
Siska dan Alena sedang berbincang pagi itu. Setelah sekian lama sendiri, Siska senang akhirnya ia ditemani oleh seseorang untuk mengobrol.
"Nenek belum tau tentang cerita orangtua kamu." ucapnya memecah keheningan.
Alena mendesah. Menceritakan keluarganya sama saja membuka luka lama.
Ia menghela nafas sebelum akhirnya bercerita.
"Papa dan mama bercerai saat Alena masih sekolah dasar. Waktu itu Alena gak ngerti apa yang terjadi. Menginjak usia 15 tahun, Alena mulai mengerti. Papa adalah pria terburuk yang pernah Alena tau. Papa mengkhianati mama berulang kali. Padahal saat itu papa memiliki kami. Alena dan Clara yang waktu itu berusia masih sangat kecil. Usia Clara 3 tahun."
Siska mendengar dengan serius. "Kenapa adik kamu gak dibawa sama mama kamu? Waktu itu usianya masih 3 tahun. Padahal usia segitu masih harus dengan mamanya."
Alena mendesah. "Itulah papa, dengan segala kesombongannya. Papa mendapat hak asuh anak pertama. Harusnya aku yang dibawa. Tapi papa lebih sayang Clara. Karena sejak kecil Clara mempresentasikan papa. Semuanya mirip papa. Menurut papa, Clara adalah jiplakannya."
"Kamu udah ketemu dengan adik kamu?" tanya Siska. Padahal ia sudah tahu jika adiknya hilang.
Alena menggelengkan kepalanya. "Udah hampir 22 tahun Alena gak ketemu Clara."
"Kamu gak cari? Kamu gak sayang adik kamu?"
" Alena sayang Clara. Tapi Alena benci papa. Dia memutuskan hubungan dengan kami. Sampai sekarang Alena gak tau dimana keberadaan mereka. Tapi beberapa bulan yang lalu, Alena dapat kabar melalui pengacara papa. Papa sudah meninggal."jelas Alena sambil menitikkan air mata.
Siska mendekati Alena dan memegang tangannya. "Ini waktunya kamu mencari adik kamu, Al."
Alena mengangguk. "Alena mau mencari Clara jika semua urusan Alena udah selesai disini."
Siska mengangguk. Alena harus tau jika adiknya hilang. Tapi bukan dari mulutnya. Sampai saat ini iapun sedang membantu mencari keberadaan Clara. Tapi keberadaannya masih nihil.
"Mama mempunyai blasteran Belanda. Dan kata orang yang mengenal keluarga mama, wajah aku mirip neneknya mama. Tapi sebenarnya Clara jauh lebih cantik. Walaupun wajahnya jiplakan papa asli, rambutnya sedikit pirang pada waktu itu. Tapi tetap darah Belanda masih terlihat." tambah Alena sambil membayangkan sesuatu.
Seseorang berjalan menghampiri mereka.
"Dave datang. Hapus airmata kamu." bisik Siska.
Clara langsung menghapus airmata yang menetes diwajahnya.
Dave mendekat dan dengan cepat mencium pipi Alena. "Pagi sayang." ucapnya.
Alena terkejut. Begitu pula dengan Siska. Matanya membesar. Ia langsung memukul bahu Dave dengan tangannya.
"Siapa yang ajarin kamu kayak gitu?" teriak Siska kesal.
"Loh, kenapa?"tanya Dave sambil mengangkat kedua tangannya.
"Cium-cium sembarangan! Kamu gak liat nenek ada disini?" seru Siska sambil memukul lengan Dave. "Pergi sana! nenek lagi ngobrol sama Alena. Biasanya juga kalo minggu pagi gini kamu ketemu cinta pertama kamu.." goda Siska.
"Ah nenek, jangan ngomong gitu nek didepan Alena." ucap Dave malu.
Alena mengerutkan keningnya. "Cinta pertama?" tanyanya pada Dave.
__ADS_1
Dave tersenyum malu. "Motor aku yang habis tabrakan itu. Itu cinta pertama aku." jawab Dave sambil tertawa hambar.
"Bohong. Bukan motor itu, tapi orang yang nolong Dave waktu dia tabrakan dulu." jawab Siska puas.
Alena terkejut mendengar hal itu.
"Al, jangan denger ucapan nenek. Bohong itu. Enggak pernah aku cinta sama orang itu. Wajahnya aja aku gak tau." ucap Dave gugup.
Alena tersenyum puas. "Gak apa-apa kok Dave. Kamu tau siapa orang itu?"
Dave menggelengkan kepalanya. "Udah jangan bahas lagi. Aku gak mau ngomongin orang itu. Masanya udah berlalu. Sekarang aku cuma cintanya sama kamu."
"Beneran kamu gak mau tau siapa orang itu?" goda Alena.
"Aku gak mau. Udah Al, jangan dibahas lagi. Nanti siang kita pergi nonton ya. Aku udah beli tiketnya. Sekarang aku mau liat si merah dulu." ucapnya sambil berjalan pergi. Ia menghindar karena memikirkan perasaan Alena.
"Begitulah Dave. Jangan cemburu Al. Waktu itu dia cari-cari orang yang udah nolong dia. Tapi gak nemu. Dia sempet patah hati."
"Kenapa nek? Padahal waktu itu dia gak liat wajah orang yang nolongin dia?" tanya Alena bingung.
"Itulah cinta. Nenek gak tau, pertama kalinya dia ngomongin perempuan ya orang yang nolong dia waktu itu." jawab Siska sambil tertawa.
Alena tersenyum. Mereka tidak tahu jika yang mereka bicarakan adalah dirinya.
Dave dan Alena baru saja selesai nonton di bioskop. Alena masih tidak percaya pada apa yang dilakukan Dave padanya. Dave telah menyewa bioskop satu ruangan penuh hanya untuk mereka berdua. Terlalu berlebihan namun itulah Dave.
Ini adalah film pertama Alena selama lebih dari 5 tahun. Ia tidak pernah menonton di bioskop karena ia tidak menyukainya. Tapi iapun tidak bisa menolaknya karena hari ini adalah kencan mereka yang pertama setelah beberapa bulan mereka berkenalan.
"Suka. Tapi lain kali jangan kayak gitu lagi." jawab Alena.
"Maksudnya?"tanya Dave bingung. Ia menghentikan langkahnya dan menatap Alena.
"Jangan booking semua seat cuma buat kepentingan kamu. Kasian penonton yang lain juga."
"Aku punya uang, terserah aku." jawabnya sombong.
Alena langsung mencubit perut Dave. "Mau dicubit lagi?" tanya Alena.
"Maunya dicium.."bisik Dave ditelinga Alena. Alena langsung mencubit pipi Dave saking kesalnya. Ia malu karena orang-orang banyak yang menatap mereka.
"Dok! Dokter Alena!" panggil seseorang.
Alena dan Dave membalikkan badannya. Darren sedang berada tak jauh darinya. Ia terlihat sedang menggandeng seorang wanita cantik.
Alena mundur dan bersembunyi dibalik tubuh Dave.
"Dok, maaf dok! Jangan samain aku sama si Ivan itu. Aku beda." ucap Darren sedih. "Kita bisa ngobrol bentar?"
Dave menarik lengan Alena untuk melihat Darren yang terlihat merasa bersalah.
__ADS_1
Ketika Alena berada didepannya, wajah Darren mulai berubah. Ia tersenyum lega.
"Dok, kita ngobrol di restoran milik pacar aku aja. Kenalin, ini Leona. Pacar yang sering aku ceritain." ucap Darren.
Leona maju dan mengulurkan tangannya. "Halo, aku Leona."
Alena mengulurkan tangannya dan tersenyum. "Alena."
"Namanya mirip kan?" tanya Darren sambil tertawa.
Mereka berempat kini sedang berada direstoran milik Leona yang ada di mall itu. Restoran Leona telah tersebar dibeberapa titik kota. Beberapa makanan sudah dihidangkan dimeja. Ia menatap Dave yang sudah memulai makannya. Sedangkan Alena masih terdiam.
Sebuah sumpit telah berada didepan mulutnya.
"Ini cobain Al, enak banget." ucap Dave.
Alena membuka mulutnya. Ia mulai memakan makanan didepannya.
Darren menatap kedua pasangan itu sambil tersenyum. Ia menjadi merasa bersalah jika mengingat sepupunya.
"Dok, maafin aku." ucap Darren tiba-tiba. "Aku sebenernya malu sama dokter Alena."
Alena menatap Darren. "Maaf kenapa?"
"Soal Ivan. Aku gak tau dia jadi orang dalam pengawasan interpol. Aku juga gak nyangka dia berani berbuat jahat sama dokter. Tapi dokter gak apa-apa kan?" tanyanya.
Alena menghela nafas. Ia menatap Darren. "Aku gak apa-apa. Obat bius yang dokter Ivan kasih masih dalam dosis wajar."
"Tetep aja. Aku sempet promosikan dokter waktu itu. Karena dokter gak punya pacar, jadi aku ngegodain Ivan biar dia ngedeketin dokter." jawab Darren sambil menatap Dave.
"Apa?" Dave bertanya sambil membelalakkan matanya. Ia menyimpan sumpitnya dimeja. "Maksudnya apa?" tanyanya kesal.
"Sst,,, tenang Dave." ucap Alena.
"Waktu itu dokter gak punya pacar. Bener kan? Dan setau aku, pacar dokter yang ini juga udah bertunangan dengan Amanda. Maaf kalo aku salah."
"Enggak, enggak, itu memang bener." jawab Alena.
"Makanya aku mau minta maaf." ucap Darren merasa bersalah.
"Yang penting aku gak apa-apa sekarang." jawab Alena.
Darren mengangguk. "Aku mikirin project bareng kita dok. Tinggal 2 minggu lagi. Dokter mau mundur?"
"Project?" tanya Dave sambil menatap Alena.
Alena mengingat project yang hampir saja ia lupakan. "Oh iya, hampir lupa."
"Project itu masih tetep jalan ya dok. Nama kita udah diajukan sebelum kita pulang kesini."
__ADS_1
Alena mengangguk. "Tenang aja, aku gak pernah mengkhianati sesuatu yang udah aku pegang."