
Alena terbangun dipagi hari karena mendengar suara mobil berlalu lalang. Ia tersenyum ketika menyadari dirinya sudah berada dirumah. Ia melihat kekanan dan kekiri. Ia pikir Firly telah merubah kamarnya selama ia pergi. Tapi kamarnya tetap sama. Perjalanan kemarin sangat melelahkan. Ia dan Darren harus mengalami delay pesawat selama beberapa jam karena cuaca buruk. Ia harus sampai kerumahnya pukul 11 malam.
Ia berjalan dan membuka jendela. Rintik gerimis membuat cuaca begitu dingin. Rasanya ia tidak mau pergi kemana-mana. Ia diberikan libur satu hari oleh direktur rumah sakit sebelum ia memulai aktifitasnya esok hari sebagai dokter anak. Ia dapat melihat pintu gerbangnya dibuka dengan kencang. Firly datang sambil berlari. Alena berjalan menuju pintu depan. Firly mengetuknya terlalu kencang. Ketika pintu terbuka, Firly langsung memeluknya erat.
"Aku kangen sama kamu Al!! Kamu baik-baik aja kan?Kok kamu kurusan sih? Kamu kurang makan disana? Trus ini nih.. mana lemak perut kamu?" tanya Firly sambil memegang pinggang Alena. Ia melepaskan pelukannya berkeliling sambil menatapnya dari ujung rambut ke ujung kaki.
Alena langsung tertawa ketika melihat tingkah Firly. Selama di pengungsian ia tidak bisa melihat hiburan seperti ini.
"Aku sehat, Firly sayang.. Aku juga kangen sama kamu.. Apalagi tadi pertanyaannya?"goda Alena.
"Aku laper. Masakin aku sesuatu. Aku udah jagain rumah kamu, restoran kamu sama cafe kamu tanpa digaji. Inget ya tanpa digaji!" tekan Firly. Ia langsung duduk dimeja makan. Padahal di meja tidak tersedia makanan apapun.
"Aku cek dulu kulkas nya."
"Cuma ada roti. Itu punya aku!"seru Firly.
"Ya ampun Firly, gak usah pelit gitu. Nanti aku ganti. Aku baru pulang tadi malem."
"5 kali lipat gantinya!" seru Firly.
"Dasar matre! Nanti aku beli sekalian sama pabriknya!" sewot Alena.
Firly akhirnya tertawa. "Aku udah lama gak ribut sama kamu Al!"
"Jadi aku batal nih beli pabrik roti?" goda Alena sambil menggoreng bahan makanan yang dimiliki Firly selama ia tidak ada.
"Eh Al, bener loh kamu kurusan."
Alena tertawa. "Aku juga gak tau. Selama disana berat badan aku turun 5kilo. Padahal aku makan kayak biasa."
Firly berjalan kedapur. Ketempat Alena memasak.
__ADS_1
"Jangan pergi lagi Al. Kasian pasien kamu harus ketemu dokter baru."
Alena langsung tertawa. "Kasian pasien aku? Sejak kapan kamu peduli? Memangnya kamu kenal?"
"Aku maksudnya." jawab Firly sambil tertawa. "Aku gak ada temen."
"Rencananya aku mau pergi lagi. Tapi gak lama, cuma seminggu. Masih deket kok, masih bisa naik mobil selama 5 jam dari sini."
"Kalo gak lama aku gak akan kangen sama kamu." ucap Firly. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. "Eh Al, aku ketemu sama mantan pacar kamu yang kaya raya itu."
Alena langsung menghentikan kegiatannya. Ia terdiam sejenak. "Mantan pacar milyuner gitu Ly, maksudnya."
Firly mengangguk. Ditangannya kini telah ia pegang sebuah apel dan pisau. "Iya. Dia nanyain kamu Al."
"Oh ya? Trus gimana?" tanya Alena sambil membalikkan badannya.
"Ya, aku bilang jangan nyari kamu kalo niat dia cuma mau nyakitin kamu."
"Ya, kalo dia nemuin kamu berarti dia gak akan nyakitin kamu."
Alena memberikan thumbs up sambil tersenyum berseri. Alena teringat ucapan terakhir Dave ketika di telepon. Ia terus tersenyum sambil menunduk. Tapi Firly melihat perubahan Alena. Firly baru pertama kali melihat Alena seperti itu.
Andai aja kamu tau Al, laki-laki itu udah punya pacar. Tapi aku gak mau ngomong. Lebih baik kamu tau sendiri. Maafin aku. Aku gak mau liat wajah kecewa kamu pagi ini.
"Udah siap berkasnya?"tanya Dave ketika ia baru sampai ke pengadilan untuk melihat hasil akhir kasus Flower Village di Bali. Setelah hampir 3 bulan, hari ini menjadi akhir perjalanan kasus itu.
Dega mengangkat tangannya yang memegang berkas. Sedangkan Calvin sudah tiba disana sejak pagi. Ia sedang meminum kopinya.
"Jam berapa sidangnya?"tanya Dave pada Dega.
"Jadwal jam 2 siang. Tapi kita lagi cari ruangan kosong. Hari ini banyak sidang perdata." ucap Dega.
__ADS_1
Dave menatap jam tangannya serius. Tiba-tiba sebuah tangan terulur. Calvin memberinya secangkir kopi. "Minum dulu. Kita harus fresh sebelum denger hasil ketuk palu."
Dave mengambilnya dan kemudian duduk disamping Calvin. "Beres urusan sama Edward?" tanya Calvin.
"Beres." jawab Dave sambil tersenyum. Iapun meminum kopinya.
Dega mendekati mereka. "Kenapa lagi si Edward? Dia cari masalah lagi?"
"Adik kamu kali ini bertindak bener sama Dave, ga.." jawab Calvin. "Tapi aku gak ngerti kenapa dia tiba-tiba pindah ke Singapura."
"Apalagi kalo bukan cewek. Dia patah hati sama orang sini." jawab Dega.
Calvin menyimpan minumannya. Sedangkan Dave melihat berkas yang ada padanya.
"Cerita sama kamu?" tanya Calvin.
"Enggak. Cuma perasaan aku aja. Aku wanita dengan berbagai pengalaman. Aku yakin dia patah hati." jawab Dega sambil tertawa.
Dave menutup map yang dibacanya. "Ga, bener ini hasil pertemuan kamu sama lawyer sana?"
"Nanti kita bisa obrolin lagi. Kita tunggu hasil sidang nanti."
"Kalo hasil kerugian segini, aku gak akan ganti rugi terlalu banyak. Aku udah siap kalo gini."
"Tahan dulu, Dave. Masih bisa berkurang kerugiannya. Kesalahan bukan sepenuhnya dipihak kalian."
"Eh Dave, aku baru inget. Kita ada penawaran lagi." ucap Calvin.
"Apalagi?"
"Resort di Batam."
__ADS_1
"Ambil!" seru Dave sambil tertawa.