing. Tapi yang pasti, sejak ia berpamitan pada Alena dua minggu yang lalu, ia merasa mulai menikmati berhubungan dengan Alena. Walaupun usia hubungan mereka masih sangat muda.
Ia menatap jam tangannya yang telah menunjukkan pukul 12 siang. Sebentar lagi mereka akan beristirahat selama 2 jam sebelum dilanjutkan kembali dengan tanda tangan kontrak.
"Aku mau dikamar aja nunggunya."ujar Dave lelah. Ia melonggarkan dasinya.
"Aku lapar. Kita berdua mau nyari burger di7th street." Jawab Edward.
"Aku gak mau." jawab Dave cepat.
Dave berjalan menuju kamarnya. Ia melihat handphonenya. Ia menatap wajah Alena yang tertera di aplikasi media sosialnya. Wajah Alena terlihat begitu cantik dengan jubah kebesarannya. Disekitarnya terlihat banyak anak kecil yang mengelilinginya. Akhirnya besok ia pulang. Mereka akan bertemu secepatnya.
Ketika ia masuk kekamar, ia duduk disofanya dan mengangkat kedua kakinya keatas untuk diluruskan dan menyandarkan punggungnya disofa. Ia mulai menghubungi gadis itu. Tiga kali nada tidak diangkatnya. Tapi nada keempat diangkat. Thanks god, ucap Dave.
Alena membuka matanya dan menyipitkan matanya. Ia mendengarkan handphone nya berbunyi. Apakah rumah sakit yang memanggilnya? Tanpa melihat siapa yang menelponnya, iapun mengangkat.
__ADS_1
"Halo."ucapnya dengan mata terpejam. Ia lelah setelah seharian pergi dengan Sandra.
"Alena sayangku."ucap Dave menggodanya. Ia tahu jika dinegaranya sekarang sudah pukul 12 malam. Dan ia mengganggu Alena yang sedang tidur.
"Ini siapa?" tanya Alena pelan
"Ini aku sayang. Kamu udah tidur ya?" Jawab Dave mesra namun ia kecewa.
"Dave? Masih inget kamu sama aku?"tanya Alena sambil menguap.
"Baru kemarin aku telepon kamu. Kamu lupa?"
"Iya aku lupa."
Mereka berdua terdiam.
"Udah cuman gitu aja?"tanya Alena pendek.
"Kamu udah bener-bener ngantuk ya? Oke deh, kamu dengerin cerita aku aja. Kalo kamu udah ngantuk, aku mau denger kamu tidur"
"Aku seneng kamu telpon aku." Ucap Alena pelan kemudian tidak ada suara lagi selain suara nafas Alena yang tengah tertidur.
"Cepet banget sih tidurnya. Aku pengen denger suara kamu. Al, aku pengen cerita tentang proyek aku disini. Besok aku pulang. Kamu harus siapin makanan yang aku minta saat aku pulang ya. Tau gak? Investor disini suka sama proposal yang aku bikin. Mereka tertarik. Gak lama lagi aku pasti sibuk banget. Kamu gak apa-apa kan kalo aku tinggal terus?"
"Iya gak apa-apa." Jawab Calvin ketika masuk kedalam kamar.
Dave terkejut dan sedikit kikuk. Ia melepaskan handphone ditangannya.
"Haha.. terciduk lagi curhat sama Alena." Seru Edward.
"Berisik ah! Alena kan pacar aku!" Seru Dave sambil melemparkan bantal yang tak jauh disisinya.
"Apa kalian bener-bener pacaran cuma dua bulan?"tanya Calvin sambil duduk didepannya. Ia penasaran.
Dave hanya terdiam.
"Itu telepon belum dimatiin. Kasian Alena." ucap Calvin.
"Dia udah tidur dari tadi."
"Trus tadi kamu ngobrol sama orang tidur?"tanya Edward
Dave berdiri. "Iya, dia emang udah tidur. Tapi tadi dia sempet angkat teleponnya."
Edward hanya tertawa ketika mendengar cerita Dave. Tapi tidak dengan Calvin. Ia menatap Dave lama. Sahabatnya tidak pernah seperti itu pada wanita manapun. Hanya dokter ini yang bisa mengubah semuanya dalam waktu beberapa hari. Ia ingat beberapa hari yang lalu, Dave masih berhubungan dengan artis itu. Apakah ada hubungannya dengan video call antara mereka dengan Alena?
Dave memang harus berubah demi masa depannya. Apapun itu, sebagai sahabat ia hanya bisa mendukungnya.
__ADS_1