
Alena berdiri didepan kaca jendela ruangannya. Hari ini tidak ada pasien. Tapi ia harus masuk ruang operasi beberapa jam lagi. Sejak semalam ia kurang tidur. Jika mengingat tadi malam rasanya itu adalah hari buruknya. Ia bahkan harus memiliki wajah tebal jika ia ingat tentang semalam. Bukan karena perempuan itu, tapi karna ia harus mendapat perlakuan yang menyenangkan dari seorang pria yang baru saja ia kenal. Alena menutup wajahnya dan menggelengkan kepalanya. Ia malu. Entah bagaimana ia akan bertindak jika mereka bertemu nanti.
Pintu ruangannya diketuk. Alena tidak mau membukanya karena ia tahu siapa yang masuk kedalam. Ia mendengar pintu terbuka.
"Suster Ana, waktu operasi masih lama."
"Ini Ivan." ucapnya.
Alena langsung membalikkan badannya. "Dokter Ivan?"
"Katanya hari ini ada operasi?"
Alena tersenyum. "Iya dok, jam 1 siang."
Ivan duduk dikursi pasien tanpa ia suruh. Ia menatap sekeliling ruangan. "Tadi malem kamu gak apa-apa?"
Alena merasa kikuk. Ia bahkan malu mengingat kejadian semalam. "Aku gak apa-apa."
"Untung ada aku yang kebetulan lewat. Kalo laki-laki lain yang lewat, aku gak tau gimana."
Alena menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia menghampiri pria itu. "Terima kasih buat semalam, dok. Kalo gak ada dokter, aku juga gak tau gimana aku bisa bertahan sampai hari ini."
"Dari semalem kamu terus minta maaf." jawab Ivan. Ia menatap Alena tajam. Sorot matanya berbeda dari pria kebanyakan.
"Ah, kalo aku bayar gimana? Sekalian kita perhitungan masalah nenek. Gimana dok?"
"Oke, aku yang tentuin gimana kamu bayarnya." jawab Ivan sambil berdiri.
Alena bengong. "Apa?"
__ADS_1
"Jam 5 aku tunggu di basement." jawab pria itu sambil membuka pintu. Ia keluar meninggalkan Alena yang terlihat masih bingung. Ia tersenyum dibalik pintu.
"Beres dok?" tanya Suster Ana yang berada di mejanya.
Ivan melirik Suster Ana dan berjalan. "Ya" jawabnya pendek.
Suster Ana hanya mengerutkan keningnya. "Cakep-cakep tapi nyebelin." ujarnya pada sesama rekannya.
Alena masih terdiam di tempat. Ia bingung. Dokter Ivan memutuskan sesuatu sepihak. Tapi kenapa Dokter Ivan seperti itu?
"Dok.."
Alena terkejut. Ia membalikkan badannya.
"Melamun? Apa gara-gara Dokter Ivan?" tanya Suster Ana yang sudah ada dibelakangnya.
"Barusan. Dokter Alena lagi ngelamun, jadi gak denger saya masuk. Dok, jangan sama Dokter Ivan. Dia keliatan sombong. Mending sama pacar dokter yang ganteng itu. Yang bisa membuat heboh seisi rumah sakit ini."
Alena menggelengkan kepalanya. "Gak usah mengada-ngada, Suster Ana.."
"Kenyataan dok, baru sehari Dokter Ivan disini, semua suster ngomongin aneh-aneh. Dokter Alena mau denger apa obrolan mereka?"
"Stop suster. Saya gak mau denger gosip. Gosip itu gak bagus buat kesehatan hati."
Suster Ana cemberut. "Dokter sejak pulang dari sana jadi gak rame."
Alena tertawa mendengarnya. "Mana dokumen yang mau ditandatangan?"
Suster Ana memberikan map itu pada Alena. "Bener ya dok. Jangan sama Dokter Ivan." ucapnya lagi sebelum ia benar-benar keluar dari ruangannya.
__ADS_1
"Ada dua pemakaian wallpaper khusus untuk lobby. Disini ada lampu hias kristal. Kalo masalah harga gak usah ditanya lagi berapa harganya. Tapi, kemewahan lobby ini bisa jadi wajah suatu hotel. Kalo lobby nya bagus, apalagi isi setiap kamar." Calvin berada didepan layar ketika ia sedang menjelaskan interior design yang ia buat untuk project terbaru mereka.
Dave menatap handphonenya. Ia tidak melihat apa yang disampaikan oleh Calvin. Ia terlalu sibuk untuk menatap wajah Alena dilayar handphone nya. Kejadian semalam seharusnya tidak akan terjadi lagi. Ia harus cepat membuat alasan agar bisa meninggalkan Amanda. Seingatnya, ia paling pintar mencari berbagai alasan untuk putus. Banyak artis yang telah menjadi mantan kekasihnya. Tapi kenapa Amanda sangat sulit?
"Dave, kamu liat gak?" tanya Calvin kesal. Sejak tadi ia lihat Dave tidak konsen. "Masalah pribadi lupain dulu. Kita harus bawa design ini besok. Kalo kalian setuju, aku print langsung."
Dave menatap Calvin. "Mana liat?"
Calvin memberikan selembar design pada Dave. Dave langsung melihatnya.
Edward melihat Dave sambil tersenyum. Ia melirik Calvin.
"Vin, aku mau kasih dia sesuatu biar tambah galau." bisik Edward.
"Apa?" tanya Calvin yang berada disebelahnya.
"Tunggu." Edward mengeluarkan handphonenya dan mengirimkan sesuatu pada handphone Dave.
Dave melihat handphonenya. Ia melihat Edward sambil membuka handphonenya.
"Siapa? berani-beraninya!" seru Dave ketika ia melihat isi pesan yang dikirim Edward. Ia berdiri dan hampir melemparkan benda yang ada didepannya.
"Mau nyesel? Lebih baik putusin Amanda sekarang." Jawab Edward.
Dave langsung berjalan keluar. Ia tidak terima melihat Alena dipeluk oleh pria asing selain dirinya. Ia harus buat perhitungan pada Alena. Kenapa ia mau dipeluk seperti itu tadi malam? Siapa pria itu?
"Sayang!" panggil seseorang.
Dave berbalik dan terkejut siapa yang datang ke kantornya. Amanda sedang berdiri dibelakangnya dengan pakaian super minim. Dave menunduk. Ia marah dan kesal. Wanita didepannya sudah sangat membuatnya marah dengan kelakuannya tadi malam pada Alena. Lalu sekarang ia datang dengan pakaian minim seperti itu. Para karyawan banyak yang terkejut ketika melihatnya. Bahkan wanita itu sendiri tidak nyaman dengan pakaiannya. Apakah wanita ini berniat mempermalukannya?
__ADS_1