
Alena membawa mobilnya menuju yayasan untuk melihat beberapa dokumen sebelum ia pergi besok untuk waktu 3 bulan. Butuh waktu satu jam untuk sampai kesana.
Dilain tempat. Mobil Dave terparkir tak jauh didepan sebuah rumah. Ia menatapnya tajam. Rumah itu gelap. Tidak ada aktifitas disana. Ia melihat jam tangannya. Pukul 9 malam. Seharusnya Alena sudah tiba disana sejak pukul 7 malam. Dave bingung kenapa kedua tangannya mengarahkan mobilnya kedepan rumah Alena? Ini adalah terakhir kalinya ia berada didepan rumah gadis itu. Setelah malam ini berganti, ia tidak akan mengingat apa yang telah ia lakukan bersama Alena. Ia akan mulai fokus untuk menghadapi tantangan pekerjaan didepan.
Ketika Alena sampai didepan yayasan, ia tertegun. Ia keluar dari mobil dan diam didepan sebuah plang dengan nama Yayasan Peduli Nathania. Dave telah merenovasi semuanya. Tidak ada aktifitas disana karena malam sudah larut. Ia melihat beberapa orang melewatinya.
"Dokter Alena?"
Alena membalikkan badannya. Ia melihat seseorang yang ia kenal. Pa Ujang adalah seorang kepala desa disana. Ia sedang bersama beberapa orang warga yang memang berniat untuk mengontrol yayasan itu.
"Pa Ujang? Bisa kita ngobrol didalam?" tanya Alena ramah.
Syifa membuka pintu rumah dan terkejut melihat Alena berada diluar. "Mbak Alena, pulang kesini?" tanya nya sambil menghampirinya.
"Iya. Tolong kamu siapin teh manis buat bapak-bapak ini ya, saya mau ngobrol didalam."
"Iya mbak." ujar Syifa sambil berlari kedalam.
Alena mengeluarkan beberapa kertas dan menyimpannya di meja.
"Pa Ujang, saya punya rencana untuk membuat yayasan ini sebagai lowongan pekerjaan untuk ibu-ibu disini. Rasanya saya gak puas kalau belum berbakti buat desa ini. Seenggaknya ibu-ibu disini akan mendapatkan penghasilan tambahan."
Kepala desa itu tampak tertarik. "Memang dokter Alena mau membuat apa?"
"Saya mau membuat makanan yang menjadi khas daerah ini. Rencana saya, saya mau membuat merk khusus yang nantinya makanan itu bisa dijual ditoko-toko yang ada dikota."
"Bagus itu dokter." ucap bapak-bapak yang ada disana.
"Kapan dokter?"
__ADS_1
"Saya mau secepatnya. Tapi berhubung besok saya pergi kedaerah bencana, jadi saya pending 3 bulan lagi. Hanya saja, rencana ini saya sampaikan sama bapak-bapak sekarang. Apa bapak-bapak setuju?"
"Saya sangat setuju dokter. Apa yang dokter perbuat, kami benar-benar berterima kasih. Dokter Alena adalah orang baik. Ibu dokter juga orang baik. Saya bangga mempunyai warga seperti dokter."
"Memang mbak Alena mau kemana?"tanya Syifa yang tiba-tiba masuk kedalam kamarnya.
"Saya mau pergi ke daerah bencana, Syifa."
"Kemana?" tanya Syifa tertarik.
"Yang pasti kedaerah bencana."
"Gunung meletus? Gempa bumi?"
"Salah satunya."
Alena memegang bahu Syifa. "Syifa, kamu kan tau kalo saya jadi dokter karena mau membantu orang banyak."
Syifa mengangguk. "Saya tau karena ibu yang mau."
"Nah, karena ini kemauan mama,, saya harus pergi kan?"
Syifa mengangguk.
"Saya titip yayasan ini sama kamu, sama kayak sebelum-sebelumnya. Kalo gak ada kamu, saya gak tau harus ke siapa lagi. Yayasan ini peninggalan terakhir mama. Saya mau kamu jaga selama saya pergi."
"Mbak Alena tenang aja, selama ada saya semua beres."
Alena tersenyum puas. Ia memeluk Syifa layaknya adiknya sendiri. Syifa sejak kecil sudah ia asuh. Ia tinggal bersama kakaknya yang kini sudah berumah tangga dan tinggal dikota.
__ADS_1
Siska membuka pintu kamar Dave pelan. Ia melihat Dave sedang berdiri membelakanginya. Ketika tadi siang ia datang dengan wajah lebam, ia tahu jika pada akhirnya Dave akan kembali kerumah ini. Iapun menutup pintu kembali dan berjalan ke kamarnya.
"Dira, gimana perkembangannya?" tanya Siska ketika ia menghubungi Dira melalui telepon.
"Karena tempat tinggal ayah Alena berada jauh dari sini, jadi saya tadi menghubungi pengacaranya Bu, kebetulan dia ada disini. Dia juga sempat bertemu dengan Alena dirumah sakit."
"Jadi berita apa yang akan saya dapatkan hari ini?"
"Menurut pengacara keluarga Alena, Alena tadi sedikit shock ketika mendengar ayahnya meninggal. Hampir 20 tahun ia dan ibunya menutup komunikasi dengan keluarga ayahnya. Tapi Bu, kita sudah melakukan sesuatu yang benar. Kita amankan dokter Alena secepatnya. Besok pagi ia pergi selama 3 bulan untuk misi bencana."
"20 tahun?" tanya Siska terkejut.
"Iya. Dan sekarang adiknya hilang. Tapi menurut pengacara, ia sudah tahu tempat dimana adiknya berada. Jadi Alena tidak perlu khawatir."
"Kasian Alena."
"Bu, kenapa ibu melakukan ini? Kalau Dave mencintai Alena, kenapa ibu tidak menyatukan mereka secepatnya?"
"Dave harus menyadari perasaannya. Karena tindakannya dan perasaannya berbeda."
"Kalau Dave melupakan Alena?"
"Saya yakin mereka bersatu walaupun jalannya berat. Karena setelah mendengar cerita kamu tadi pagi, saya harus menyelamatkan Alena untuk terlebih dahulu."
Malam semakin larut, namun Alena masih belum bisa tidur. Padahal besok pagi ia akan pergi ke bandara. Beberapa pakaian sudah ia kemas didalam koper setelah dibantu Syifa tadi. Iapun bangun dan berjalan menuju jendela kamarnya. Ia menatap langit dan mulai menutup kedua matanya.
***Dave, aku kecewa karena kamu ternyata gak cinta sama aku. Semua perlakuan kamu selama dua bulan ini bikin aku bertanya-tanya, apakah kamu memang cinta sama aku? Tapi kemarin malam aku tau semuanya. Thanks Dave udah buat 2 bulan ini berharga. Aku gak pernah kesepian lagi. Dan yayasan ini gak akan lupa sama kebaikan kamu. Kalau kita memang berjodoh, kita pasti akan ketemu lagi disaat yang tepat. Disaat kita sama-sama dewasa dan mulai menyadari kalau kita sama-sama penting satu sama lain.
Clara, kakak tau kamu pasti baik-baik saja. Tunggu kakak beres sama misi ini agar mama bangga, nanti kakak pasti akan jemput kamu buat tinggal sama kakak. Walaupun kakak sampai saat ini gak tau gimana wajah kamu, Clara. Tapi kakak yakin kakak bisa ketemu sama kamu. Tunggu kakak pulang***.
__ADS_1