
Dave berjalan menuju kamar Siska dan melihat pemandangan sedikit aneh. Ia melihat tangan neneknya sedang menggenggam tangan Alena. Mengapa mereka sedekat itu? Mereka terdiam tapi seperti nya Alena sedang berfikir sesuatu. Iapun masuk kedalam.
"Nek, kenapa bisa collaps?" tanya Dave ketika ia masuk kedalam.
Siska tersenyum walaupun wajahnya masih pucat.
"Nenek cuma kecapean. Untung tadi ada teman-teman Alena."
Dave langsung mendekati Siska dan duduk diseberang Alena. Alena melihat Dave dan terdiam. Kemudian ia melihat meja nakas. Ada beberapa obat yang tadi diminta oleh dokter Ivan untuk diminum.
"Nek, Alena seneng karena nenek udah bangun. Nenek harus jaga kesehatan. Jangan lupa nanti minum obatnya dengan teratur. Sekarang Alena mau pulang dulu. Alena harus kerumah sakit lagi."
Siska mengangguk. "Tolong kasih tau dokter Ivan. Nenek ucapkan terimakasih."
"Baik nek. Alena pamit dulu." ucap Alena sambil berdiri.
Dave melihat keakraban neneknya dengan Alena. Ia bingung.
"Kamu anterin Alena keluar dulu. Dia mungkin gak bawa mobil." ucap Siska pada Dave.
"Siap nek." jawab Dave segera. Ia langsung berlari keluar.
"Al!" panggil Dave.
Alena membalikkan badannya sekilas. Ia langsung berjalan lebih cepat. Ia malas bertemu dengan Dave. Padahal ia tahu, ialah yang telah menyelamatkan Dave beberapa tahun yang lalu.
"Al! Aku minta kamu berhenti disitu!" teriak Dave.
"Enak aja nyuruh-nyuruh!" umpat Alena kesal.
"Alena!" panggil Dave lagi. Namun kali ini langkah pria itu bisa mengimbangi langkahnya. Ia kini berada disampingnya. "Alena! Diem disitu! Aku anter kamu pulang." seru Dave.
Alena tertawa hambar. "Aku gak mau."
"Pokoknya aku anter kamu. Kamu mau suka atau enggak!"
Alena berkacak pinggang sambil menatap Dave.
"Buat seorang pria yang sudah memiliki tunangan gak pantas ngomong gitu. Apalagi sama aku? Siapa sih aku ini?"
"Al denger dulu. Aku bisa jelasin sama kamu." ucapnya. "Denger, aku terlalu mendadak tunangan sama Amanda." jelasnya.
"Stop! Aku gak mau denger. Dave, kita gak punya hubungan apa-apa lagi. Itu hak kamu buat tunangan sama orang lain. Aku gak peduli."
Dave memangku kedua tangannya. "Kamu seneng?"
__ADS_1
"Ya, aku seneng." jawab Alena menantang.
"Kenapa waktu kita ketemu terakhir wajah kamu langsung merah pas denger Amanda adalah tunangan aku?" tanya Dave kesal. Wanita didepannya tidak bisa berbohong dengan baik.
"Aku senang, aku gak marah atau nangis atau apapun itu." jawab Alena dengan nada tinggi.
"Bohong!" teriak Dave sambil tertawa. "Aku gak ngomong kamu nangis. Aku cuma bilang wajah kamu merah."
"Aku gak bohong!" jawab Alena kesal.
"Sayangnya kamu gak bisa berbohong dengan baik, Alena sayang." ucap Dave sambil tersenyum manis.
Seketika itu Dave langsung memeluk Alena dengan erat. "Aku jelasin sekali lagi tentang Amanda. Aku belum tunangan secara resmi sama dia. Waktu itu aku cuma minta dia jadi istri aku setelah dia lulus kuliah. Dan masih ada waktu 3 tahun lagi."
Alena melepaskan pelukan Dave dengan keras. "Kata-kata playboy emang udah melekat dikepala kamu. Dave, kamu banyak alasan. Aku benci sama kamu!" seru Alena kesal. Ia langsung keluar gerbang dan berjalan untuk mencari taxi.
Dave kesal tapi ia harus berbuat sesuatu agar Alena mau kembali padanya. Iapun mengeluarkan handphonenya.
"Vin.. aku butuh bantuan kamu. Rumah kamu kosong? Sandra ada?" tanya Dave.
Calvin yang saat itu berada diruang meeting merasa bingung. "Kenapa?"
"Aku butuh bantuan kamu nanti malem."
"Eh, kalo butuh bantuan jangan dirumah aku. Apartemen kamu aja. Soal Alena kan?"
Pintu ruangan terbuka. Darren masuk tanpa mengetuk pintu."Belum pulang dok?"
Alena menatap Darren. Ia menggelengkan kepalanya.
"Dokter Ivan tadi nanyain kamu." ucap Darren membuat Alena menatapnya.
"Buat apa?"
"Katanya mau perhitungan.."
Alena menepuk dahinya. "Aku lupa. Sekarang ada?"
Darren menggelengkan kepalanya. "Udah pulang."
"Trus kamu kesini mau apa?"
"Mau ngasih ini." Darren mengeluarkan sebuah kartu berwarna gold yang bertuliskan sebuah restoran ternama.
Alena melihatnya. "Ini apa?"
__ADS_1
"Pacar aku bukan kasih voucher, dok. Dia ngasih ini. Jadi kalo dokter pake ini, dokter bisa dapet potongan harga selama dokter Alena makan di restoran ini. Berapapun harganya."
"Kok pacar kamu baik banget." Jawab Alena sambil melihat kartu itu.
"Pacar aku memang baik. Sama aja sih kayak aku." Ucap Darren sambil tertawa.
Alena sedang malas tertawa. Ia hanya melihat Darren sambil menggelengkan kepalanya. "Aku pulang aja."
"Aku anter." ucap Darren cepat.
Mereka berdua berjalan di basement.
"Dok, dokter Ivan ganteng ya. Dia pinter loh, mau gak kenal lebih dekat? Dokter Ivan lagi cari calon istri. Dokter Alena pasti cocok."
Alena mengerutkan keningnya. "Jangan aneh-aneh."
"Bener dok. Pertemuan pertama aja udah bikin dokter Ivan terkesan. Makanya tadi nyariin dokter Alena. Kenapa dokter gak pulang-pulang."
Alena merasa kesal. Hari ini sepertinya mimpi buruk. Pertama bertemu dengan dokter-dokter paling konyol yang pernah ia temui, kedua adalah ia mendapatkan fakta jika ialah yang telah menolong Dave. Menurutnya mimpi buruk karena ia tidak mungkin akan melupakan Dave dengan mudah. Ketiga, perkataan Dave tentang wanita itu. Hal itu membuat dirinya kesal. Keempat, pria disampingnya. Kelima entah apa yang menantinya "
Sebuah pintu mobil terbuka. "Al!" panggil seseorang.
Alena menoleh kesamping. Ia melihat Dave berdiri disana. Sepertinya sudah sedikit agak lama.
Alena menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Mimpi buruknya yang kelima. Apa lagi?
"Siapa dok?" tanya Darren penasaran.
"Teman." jawab Alena lemas.
"Kali gitu aku pergi dulu ya. Aku gak jadi anterin dokter Alena. Aku mundur.." jawab Darren sambil tertawa hambar. Ia berjalan menuju mobilnya.
Alena menatap Dave sambil berkacak pinggang. "Apa lagi?"
Dave tersenyum. " Kita butuh bantuan kamu sekarang."
"Kita?" tanya Alena bingung.
Dave mengangguk. Ia langsung membuka pintu mobil. "Silahkan."
"Bantuan apa?"
"Nanti juga kamu tau." jawab Dave. Alena berjalan menghampiri Dave dan masuk ke mobilnya.
"Ngomong-ngomong dia itu dokter yang digosipin sama kamu?Aslinya jelek ya, masih ganteng aku. dia sih gantengnya setengah. Cuma di kamera aja. Kalo aku udah pasti ganteng dimanapun. Kegantengan maksimal." ucap Dave bangga.
__ADS_1
"Bisa pergi gak? Aku gak butuh gombalan kamu. Kalo gak jadi, aku pulang nih!"jawab Alena kesal.
"Oke,oke, kita pergi."