
*Dave mampir ke sebuah toko bunga dijalan menuju restoran Alena. Ia ingin membelikan sesuatu yang besar untuk Alena. Setelah menyelesaikan semuanya, ia merasa lega. Ia yakin Amanda akan membuat perhitungan dengannya. Ia sudah siap, asalkan bukan Alena yang mendapatkannya, ia akan baik-baik saja.
Ia melihat-lihat bunga-bunga yang masih segar. Ia melihat beberapa orang wanita memilih bunga.
"Permisi.." ucap Dave.
Kedua wanita itu menoleh. "Kenapa?"
"Istri saya lagi marah. Biasanya dikasih bunga apa ya biar luluh?" tanya Dave malu.
Kedua wanita itu tertawa. "Rata-rata wanita itu suka bunga. Tapi kalo mau romantis mending mawar merah aja."
Dave mengambil satu tangkai. "Yang ini?"
"Iya. Mintanya dibungkus jadi buket yang besar. Tapi maaf, budgetnya berapa?" tanya salah seorang wanita itu.
"Tidak terbatas." jawab Dave.
"Memangnya marah kenapa sih? Sampe harus dikasih bunga.." ucap salah seorang dari wanita itu. Keduanya tertawa.
"Cemburu. Saya disangka selingkuh." bisik Dave.
Keduanya tertawa. "Kasih itu aja." jawab mereka.
"Oke, makasih ya"
Dave sudah terbiasa berbohong demi kebaikan. Iapun langsung memanggil pelayan dan meminta membungkusnya sesuai dengan apa yang tadi kedua wanita itu katakan.
Handphonenya berbunyi. Calvin menghubunginya.
"Apa?" tanya Dave.
"Dimana?"
"Gak usah ganggu. Aku lagi sama Alena."
Calvin tertawa. "Kalian udah baikan?"
"Kita gak marahan kok." elak Dave.
"Oke, aku gak mau ganggu kalian. Selamat bersenang-senang." ucap Calvin sambil menutup teleponnya.
Baru saja menutup telpon, ia langsung mempunyai ide. Ia menghampiri pelayan itu.
"Tolong buat yang sebesar mungkin. Jangan yang biasa." ucap Dave.
"Baik pa*."
Sekarang..
Alena menatap pria yang tersenyum didepannya. Bukankah pria itu sedang bertunangan? Untuk apa ia datang ke restonya membawa bunga sebesar itu?
Pria itu berjalan mendekatinya. Ini bukan halusinasi. Itu adalah Dave. Ada darah disudut bibirnya. Refleks jari-jari Alena menyentuhnya.
Dave meringis perih. Begitu pula ada memar biru diatas bibirnya.
Dave tersenyum. Ia senang mendapat perhatian Alena. Namun senang itu hanya sesaat. Tiba-tiba Alena melepaskan tangannya.
"Mau ngapain kamu kesini?"
"Ketemu kamu. Mau ngapain lagi?"
"Kamu udah tunangan sama orang lain. Kamu gak boleh ketemu aku lagi" jawab Alena sambil membalikkan badannya.
"Aku bukan tunangan siapapun. Aku free, Al."
Alena mengerutkan keningnya. Ia membalikkan badannya. "Maksudnya?"
__ADS_1
"Kamu liat wajah aku? ini hasil dari pukulan ayahnya."
Alena menatap memar itu. "Kenapa kamu dipukul?"
"Karena aku ngebatalin pertunangan itu."
Alena mengerutkan keningnya. "Kenapa?" tanya Alena. Ia mulai merasa lega.
Dave menyimpan buket bunga itu dilantai. Kemudian ia menatap Alena. Semilir angin malam menyambut keheningan mereka. Alena masih membutuhkan jawaban dari Dave. Kenapa ia memutuskan pertunangan itu?
Tiba-tiba Dave menangkup wajah Alena dengan kedua tangannya. Ia tersenyum puas malam ini. "Kamu masih Alena yang dulu. Kamu masih butuh penjelasan. Padahal kamu sendiri tau jawabannya."
Alena hanya menatap Dave. Ia tidak mau menebak apapun itu.
Dave menarik Alena ke pelukannya. "Pertama, aku cinta sama kamu Al. Entah sejak kapan. Asal kamu tau, aku bener-bener kecewa waktu kita putus. Aku patah hati."
Alena mendorong tubuh Dave. "Kamu sendiri yang bilang gak suka sama aku. Aku denger sendiri omongan kamu sama nenek."
"Aku bohong sama nenek. Padahal malam itu aku berniat buat ngehapus kontrak kita dan melanjutkan hubungan kita tanpa embel-embel warisan nenek. Tapi ternyata kamu sendiri yang merusak rencana aku."
"Aku terharu." ucap Alena sambil tersenyum. Dave menatap Alena bingung. Ia menunduk sambil menatap Alena.
"Kenapa?" tanya Alena.
"Al, setau aku yang namanya terharu itu sedih. Berurai airmata. Tersentuh. Kamu gak ada satupun kayak gitu. Aku bingung. Apa definisi terharu itu sekarang beda?" tanya Dave bingung.
Alena mengalungkan lengannya dileher Dave. Ia memeluk Dave dengan erat. "I'm happy, Dave. Aku gak butuh jawaban lain lagi. Makasih."
Dave duduk di sofa tempat favorit mereka. Alena sedang berada didalam untuk membawa air hangat. Ternyata semudah ini ia menyelesaikan semuanya. Rasanya lega. Ia menyandar di sofa dan mengangkat kedua tangannya untuk disimpan dibelakang kepala. Salah satu kakinya dinaikkan keatas. Ia tersenyum.
"Kamu kayak orang gila senyum sendiri." ucap Alena ketika ia datang membawa baskom air.
Dave duduk tegak. Ia tersenyum melihat Alena.
Alena kini duduk disampingnya. Ia mengeluarkan tissue dari dalam tasnya. Kemudian ia memasukkan tissue itu kedalam air hangat. Ia melakukannya dengan sangat cekatan. Kemudian ia menarik wajah Dave untuk menatapnya.
Alena mulai membersihkan sisa darah yang ada disudut bibirnya.
"Gak usah aneh-aneh. Luka gini siapapun bisa sembuhin. Bukan cuma dokter." jawab Alena sedikit sewot.
Dave tertawa. Kemudian ia mengingat sesuatu. "Al." panggil Dave.
"Apa?"
"Kamu inget gak kita terakhir waktu duduk disini ngapain?" tanya Dave usil.
Alena langsung menekan luka itu hingga Dave meringis kesakitan.
"Arrgh!" teriak Dave.
"Itu akibatnya buat kamu yang suka usil." jawab Alena.
Dave hanya meringis sambil menekan-nekan bibirnya.
"Mau lagi?" tanya Alena. Dave hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
Alena menyimpan tissuenya dimeja. Kemudian ia melihat Dave.
"Dave.. "panggil Alena.
"Kenapa?"
Alena tampak berfikir. Ia menunduk dan kedua tangannya memegang bajunya dengan erat.
"Kenapa Al?"
"Kamu tau Ivan? Sepupu dari mantan kamu yang tadi kita ketemu disana."
__ADS_1
Dave merasa Alena telah memancingnya untuk berkomentar. "Siapa Ivan itu? Aku hampir mukul dia tadi pas liat dia dateng sama kamu. Aku gak terima. Aku cemburu!"
"Dia anak direktur rumah sakit, Dave. Kebetulan aku hutang budi sama dia dua kali. Dia sekarang kerja dirumah sakit yang sama."
"Berapa lama kalian kenal?"
"Baru sehari."
Dave terkejut. "What? Tapi kenapa dia berani-beraninya kayak gitu ke kamu? Harus dibuat perhitungan. Baru sehari kenal tapi udah kurang ajar. Jangan-jangan dia psikopat."
"Enggak Dave, jangan." ucap Alena sambil menggelengkan kepalanya.
"Kenapa?"
"Karena semua hutang budi itu berhubungan sama kamu. Pertama, dia yang dateng nyelametin nenek kamu waktu kemarin pingsan. Kedua dia nyelametin aku waktu aku pulang malem-malem dari apartemen kamu."
Dave terdiam. Ia hanya mengepalkan tangannya.
"Kalo gitu kamu jangan kerja dulu."
Alena menggeleng. "Gak bisa Dave, pekerjaan aku bukan pekerjaan kantoran kayak kamu. Pekerjaan aku adalah menyelamatkan nyawa seseorang."
"Kalo gitu, pergi sama pulang kerja aku anter. Kamu gak boleh dianter jemput sama siapapun."
Dilain tempat.
Siska terbangun karena mendengar langkah seseorang diluar. "Dira, kamu masih belum pulang?"
Dira membuka pintu kamar Siska dan masuk. "Belum Bu."
"Ada berita terbaru apa?" tanya Siska lemas.
"Dokter Alena sedang didekati oleh dokter jantung. Mungkin ibu akan terkejut mendengarnya."
"Dokter Ivan?"
"Ibu sudah tahu?" tanya Dira terkejut.
"Saya bisa liat tatapannya berbeda pada Alena. Trus gimana? Apa yang kamu dapet?"
"Saya masih menyelidiki."
"Trus gimana tentang ibu tiri Alena?"
"Dokter Alena aman. Tidak ada pergerakan dari pihak mereka. Tapi ada sesuatu yang mengganjal."
Siska menatap Dira. "Apa?"
"Proyek yang dilakukan saudari tiri dokter Alena saat ini sedang dikerjakan oleh Edward."
"Apa ada yang tau tentang itu?"
Dira menggelengkan kepalanya. "Kalau sudah tahu, sudah lama nyawa Dokter Alena menjadi ancaman."
"Yang penting Alena aman. Kamu selidiki dulu dokter Ivan itu. Saya ngerasa ada sesuatu." ucap Siska.
"Baik Bu."
"Dave sudah pulang?"
"Belum."
"Kamu pulang saja, udah malem. Ada suster yang jaga saya disini."
"Baik Bu, saya pulang."
"Oh ya, kalo kamu sudah dapat hasil dari penyelidikan itu, dan kalo menurut kamu Alena terancam, segera cari orang untuk menjaganya. Jangan dari dekat."
__ADS_1
Dira hanya mengangguk. Iapun keluar dan menutup pintu.
Siska sangat berharap Dave memutuskan pertunangannya yang telah mereka lakukan tanpa sepengetahuan nya. Sampai kapanpun ia hanya menginginkan Alena yang menjadi pendampingnya.