When Billionare meet doctor

When Billionare meet doctor
Bertemu nenek


__ADS_3

Alena berlari menuju pintu ketika terdengar pintu rumahnya diketuk. Pasti Firly, pikirnya. Padahal tadi pagi ia baru saja bertemu. Pintu dibuka. Seorang pria asing berada didepan rumahnya. Alena pernah melihat tapi ia tidak ingat dimana.


"Selamat sore, Dokter Alena." ucapnya.


"Sore pak."


"Perkenalkan saya Dira. Dokter Alena pasti lupa sama saya." ucapnya sambil tersenyum.


Alena tersenyum. "Saya ingat-ingat lupa.."


"Saya asisten ibu Siska, neneknya Dave."


Kedua mata Alena membesar. "Oh iya, maaf pa saya lupa."


"Gak apa-apa. Saya tau dokter kemarin berada di pengungsian selama 3 bulan. Wajar saja kalau lupa." jawab Dira ramah.


"Maaf pa, ada apa nyari saya?


"Saya diutus ibu Siska untuk jemput Dokter Alena. Ibu mau bertemu."


Alena mengerutkan keningnya."Ada apa ya pa?"


"Lebih baik dokter ikut saja."


Alena bingung. Saat pesta waktu itu, neneknya Dave tidak mau menghampirinya. Kenapa sekarang malah mau menemuinya?


"Sebentar pa, saya ganti baju dulu." ucap Alena. Pria itu hanya mengangguk ramah.


Alena turun dari mobil ketika mereka baru sampai dirumah Siska. Ia menatap sekeliling rumah. Rumah itu masih tetap sama seperti 3 bulan yang lalu. Kalau hari ini ia harus bertemu dengan Dave, ia tidak sanggup. Bagaimana jika mereka bertemu.


"Dave belum pulang." ucap Dira menjawab kegalauan hati Alena.


Alena hanya tersenyum. Mereka berjalan melewati bagian dalam rumah. Ia melewati ruang tamu dan ruang keluarga. Kedua pintu yang berada diujung rumah terbuka lebar. Taman mini beserta kolam renang berada disana. Ada sebuah gazebo dan ia melihat nenek Dave sedang duduk disana. Jantung Alena berdebar. Debarannya sama seperti ketika ia ujian praktek kedokteran di semester akhir.


"Kamu udah dateng." ucap Siska sambil membalikkan badannya.


Alena mendekat. Ia tersenyum kaku.

__ADS_1


"Saya ganggu jadwal kamu?"


Alena mengangkat kedua tangannya karena refleks. "Enggak sama sekali Bu.."


"Panggil saya nenek. Sama kayak Dave." jawab Siska.


Alena hanya mengangguk.


"Gimana misi kamu kemarin?"


Alena menatap Siska. Ia bingung padahal tidak banyak yang tau jika ia pergi kedaerah bencana.


"Aman nek."


Siska pun menghela nafas. "Alena."


"Iya nek."


Siska mengangkat tangannya dan menyimpannya di meja. "Kamu inget luka ini?"


Alena menggelengkan kepalanya. "Saya gak inget."


Alena masih diam. Ia mengingat-ingat.


"Saya ingetin kamu. Kamu pernah nolong saya waktu saya kena serangan jantung dijalan raya. Kamu gak inget pernah dateng kerumah ini buat anterin saya?"


Alena berfikir sejenak. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. "Perempuan itu nenek?" tanyanya sambil terkejut.


"Iya saya. Waktu pesta kemarin saya mau ngomong tapi sayangnya saya gak ada waktu buat ngobrol sama kamu."


Alena memegang lengan Siska. "Gimana sekarang jantungnya? Nenek baik-baik aja?"


"Saya baik-baik aja. Setidaknya hari ini saya sehat."


"Kalo ada yang sakit atau kerasa hubungi Alena ya nek. Maafin Alena karna gak inget. Pasien Alena banyak. Jadi Alena gak bisa ingat satu persatu."


"Nenek mau kamu yang jaga nenek." ucap Siska sedih. "Nenek bayar berapapun asal kamu mau jadi dokter pribadi nenek."

__ADS_1


Alena menggeleng. "Alena dokter anak, nek. Tapi Alena bisa pastikan nenek dapat dokter terbaik."


"Kalo nenek panggil kesini, kamu langsung kesini ya."


"Alena liat situasi dulu nek, Alena punya tanggungjawab di restoran sama di rumah sakit


Jadi maaf, Alena gak janji."


"Dira, ambil minuman buat Alena. Sambut Alena biar dia mau kesini terus." ucap Siska disambut senyuman Alena. Alena tidak pernah menyangka jika nenek Dave adalah salah satu pasien yang pernah ia tolong. Seumur hidupnya, ia pernah menolong dua orang. Pertama seorang pria muda yang iapun tidak tahu bagaimana wajahnya. Yang kedua adalah seorang wanita tua yang kaya raya.


Hampir dua jam mereka berbincang. Setidaknya Siska jadi tahu semua cerita tentang Alena. Gadis itu sangat ramah dan sopan pada orangtua. Sayangnya kedua orangtuanya telah tiada. Dan ia tidak tahu jika ada sedikit bahaya yang mengikutinya.


"Nek!" panggil Dave.


"Apa?"


Dave baru saja pulang dari sidang. Entah kenapa sejak tadi ia gelisah dan ingin segera pulang ke rumah.


"Nek, ganti rugi Flower Village itu cuma 40%. Kita gak harus bayar ganti rugi sebanyak itu." ucap Dave sambil memeluk neneknya.


"Asalkan kamu ada uangnya, nenek gak akan nawarin kamu." ucap Siska.


"Nenek tenang aja." jawab Dave. Ia langsung melihat isi meja. Ada dua cangkir teh dan beberapa toples makanan kecil.


"Ada tamu?" tanya Dave.


"Temen nenek. Tadi dia datang kesini. Sekarang udah pulang." jawab Siska.


"Laki-laki atau perempuan?"goda Dave.


"Mau ngegodain orangtua? Nanti kualat loh." ucap Siska sambil memukul bahu Dave. Davepun berjalan kedalam. "Aku seneng kalo nenek ada pendamping lagi."


Alena kembali memukul bahu Dave." Jangan ngomongin yang aneh-aneh!"


Dave tertawa sambil berlari kedalam. "Aku mau mandi dulu nek, aku mau pergi lagi sama Calvin."


"Jangan terlalu malam!" seru Siska.

__ADS_1


"Jangan anggap aku anak kecil nek! Aku udah 30.." teriak Dave.


Bagi nenek, kamu tetaplah anak kecil. Anak yang butuh perhatian lebih. Apalagi menyangkut wanita.


__ADS_2