
Dave mengangkat kedua kakinya keatas meja. Ia benar-benar lelah. Tadi pagi ia baru saja tiba dari Italy setelah melakukan perjalanan untuk urusan hotel. Setelah turun dari pesawat, ia masih diharuskan untuk melakukan meeting dengan pihak pemerintah Thailand mengenai kondisi terakhir pembangunan taman bermain. Malamnya ia sudah berada didalam kantornya. Ia benar-benar lelah. Dalam waktu 24 jam ia melakukan dua pekerjaan sekaligus.
Ia mengeluarkan handphonenya. Sudah dua hari ini ia tidak menghubungi Alena. Terdengar nada tersambung. Ia masih harus menunggu beberapa lama. Tidak diangkat. Ia terus mengulanginya hingga beberapa kali hingga Alena mengangkat teleponnya.
"Ya Dave.. Apa kabar?Beres kerjaan kamu?" tanya Alena.
"Kapan kamu pulang?" tanya Dave kesal.
"Aku masih belum tau. Kamu baik-baik aja?" jawab Alena.
"Aku kangen sama kamu, Al!"
"Aku.............."
"Al!" panggil Dave. Ia melihat handphonenya. Tidak ada sambungan sinyal.
Dave langsung melempar handphonenya saking kesal. Ketika itu Calvin dan Edward masuk kedalam ruangan.
"Kenapa lagi?" tanya Calvin sambil melihat pecahan kaca layar handphone milik Dave.
"Gak ada sinyal! Kayaknya Alena tinggal dihutan." jawabnya kesal.
Edward tertawa mendengar nada kesal Dave. Ia duduk di sofa bersama dengan Calvin.
"Kamu gak akan nyusul Alena?" tanya Calvin. Ia duduk didepan Dave.
Dave menatapnya. "Buat apa?"
"Buat apa? Kasian Alena, punya pacar tapi gak perhatian. Gak ada pengorbanan sama sekali." seru Edward. Dave hanya diam tanpa mengatakan sepatah katapun.
"Aku kan sibuk."
"Makanya cepetan lamar." seru Edward.
Dave mengeluarkan sebuah kotak berwarna coklat dihiasi tali berwarna emas. Ia melirik pada kedua sahabatnya.
"Beneran Dave?Kapan belinya?" tanya Edward antusias. Ia langsung duduk disamping Dave.
"Waktu di Italy aku gak sengaja nemu pameran perhiasan. Kebetulan hotel yang aku datengin lagi ada acara. Ya udah kebeneran, aku dikasih undangan."
"Berapa? Pasti pake dollar. Berapa digit?"tanya Edward.
__ADS_1
"Gak penting berapa digit. Yang penting ini aku beli khusus buat Alena. Aku yakin dia bakal nangis." jawab Dave senang.
Calvin memangku kedua tangannya. Ia menatap Dave. "Aku gak yakin. Alena bukan kayak Amanda atau mantan-mantan kamu yang lain."
"Taruhan!" ucap Dave sambil menggebrak meja.
"Oke, siapa takut."jawab Edward.
"Yang kalah bayarin aku buat honeymoon." seru Dave.
"Siapa takut!" seru Calvin dan Edward bersamaan.
Alena masih berada dirumah yang disulap sebagai rumah sakit sementara. Masih ada beberapa dokter yang bertahan termasuk ia dan Darren. Total dokter yang ada di desa ini hampir 10 orang, hanya ia dan Darren yang merupakan dokter muda. Terdengar suara rame-rame diluar. Ia keluar untuk melihat ada apa.
Sekitar 15 warga datang sambil membawa obor dengan berkata sumpah serapah. Alena keluar tapi langsung ditarik oleh beberapa warga.
"Bu dokter, jangan keluar. Kita cari tempat aman" seru mereka sambil membawa Alena.
"Kenapa?Ada apa?" tanya Alena panik. "Dokter Darren mana?"
"Dokter Darren ada di ruang aman." ucap seorang pria setengah baya yang ia tahu adalah salah seorang pasiennya.
Alena menggenggam tangannya. Ia mulai mengeluarkan keringat dingin. Tidak pernah seumur hidupnya ia mengalami hal menakutkan seperti ini.
"Sebenernya ada apa pa? Jujur, saya takut." ucap Alena panik
"Tenang Bu, Bu dokter aman sama kita."
"Tadi sore ada 3 pasien malaria yang meninggal. menurut salah satu keluarga mereka, 3 pasien itu meminum obat dari salah satu dokter yang ada disini. Kalo gak salah namanya Dokter Gunadi."
Alena terkejut. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Tiba-tiba ia melihat pemandangan yang menyedihkan. Obor-obor yang warga bawa dilempar kedalam ruangan. Api mulai menyala walaupun belum besar. Alena mulai meneteskan airmata.
"Ya Tuhan.." bisik Alena. Ia dapat melihat dengan jelas api perlahan mulai membesar. Walaupun belum menjalar, perlahan api itu akan menghanguskan apa yang ada disana. Alena tidak membawa apa-apa. Hanya handphone dan dompet yang ada disakunya.
"Ayo Bu, kita pelan-pelan berkumpul disana." ucap mereka. Alena hanya mengangguk. Mereka mulai berjalan menuju tempat aman.
Dave membuka matanya, handphonenya terdengar berbunyi.
"Siapa sih malem-malem gini telepon. Udah tau aku cape." Serunya kesal.
__ADS_1
Dave mengambil handphone yang ada dimeja nakasnya.
"Gak ada waktu lagi telpon aku malem-malem? Aku cape tau gak!" Jawab Dave kesal.
Terdengar nada terisak. Dave melihat siapa yang menghubunginya.
Alena?
"Kenapa kamu sayang?"tanya Dave cemas. "Kamu gak apa-apa?"
"Dave, disini chaos." Isak Alena.
"Chaos? Ada apa?Kamu gak apa-apa?"tanya Dave semakin cemas.
"Ada 3 warga meninggal dan warga menyalahkan kami."
"Kamu sekarang dimana?"
"Kami diamankan disalah satu ruangan yang agak jauh dari klinik."
Tiba-tiba Dave melakukan video call. Ia terkejut melihat wajah pucat Alena.
"Sayang, wajah kamu pucet! Kenapa?"
Alena menunduk. "Aku takut Dave." isaknya.
"Jangan takut Al, aku disini. Jangan tutup teleponnya. Aku temenin kamu."
Alena hanya mengangguk pelan.
"Kamu dimana tidurnya?"
Alena memperlihatkan sebuah karpet tipis yang menjadi alas tidurnya malam ini. Ia bahkan tidak mengganti pakaiannya.
"Baju kamu?"
"Dibakar sama mereka." Isak Alena.
"Udah tenang aja, nanti kita beli lagi. Yang penting kamu aman. Semalem ini kamu tidur disitu dulu. Besok aku jemput kamu buat pulang. Aku gak akan ijinin kamu buat pergi ikut misi lagi."
Alena hanya mengangguk pelan.
__ADS_1