
"Project?" tanya Dave ketika mereka berada di mobil. Ia terus mengulangi perkataan yang sama.
"Project?" tanyanya kembali.
Alena menghela nafas. Ia kesal mendengar Dave terus mengatakan hal yang sama.
"Ya ampun, Dave. Please jangan ulangi terus ucapan yang sama" seru Alena kesal.
"Iya project apa lagi? Kamu mau pergi lagi tinggalin aku?" tanyanya marah.
"Aku harus pergi karena ini profesi aku, Dave. Tolong kamu mengerti.." jawab Alena kesal.
"Nanti kalo disana kamu ketemu Ivan-ivan yang kayak kemarin gimana?Siapa yang bakal nolong kamu?"
"Disana banyak orang, Dave. Ada Darren yang bisa jaga aku!" jawab Alena tidak mau kalah.
"Darren.. Darren, ya udah kamu pacaran aja sama Darren!"
"Lama-lama aku bisa stres kalo kamu kayak gini terus.. Kamu gak liat Darren udah punya pacar?"
"Bisa aja kalian selingkuh dibelakang kita. Kamu gak tau, kemarin waktu kalian ada misi juga kalian digosipin pacaran."
Alena langsung mencubit pipi Dave dengan kencang. "Ih, aku kesel banget sama kamu!"
"Awww!!" teriak Dave.
"Kamu nyebelin kalo cemburu!" jawab Alena puas.
Dave hanya diam sambil terus membawa mobilnya.
Ketika mereka sampai dirumah neneknya, Dave keluar dari mobil dan tanpa disangka ia langsung berjalan masuk kedalam rumah. Alena mengerutkan keningnya. Iapun ikut turun dari mobil dan berlari mengejar Dave.
"Dave!" panggil Alena.
Dave terus berjalan hingga menaiki tangga.
"Dave! aku pergi kalo kamu gak berhenti." seru Alena.
__ADS_1
Dave berhenti tepat didepan kamarnya. Ia terdiam hingga Alena berada dibelakangnya.
Alena merasa lelah. Ia menarik nafas perlahan.
"Kamu maunya apa, Dave?" tanya Alena.
Dave berbalik. "Aku mau kamu jangan pergi."
Alena menggelengkan kepalanya. "Gak bisa Dave."
"Ya udah kalo gitu aku marah." jawabnya.
"Dave, aku kesana buat misi kemanusiaan juga. Aku pergi kesebuah daerah terpencil dengan keadaan gak ada rumah sakit disana. Dokter terbatas dan saat ini disana sedang ada wabah malaria. Please jangan bikin aku sulit. Kamu harus percaya sama aku. Aku gak akan macem-macem." ucap Alena.
"Aku berharap kamu berhenti jadi dokter." ucap Dave.
"Dave, kamu mau punya harta sebanyak apapun gak akan bisa menghentikan aku buat jadi dokter. Ini impian mama aku."
Dave menatap Alena tulus. Apakah ia pantas mementingkan egonya terhadap Alena?
"Please, Dave." ucap Alena tulus.
Alena melihat kekiri dan kekanan untuk melihat siapa yang ada diantara mereka. Ketika merasa kosong, ia berjinjit dan mengecup bibir Dave ringan. "Aku cinta sama kamu. Kamu percaya itu?" ucap Alena ketika ia melepaskan diri.
"Aku percaya." jawab Dave luluh sambil memeluk tubuh Alena dengan erat. Ia tersenyum pada akhirnya.
"Terakhir ya Al kamu tinggalin aku."
Alena tersenyum. "Iya."
Dave turun dari kamarnya dan berjalan menuju ruang makan. Ia tidak melihat siapapun disana. Iapun berjalan keruang tamu. Beberapa koper dengan rapi sudah tertata didepan pintu. Ia tahu Alena akan pergi, tapi ia tidak tahu jika ia pergi pada pagi hari.
Iapun berjalan ke kamar Alena. Terlihat Alena sedang memasukkan sesuatu ke ranselnya.
"Bukannya kamu pergi siang?" tanya Dave.
Alena berbalik untuk melihat Dave. "Dipercepat.. Perjalanan kesana hampir 5 jam Dave. Aku gak mau sampe sana malam-malam."
__ADS_1
"Ide orang gila itu?" tanya Dave kesal.
Alena menggelengkan kepalanya. Ia menghampiri Dave dan memegang lengannya. Ia membawa Dave keluar kamar.
"Darren. Bukan orang gila. Jangan kayak gitu, Dave. Aku mau pergi tapi tingkah kamu kayak gitu bikin aku sedih."
"Kalo aku udah gak sibuk, aku bakalan jemput paksa kamu disana buat pulang." ucap Dave sambil memeluk bahu Alena.
"Aku tunggu.." jawab Alena sambil tertawa.
Diluar ia melihat nenek dan Darren sedang berbincang. Ia menatap wajah Dave yang kembali kesal ketika melihat Darren.
"Dok, siap? Koper-kopernya udah dimasukin" ucap Darren tanpa melihat Dave.
Dave melepaskan tangannya dari bahu Alena. Ia berjalan menuju mobil Darren. Ia masuk kedalam dan mengecek sesuatu. Alena mengerutkan keningnya.
"Kamu lagi apa?"
Setelah beres Dave menghampiri Alena. " Aku takut ada penguntit yang ngumpet dimobil dia" seru Dave sambil menunjuk Darren.
Darren hanya tersenyum samar melihat sikap protective Dave.
"Kamu udah siap?" tanya Siska.
Alena menatap Siska. "Udah nek, makasih buat 2minggu ini. Nenek udah bantuin aku." ucap Alena sambil memeluk Siska. "Nenek harus sehat sampe aku pulang." tambahnya.
Siska mengangguk. "Kalo pulang nanti, kamu harus langsung menikah sama Dave. Janji!" bisik Siska.
Alena terhenyak. Ia menatap Siska.
"Janji?" tanya Siska.
Alena tersenyum. Ia berbisik pada Siska. "Tergantung Dave nek, kalo memang Alena cocok buat dijadiin istri sama Dave, aku gak akan nolak."
Dave menghampiri Alena."Kalian ngomongin apaan sih? Jangan pake rahasia-rahasiaan."
Alena tersenyum. Ia menggenggam tangan Dave. "Tunggu aku. Sekalian aku mau titip restoran. Kalo Firly butuh bantuan, tolong bantu dia."
__ADS_1
"Oke." jawab Dave sambil memeluk Alena dengan erat.