
Dave telah melakukan perjalanan selama hampir 6 jam tapi ia belum bisa menemukan desa dimana Alena berada. Sudah beberapa kali ia bertanya tapi ia tetap tidak bisa menemukannya. Di sudut jalan, ia melihat beberapa orang remaja yang sedang menikmati kebersamaan mereka. Iapun turun dan menghampiri mereka.
"Ada yang tau desa mayak?" tanya Dave.
"Jauh banget pa." jawab seorang gadis. Dave melihat wajah gadis itu. Terlihat meyakinkan.
"Diantara kalian ada yang bisa anter saya?" tanya Dave. Beberapa remaja saling bertatapan. Dave hampir terlupa sesuatu. "Eh tenang, nanti dikasih uang jajan."tambahnya.
"Bisa dimuka gak pa?" tanya salah seorang dari mereka.
Dave mengerutkan keningnya. Dimuka? Bahkan anak remaja sekarang tahu apa itu dimuka. Ia hanya menggelengkan kepalanya. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya ingin bertemu dengan Alena. Ia mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang.
"Ini cukup kan?" tanya Dave.
Mereka hanya mengangguk sambil tersenyum lebar. Sebuah motor butut dikeluarkan dari sebuah rumah yang ada dibelakang mereka.
"Kita anter pake motor."ucap mereka.
"Oke." Jawab Dave sambil masuk kedalam mobilnya.
Remaja itu mulai menjalankan motornya. Dave mengikuti dari belakang. Ia bisa melihat tempat itu sedikit ramai. Hanya saja memang jauh dari jalan besar. Tapi tunggu, Dave baru saja melihat batas desa dengan nama yang ia cari.
Tiba-tiba kedua remaja itu membelokkan motornya dan melarikan diri. Mereka tertawa meninggalkan Dave sendiri. Dari tempatnya tadi ketempatnya sekarang hanya berjarak 100 meter saja. Ia dibohongi..
"Dasar anak jaman sekarang!" pekiknya.
Tapi ia sedikit menghiraukannya. Ia ingin bertemu Alena secepatnya. Mobilnya mulai berjalan pelan. Disebelah kiri ia bisa menemukan sebuah sekolah dasar yang masih digunakan oleh anak-anak. Ia melihat jalur yang tadi diberikan Alena. Gambarnya masih sedikit buram. Dan memang benar, sambungan telepon dan internet sedikit sulit. Ia mendengar kaca-kacanya diketuk. Dave menoleh dan terkejut ketika melihat siapa yang mengetuk kaca mobilnya. Ia melihat kebelakang, banyak sekali anak-anak sekolah dasar yang mengikuti mobilnya. Dan lebih parahnya mereka menaiki setiap tempat yang mereka pikir aman bisa untuk menggantung tubuh mereka diatas mobil.
__ADS_1
Dave membuka kaca mobilnya. Tapi ia malah mendapatkan uluran tangan anak-anak itu.
"Hey, awas nanti jatoh. Turun!" seru Dave panik. Bagaimana jika mobilnya rusak? Padahal mobil ini baru saja diambil olehnya seminggu yang lalu.
Tapi anak-anak itu seperti tidak menghiraukannya. Mereka masih berdiri dan mengikuti mobilnya.
"Dimana klinik dokter Alena?" tanya Dave pelan. Ia mengeluarkan uang receh didalam dashboardnya.
"Yang cantik itu?"tanya anak-anak itu.
Cantik? Dave terkejut mendengar jawaban anak-anak itu. Mereka bahkan bisa tahu jika Alena cantik.
"Iya cantik. Ibu dokter."
"Didepan." tunjuk anak itu.
Dave dapat melihat sebuah klinik dalam keadaan setengah hangus. Ia parkir mobilnya diseberang bangunan itu dan turun untuk melihat apa yang terjadi. Ia melihat kebelakang nya. Banyak warga yang berkumpul untuk melihatnya. Begitu pula anak-anak. Banyak anak-anak masih menggunakan pakaian seragamnya sedang berkumpul untuk melihatnya.
Dave berbalik. Ia melihat Darren dengan wajah sedikit lusuh berada di belakangnya. Rasanya Dave sedikit tersentuh. Para dokter disini sepertinya mendapat tekanan semalam.
"Gimana keadaan disini?" tanya Dave serius.
"Semalam terlalu tegang. Liat sendiri bangunan klinik. Hampir 70 persen hangus. Terpaksa kita diamankan ke bale desa."
"Sekarang gimana?"
"Hari ini semua dokter kembali ke rumah sakit masing-masing." jawab Darren kecewa.
__ADS_1
"Syukurlah. Aku dateng kesini memang buat jemput Alena."
Darren berjalan diikuti Dave. "Iya, kasian Dokter Alena. Dia perempuan satu-satunya disini. Terpaksa harus liat kejadian gak enak semalem."
"Makanya aku gak akan ijinin lagi kemanapun Alena pergi."
Darren hanya tersenyum mendengar ucapan kesal Dave.
Alena membereskan sisa-sisa barang yang masih bisa diambil dari ruangannya. Ia menatap boneka milik salah satu pasiennya. Itu adalah boneka yang ia berikan pada salah satu pasien pengidap penyakit leukimia. Kini boneka itu hangus tak berbekas. Kemudian Alena melihat gambar-gambar yang dibuat oleh salah seorang pasiennya. Hanya setengahnya yang terbakar.
"Al " panggil Dave.
Alena berbalik kebelakang. Ia tersenyum.."Dave.."
Darren yang berada disana langsung mundur untuk membereskan barang-barangnya.
Dave mendekati Alena.
"Dave.. barang-barang aku habis kebakar." ucap Alena sambil menangis.
Dave memeluk Alena dengan erat.
"Aku ada disini." bisiknya pelan.
"Aku takut, Dave.."
"Kita pulang Al, kita pulang. Jangan disini lagi. Udah cukup, gak akan aku ijinin lagi." jawab Dave sambil memeluk Alena dengan erat.
__ADS_1
BRAK!!! Terdengar suara kayu patah disekitar mereka.
Alena dan Dave berbalik. Ia terkejut melihat anak-anak dan orang-orang sedang melihatnya dibalik jendela dan pintu. Alena langsung mendorong tubuh Dave dan menghapus airmatanya. Ia mulai membereskan barang-barangnya. Sedangkan Dave berusaha dingin. Ia mengeluarkan kacamata hitamnya dan memakainya didepan orang-orang itu. Terdengar suara seseorang mengatakan 'WAH' namun Dave tetap dingin. Ia tersenyum sambil menatap orang-orang itu.