When Billionare meet doctor

When Billionare meet doctor
Dibayang ketakutan


__ADS_3

Dira masuk kedalam kamar Siska dengan tergesa-gesa.


"Kenapa Dira? Ada informasi apa? Hotel baik-baik aja?" tanya Siska ketika Dira masuk dengan tergesa-gesa.


"Hotel baik-baik saja Bu. Ada masalah lain." ungkap Dira.


Siska menatap Dira serius.


"Ini tentang Dokter Ivan."


"Kenapa?" tanya Siska serius. Ia menghentikan kegiatannya sore itu. Ia sudah membaik sesuai instruksi dokter Radit. Hanya saja ia masih harus istirahat dikamar.


"Dokter Ivan datang ke Indonesia karena pernah ada kasus di Korea. Ini sangat serius. Menurut laporan yang saya dapatkan, Dokter Ivan pernah memperkosa pasiennya sendiri dan pasiennya tersebut hamil. Kasus ini sudah sampai ke pengadilan tinggi Seoul. Dan dokter Ivan sudah sempat ditahan selama satu tahun sebelum akhirnya pulang kesini."


Siska menggelengkan kepalanya. "Wanita itu?"


"Bunuh diri."


Siska menutup matanya. Ia berfikir.


"Dokter Ivan mempunyai tabiat buruk. Ia akan melakukan berbagai cara agar keinginannya terpenuhi. Saat ini, dokter Alena yang sedang diincar olehnya. Menurut profesi, dokter Ivan merupakan salah satu dokter terbaik. Tapi sayangnya, ia punya sifat buruk."


Siska menghela nafas. Belum selesai masalah ibu tiri Alena yang sedang menjadi sorotannya saat ini. Sekarang ditambah dokter itu.


"Keluarga Alena?"


Dira membetulkan letak kacamatanya. "Adik dokter Alena masih dinyatakan hilang. Tapi, tidak ada tanda-tanda ibu tirinya melakukan pencarian terhadap dokter Alena. Ia bahkan seperti tidak peduli. Yang terpenting olehnya tidak ada yang berani menghalanginya. Saat ini, mereka sedang menghambur-hamburkan kekayaan ayahnya."


"Itu bagus. Seenggaknya Alena masih aman." jawab Siska tenang.


"Apa yang harus kita lakukan?"


Siska menatap Dira. "Suruh pelayan membersihkan ruang tamu disebelah kamar ini. Saya akan minta Alena tinggal disini."


"Baik Bu."


"Kerjaan di Thailand udah jalan 40% Dave. Kita kesana kapan?" tanya Calvin ketika mereka bertiga keluar dari ruang meeting.


"Nanti kita atur." jawab Dave.


"Oke, kalo gitu aku pergi dulu. Aku mau jemput Sandra di bandara." ucap Calvin sambil melambaikan tangannya. Ia berlari dengan cepat setelah melihat handphonenya.


"Aku juga ada perlu. Nanti malem aku pulang ke Singapura. Jangan ganggu lagi soal meeting-meeting kayak gini. Habis ongkos!" seru Edward sambil berjalan menjauhi Dave. Ia pun melambaikan tangannya.


"Siapa suruh pindah kesana!" Seru Dave.


Ia berjalan menuju ruangannya.


"Bos, dokter cantik masih didalem ruangan. Gak keluar-keluar dari tadi." ucap sekretarisnya.

__ADS_1


Dave masuk dengan cepat.


"Al!" panggilnya. Ia melihat kesisi kirinya. Terlihat Alena sedang tidur di sofa yang ada diruangannya. Dave tersenyum. Iapun menghampiri Alena.


Kedua matanya bergerak kekiri dan kekanan. Ia terlihat sedikit cemas. Dave mengerutkan keningnya. Ada apa?


"Al!" panggil Dave.


Alena langsung membuka matanya. Ia langsung menatap Dave.


"Kenapa? Tidur kamu gak tenang.."


"Hah? Aku gak apa-apa. Aku cuma cape." ucap Alena pelan.


Dave mendekat. Ia melihat sesuatu. Tangannya terangkat dan menyentuh leher Alena.


"Ini merah kenapa?"


Alena panik dan duduk menjauh dari Dave. "Aku gak apa-apa." jawab Alena gugup.


"Kamu gak akan gugup kalo ini gak apa-apa. Cepet kasih tau kenapa?" tanya Dave tajam. "Aku marah kalo kamu gak cerita."


Alena menunduk. "Dokter Ivan tadi cekik aku. Tapi untung ada dokter Darren."


"B**GS*T!!" pekik Dave marah. Ia langsung berdiri. "Aku harus bikin perhitungan!" ucapnya sambil berjalan ke pintu.


Alena bangun dan berlari untuk mengejar Dave.


Alena langsung memeluk Dave dari belakang. "Jangan Dave. Please!"


Dave langsung membalikkan badannya. "Kenapa? Aku gak terima dia kasar sama kamu!"


"Jangan Dave, please. Aku gak mau kamu ada masalah. Aku takut gara-gara kamu kasih perhitungan sama dokter Ivan, reputasi kamu hancur."


Dave menghela nafas. "Al..." panggilnya lemas. "Jangan pikirin reputasi aku, laki-laki mana yang diem aja saat liat pacarnya di kasarin kayak gitu!" ucapnya kesal.


"Maafin aku Dave. Tapi please jangan rusuh. Aku takut." jawab Alena dengan mata berkaca-kaca.


Dave menangkup wajah Alena dengan kedua tangannya. Ia menatap Alena. Dengan kesal ia melepaskan kedua tangannya. "Oke. Tapi kalo dia gitu lagi, jangan harap kamu bisa larang aku." ucap Dave sambil memeluk Alena.


Mobil Dave sampai didepan rumah Alena. Jalanan malam ini sedikit ramai. Dave harus memastikan agar Alena sampai dirumahnya dengan aman. Ia menatap jamnya. Masih pukul 8 malam. Ia bisa tinggal dirumah Alena sebentar.


Alena keluar dari mobil dan berjalan pelan.


"Kenapa?"tanya Dave.


"Gak apa-apa. Aku lagi mikir, tadi di kantor kamu ada yang ketinggalan gak ya?"


Dave mengerutkan keningnya. Alena tidak pintar berbohong. Ia yakin Alena takut.

__ADS_1


"Al, tinggal dirumah aku aja. Aku gak perlu kuatir sama kamu." jawab Dave ketika Alena membuka pintu.


"Enggak! Aku gak mau." jawab Alena cepat.


"Dasar bandel. Ya udah, aku diem dulu disini sampe kamu ngantuk." ucap Dave sambil masuk kedalam rumah terlebih dahulu.


Ia membuka jasnya dan menyimpannya di sofa. Kemudian ia berjalan ke dapur untuk mengambil minum. Alena hanya tersenyum kecil.


Tiba-tiba handphone Alena berbunyi. Firly menghubunginya.


"Al!"


"Ya, apa?"


"Al, ada tamu yang mau booking kopi kamu. Buat acara meeting. Buat 100 pax. Gimana?" tanya Firly cepat.


"Ambil! Lumayan !" teriak Dave.


"Oke!" jawab Firly cepat. Namun ia terkejut. "Loh, siapa itu Al?"


"Dave.." jawab Alena sambil tertawa


"Mau ngapain dia dirumah kamu? Kalian gak tinggal bareng kan?" tanya Firly.


"Enggak Firly, Dave nganter aku pulang. Dia sekarang lagi minum. Sebentar lagi pulang." jawab Alena.


"Kalian tinggal bareng juga gak apa-apa sih. Bye" ucap Firly tertawa. Kemudian ia menutup teleponnya terlebih dahulu. Alena menatap handphonenya. Apa yang Firly katakan tadi? Perasaan Firly kurang suka Dave.


"Kenapa Firly? Temen kamu itu lucu. Tau gak? Kemarin aku tanya tentang kamu sampai-sampai aku nyogok dia pake action figure Avenger terbaru." jawab Dave sambil menyalakan televisi.


"Nyogok?" tanya Alena bingung.


"Iya. Dia gak mau ngasih tau aku kamu ada dimana. Terpaksa aku kasih pilihan."


Alena menggelengkan kepalanya. Pantas saja Firly berubah dengan cepat.


Dave duduk disamping Alena. Ia sesekali menatap gadis disampingnya. Rasanya, ia tidak pernah sebahagia ini. Ia ingin melindungi Alena apapun yang terjadi. Alena menyandarkan kepalanya dibahu Dave. Ia sesekali menguap. Dave mengangkat tangannya sehingga Dave menyadar ditangannya.


"Al, malam ini aku tidur disini aja. Aku gak tega tinggalin kamu."


Alena bangun dan menatap Dave. "Aku gak mau. Aku takut!"


"Kamu itu sebenernya takut sama Ivan atau takut berduaan sama aku?" tanya Dave kesal.


"Dua-duanya."


Dave mendesah. "Aku janji gak akan ngelakuin apa-apa sama kamu! Aku tinggal disini karena murni pengen jagain kamu."


Alena berfikir sambil menatap Dave.

__ADS_1


"Gak usah dipikirin lagi." Jawab Dave sambil menarik kepala Alena untuk menyandar di bahunya.


Mereka tidak menyadari, ada sepasang mata yang sedang menyelidiki mereka dari kejauhan. Ia berada didalam mobilnya. Kilatan matanya begitu kuat. Rasa ingin memiliki tak tertahan. Ia akan merasa puas jika semua keinginannya sudah terpenuhi.


__ADS_2