
Dave menatap restoran itu. Semakin malam semakin banyak pengunjung. Beberapa mobil terparkir disamping restoran dengan rapi. Suara orang-orang dewasa, muda mudi nampak berbaur disana. Wajah-wajah bahagia terlihat olehnya.
Ketika ia mengingat ucapan Edward tadi, rasanya ia tidak terima. Untung saja Edward tidak mendapatkan pukulan darinya. Dave bingung dengan hatinya. Ia patah hati ketika ditinggalkan oleh Alena saat itu. Ia bahkan menutup komunikasi dengan dokter itu dengan menghapus segala sesuatu tentangnya. Kini ia memiliki Amanda. Bahkan kemarin malam ia sudah melamar gadis itu. Ketika ia patah hati, hanya Amanda yang datang untuk mengobati luka hatinya. Tapi kenapa sekarang ia menjadi ragu setelah ia mendengar ucapan Calvin? Ia sadar ia tidak pernah sekalipun menyatakan perasaannya pada Alena. Tapi dengan semua sikapnya selama mereka berhubungan, seharusnya Alena sudah tahu.
Bagaimana jika suatu saat Alena muncul didepannya? Bagaimana nanti ia menghadapi Amanda? Apakah ia mencintai Amanda? Atau ia hanya menganggap Amanda sebagai pengganti Alena?
Dave tidak dapat berfikir lagi. Ia turun dari mobil dan berjalan menuju restoran. Ia berjalan dan melihat sekelilingnya. Disamping kanan terdapat mini bar dimana terdapat menu kopi andalan. Alena sudah melebarkan sayapnya, pikirnya. Iapun masuk kedalam coffe shop dan duduk disudut ruangan. Dari tempatnya ia duduk, ia dapat melihat sofa itu. Sofa yang mereka duduki ketika mereka pertama kali bertemu setelah beberapa lama Dave pergi untuk mengurus pekerjaannya. Sofa yang telah menjadi saksi bisu ketika Dave mencuri kesempatan untuk mencium Alena. Dave tiba-tiba merindukan semua itu.
Handphonenya berbunyi. Ia melihat Amanda menghubunginya. Dave membiarkan handphone itu tetap menyala dan ia tetap menatap seluruh ruangan.
"Mau pesan apa, pa?" tanya seorang pelayan pria.
"Caffe late"
Pelayan itu pergi. Dave langsung memanggilnya.
"Mas, bentar. Saya mau tanya."
"Iya pa."
"Restoran sama cafe ini pemiliknya masih dokter Alena?"
"Iya betul." jawab pria itu. Ia menatap Dave terus.
__ADS_1
"Saya sahabatnya dokter Alena waktu dulu. Udah lama saya gak kesini. Dokter Alena sekarang dimana?"
"Dokter Alena lagi ikut misi kemanusiaan pa. Dia jadi relawan sejak 3 bulan lalu."
Dave terkejut. 3 bulan lalu? Seingatnya 3 bulan yang lalu mereka memutuskan berpisah.
"Maaf pa, pelayan dan customer dilarang untuk menyinggung masalah pribadi." Ucap seorang wanita yang kini berada didepannya.
"Firly?" ucap Dave sambil berdiri.
Firly duduk didepan Dave. Ia memperlihatkan wajah tidak sukanya pada pria didepannya. "Mau ngapain kamu kesini?" tanyanya ketus.
"Aku cuma main aja. Aku belum pernah dateng kesini."
Dave tertawa. "Kamu masih ketus kayak dulu."
"Jangan ganggu Alena." ucap Firly serius.
"Aku gak akan ganggu Alena. Aku cuma tanya dia ada dimana? Wajar kan aku tanya gitu!" seru Dave.
"Gak usah tanya-tanya Alena ada dimana. Belum puas kamu maenin perasaan Alena?"
Tiba-tiba handphonenya berbunyi kembali padahal ia belum sempat berbicara. Wajah Amanda dengan dirinya sedang berpelukan tertera di layar handphone nya. Firly tersenyum samar ketika melihatnya. "Aku sedih buat Alena. Aku mohon, jangan ganggu dia. Alena gak pantas kamu sakiti." ucapnya sambil pergi meninggalkan Dave. "Kalo udah beres ngopi disini lebih baik kamu pulang, jangan pernah balik lagi kesini." tambahnya sambil membelakangi Dave.
__ADS_1
Dilain tempat.
Alena menatap handphonenya. Apakah benar yang ia dengar tadi? Para pria itu menghubunginya setelah 3 bulan? Dan apakah benar Dave mengatakan itu?
"Dok, kenapa?" tanya Darren sambil memegang bahu Alena.
Alena melirik pada Darren. Ia tersadar. "Saya gak apa-apa."
"Dok, besok dokter Roni dateng kesini sama rombongannya siang hari. Berhubung tiket pulang kita pagi-pagi, jadi kita gak bisa ketemu mereka."
"Gak apa-apa. Besok kita pulang sesuai rencana." jawab Alena senang.
"Dokter udah siap packing ?"
Alena menunjuk beberapa koper yang sudah disimpan dengan rapi disamping lemari.
Tiba-tiba Darren menarik lengan Alena. "Dok, ikut saya keluar. Calon-calon dokter bikin acara perpisahan."
"Acara apa?" tanya Alena bingung.
"Dokter Alena itu ketua tim dokter disini. Para calon dokter sama ada beberapa warga, polisi sama tim BPBD masak-masak hasil dari sumbangan calon dokter itu. Dokter Alena udah berkontribusi banyak buat para pengungsi. Mereka berharap dokter mau kembali lagi kesini."
Alena tersenyum. "Itu gak mungkin. Tapi saya apresiasi acara itu."
__ADS_1
Dan benar saja, acara itu hampir berlangsung ketika ia sampai. Ia terharu karena kerja kerasnya membuahkan hasil. Ia melepaskan tangan Darren. "Gak perlu kayak gini. Saya ikhlas semua yang saya kerjakan demi kemanusiaan." ucapnya sambil menangis. Anak-anak kecil mulai menghampirinya dan memeluknya satu persatu. Ia semakin terharu. "Terimakasih" ucapnya pada Darren.