
Dave dan semua peserta baru saja keluar dari ruang meeting dan berpindah tempat keruang yang lebih santai untuk melakukan coffee break. Mereka masih belum menemukan titik temu.
"Paling lama emang kalo ngebahas masalah permodalan. Bikin otak pusing." ujar Edward. Ia sedang memegang cangkir kopinya. Dave yang berada disampingnya hanya bisa tertawa. Ia bisa melihat jika Edward sedang pusing. Jauh-jauh terbang dari Singapura hanya untuk mengikuti meeting ini. Sayang jika mereka tidak menemukan titik temu.
Namun ketika itu Dave dihampiri oleh sekretarisnya.
"Bos, ada telepon dari rumah tadi." bisiknya.
"Kenapa?"
"Gak tau. Lebih baik ditelepon balik. Takut penting."
Dave mengeluarkan handphonenya dan langsung menghubungi Dira. Baru saja ia menelpon, tanpa banyak pikir ia langsung berlari keluar. "Titip meeting. Nenek pingsan. Aku langsung pulang!" seru Dave sambil berlari keluar.
Mendengar neneknya pingsan membuatnya takut. Ia membelah jalanan dengan mudah. Untungnya hari itu tidak macet. Ketika sampai didepan pos satpam, Dave membuka kaca jendelanya. Seorang pria berpakaian seragam membukakan pintu gerbang.
"Gimana nenek?" tanya Dave ketika ia turun dari mobilnya.
"Tadi ada beberapa dokter kesini. Sekarang ibu sedang tidur."
Dave dapat bernafas dengan lega. Dave memberikan kunci mobil pada pria itu dan berjalan kedalam. Ia menoleh ke kiri untuk melihat sekeliling rumahnya. Tiba-tiba matanya tertuju pada museumnya. Ia ingat hari ini ia memanggil Jack untuk membersihkan pakaian balapnya. Iapun berjalan menghampiri pintu yang terbuka itu. Ketika berada diambang pintu, ia melihat ada seorang wanita. Wanita itu membelakanginya. Ia memakai celana jeans dan kemeja berwarna putih. Rambutnya diikat keatas. Dave mengerutkan keningnya.
"Siapa itu?" tanya Dave. Tidak ada yang berani masuk ke museumnya kecuali Jack dan pembantu dirumah ini.
__ADS_1
"Siapa?" tanyanya lagi. Ia mulai menghampirinya.
Alena menutup matanya. Ia menunduk lemas. Ia terkejut awalnya. Sekarang ia tidak bisa menghindar. Padahal sejak tadi ia berharap tidak bertemu dengan pria itu. Pria itu kini ada dibelakangnya. Lalu apa yang harus ia lakukan? Alena membalikkan badannya sambil menutup mata. Ketika ia membuka matanya, ia dapat melihat pria itu terkejut.
"Alena?" Seru Dave kencang. Iapun mendekat.
Alena tersenyum hambar. Ia mengangkat tangannya. "Halo, Dave. Apa kabar? Sorry ya, aku harus pergi dulu." ucap Alena gugup. Ia langsung berjalan melewatinya. Namun tangan Dave menahan tangannya sehingga Alena tidak bisa bergerak.
"Tunggu! Ngapain kamu disini?"tanya Dave bingung.
"Aku tadi ngecek nenek kamu." ucap Alena gugup.
Dave mengerutkan keningnya. Dari gaya bicaranya, ia yakin Alena menyembunyikan sesuatu.
"Kamu bukan dokter jantung."
"Kenapa Dira nyari kamu?"
"Aku gak tau, lepasin aku." ucap Alena sambil mencoba terus untuk melepaskan genggaman tangan Dave
"Gak. Aku takut kamu kabur." ujar Dave. Ia semakin mempererat genggamannya.
"Kamu takut aku kabur?" tanya Alena sambil tersenyum sinis.
__ADS_1
"Ya, kamu kan spesialis tukang kabur. Buktinya pas kita putus kamu langsung kabur." jawab Dave.
Alena menggelengkan kepalanya. Ia sudah merasakan kesakitan di tangannya.
"Please Dave, lepasin aku! Kamu nyakitin aku kalo gini."
Terdengar suara berdeham diluar. Dave langsung melepaskan tangannya. Mereka langsung melihat ke pintu.
"Nenek udah bangun." ucap Dira sambil tersenyum samar.
Tanpa berkata apapun, Alena berjalan keluar.
Dira tersenyum. Ia menghampiri Dave yang masih diam. "Ada sesuatu?"
Dave melirik Dira. "Bukan urusan kamu!"
"Loh, ya udah kalo gitu saya gak akan bilang sesuatu sama kamu." jawab Dira sambil berjalan keluar.
Dave melihat Dira. "Kalo menyangkut hotel aku gak tertarik."
"Ini soal Alena."
"Apa?"
__ADS_1
"Bukan urusan kamu!" jawab Dira sambil berjalan kedalam rumah.
"Dira! Dasar asisten aneh!" teriak Dave. Dira hanya tertawa. Bagi mereka pertengkaran itu adalah hal biasa.