
"Nek.." panggil Dave ketika ia baru sampai rumah Siska. Sejak pengalihan kepemilikan hotel, Dave kini tinggal di rumah Siska.
Siska yang saat itu sedang duduk sore dengan secangkir tehnya terkejut ketika melihat Dave ada dibelakangnya.
"Loh, kamu udah pulang?"
Dave tersenyum. Ia duduk disamping Siska. "Semuanya udah beres. Kerjaan aku di Thailand udah mulai, trus masalah di hotel kemarin udah bisa diatasi. Nenek tenang aja. Dave bisa lakuin semua."
"Kapan kamu pulang?" tanya Siska.
"Dave udah pulang dua hari yang lalu. Tapi Dave pulang ke apartemen dulu. Soalnya udah beberapa minggu Dave gak pulang kesana."
Siska mengangguk pelan. Ia menatap Dave yang terlihat sedikit risau. Ia berbeda seperti sebelumnya. "Nenek tau, kamu pasti mau ngomong sesuatu."
Dave tertawa. "Nenek paling tau.."
"Kenapa?" tanya Siska.
Dave mengeluarkan handphonenya. Ia memberikannya pada Siska. Siska menatap isi handphone itu. Ia melihat Dave sedang berdiri bersama dengan seorang wanita cantik. Mereka tampak serasi. "Siapa?"
"Calon istri Dave."
Siska terkejut mendengar ucapan Dave. Calon istri? Siska langsung berdiri dan masuk kedalam rumah. Dave mengerutkan keningnya. Ia bingung melihat sikap neneknya. Mengapa wajahnya menjadi sedih?
Iapun berlari mengejar neneknya, namun Siska telah berada didalam kamarnya. Ia kecewa. Diluar, Dira sedang duduk dengan berkas ditangannya. Ia terlihat serius.
"Nenek kenapa?"
Dira menatap Dave. "Saya gak tau, coba saya lihat."
Siska melihat foto-foto Alena yang diambil oleh seorang warga yang kini menjadi mata-matanya. Ia hanya menginginkan keselamatan Alena. Calon menantu satu-satunya yang ia inginkan. Dan hanya Alena yang pantas masuk kedalam keluarganya. Bukan yang lain.
"Dira, kamu kesini sebentar. Saya mau tau perkembangan situasi terkini keluarga Alena."
"Baik Bu.." Dira yang sudah berada diluar sejak tadi masuk kedalam. Ia memberikan berkas yang tadi dipegangnya.
Siska melihat data terbaru mengenai Alena. "Kamu yakin saat ini Alena aman?"
Dira mengangguk. "Saya pastikan Alena gak akan kebawa-bawa soal warisan ayahnya."
Siska menyandarkan punggungnya dikursi. Ia membuka kacamatanya dan menyimpannya dimeja. Ia melihat bekas luka ditangannya ketika ia mendapatkan serangan jantung. Ia sempat terkena gagang pintu dan sedikit terluka. Namun bekasnya masih ada.
"Kenapa Bu?" tanya Dira.
__ADS_1
"Liat luka ini, saya ingat Alena. Jika bukan Alena yang waktu itu lewat, saya gak tau lagi gimana keadaan saya sekarang."
Siska terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"Saya yakin Alena bisa menjaga diri." ucap Dira.
"Dave.." Siska menghela nafas. Ia tiba-tiba memotong pembicaraan. Ia terasa berat. "Dave berniat untuk melamar seorang perempuan."
"Alena?" tanya Dira.
Siska menggelengkan kepalanya. "Bukan. Saya juga gak tau siapa perempuan itu. Dave melangkahi saya. Saya kecewa, Dira. Semudah itu Dave melupakan Alena." ucapnya sedih.
Calvin sedang melihat handphonenya ketika Dave datang. Besok siang Edward akan mulai pindah ke Singapura, sehingga malam ini adalah malam terakhir mereka minum-minum di bar favorit. Dave bingung melihat kedua sahabatnya berubah. Sejak mereka pulang dari Thailand seminggu yang lalu, hari ini mereka berkumpul.
"Ed, kamu serius mau pindah?" tanya Dave ketika i datang.
Edward menatap Dave. "Aku serius."
Namun Edward melanjutkan kembali menonton di handphone Calvin.
Dave menatap kedua sahabatnya. "Kalian lagi nonton apa sih?" tanya Dave penasaran.
"Vin, aku pernah bilang dulu. Kalo ada yang gini tapi lebih nakal sedikit, aku mau. Tapi sekarang juga aku mau. Perempuan kayak gini bisa nyembuhin aku cepet." ucap Edward dibalas tawa Calvin.
"Mimpi!" jawab Calvin.
Calvin melirik Dave. "Alena lagi jadi relawan, Dave. Kamu mau nonton?" tanya Calvin sambil meliriknya.
Dave berdeham. Ia kembali duduk di kursinya.
"Aku gak tertarik."
"Ini dokter yang sekarang lagi digosipin sama Alena? Saingan nih!" tanya Edward cuek. Ia sesekali menatap wajah Dave yang langsung berubah.
"Iya, menurut aku dokter itu ya cocoknya sama dokter lagi. Mereka bisa nyambung. Gak kayak kita. Obrolan kita pasti gak nyambung." ucap Calvin.
"Kita nyambung kok." ucap Dave yang membuat kedua sahabatnya langsung berhenti menonton. Calvin menyimpan handphonenya dimeja. Mereka berdua menatap Dave.
"Tadi malem aku udah ngelamar Amanda." ucap Dave memutuskan pembicaraan Alena.
"What? Are you serious, Dave?" seru Edward.
Dave mengangguk. "Amanda anak baik. Dia cantik dan berpendidikan. Dia punya keluarga yang bagus. Apalagi? Aku udah cukup usia buat menikah."
__ADS_1
Edward menyilangkan tangannya. "Kalo gitu, aku ada kesempatan buat deketin Alena. Bener kan?"
"Dia bukan perempuan baik-baik."jawab Dave cepat.
"Menurut kita enggak. Kamu salah." jawab Calvin.
"Gimana kalian bisa bilang enggak? Aku yang punya hubungan sama Alena. Bukan kamu Vin." seru Dave. Nada bicaranya sedikit tinggi.
"Memangnya kalian pernah pacaran?" sindir Edward.
Dave tidak berkutik. "Pokoknya dia bukan perempuan baik-baik!"
"Jadi menurut kamu, perempuan yang baik-baik itu adalah perempuan yang mau membayar kelulusan setiap semester cuma dengan nyogok? Perempuan yang baik itu adalah perempuan yang sering berlibur keluar negeri pake uang pacarnya? Ayolah Dave, kamu salah mengartikan perempuan baik." sindir Edward.
"Menurut kamu Alena baik? Dia juga ngabisin uang aku. Jadi kenapa Amanda gak bisa?"
Edward hampir saja bangun jika Calvin tidak menahannya.
"Dave, jangan ngebandingin Alena dengan Amanda. Mereka beda jauh. Kamu lupa kalian ada perjanjian? Apa Alena pernah minta sesuatu dari kamu yang lain selain merenovasi yayasannya? Apa kamu pernah liat yayasan itu sekarang gimana?" Calvin membuka handphonenya. Ia memperlihatkan sebuah rumah yang sangat jauh berbeda ketika ia pergi kesana. "Alena membuat ini karena memikirkan apa yang harus dia lakukan buat memajukan desanya. Jadi, kamu itu itung-itung nyumbang ke Alena buat kelangsungan desa itu."
Dave mendesah. "Alena yang pergi. Kenapa kalian malah nyudutin aku?"
"Apa pernah kamu menyatakan cinta sama Alena? Semua tindakan kamu selama dua bulan kemarin, apa pernah kamu tau perasaan Alena?"
Edward tertawa. "Udah Vin, percuma ngomong sama Dave. Kamu udah terlambat. Dave udah ngelamar cewek itu. Sekarang biar aku yang ngelamar Alena." ucapnya sambil tersenyum puas. Diam-diam ia mengeluarkan handphonenya dan menghubungi seseorang. Ia harus menunggu beberapa detik sampai orang itu mengangkat. Terdengar suara perempuan mengangkatnya.
"Halo, dokter Alena." ucap Edward sambil berdiri.
Dave dengan cepat menarik lengan Edward sampai sahabatnya itu terpental kesofa. Calvin langsung melerai keduanya.
"Jangan macam-macam kamu Ed! Alena cuma milik aku! b*****k kamu!" teriak Dave marah. Ia langsung pergi meninggalkan Calvin dan Edward.
"See?" tanya Edward pada Calvin. Ia merasa puas kali ini.
"Dasar munafik." Jawab Calvin. Mereka berdua langsung meminum minuman didepannya. Mereka tertawa senang.
"Tadi kamu telepon siapa?" tanya Calvin.
Edward langsung mengambil handphone itu dan melihat sambungan masih terhubung. Ia menatap Calvin.
"Halo.." ucap Edward cepat.
Tiba-tiba sambungan terputus. Edward menatap Calvin. "Dia denger obrolan kita tadi."
__ADS_1
"Kamu telepon Alena?"
"Iya."