When Billionare meet doctor

When Billionare meet doctor
Pertemuan tak terduga


__ADS_3

Alena sedang berjalan di koridor rumah sakit ketika ia mendengar ada suara anak kecil memanggilnya. Ia berbalik dan terkejut ketika melihat siapa yang memanggilnya.


Dave kecil dengan kepolosan wajahnya sedang berlari menghampirinya. Neneknya berada dibelakangnya sambil tersenyum. Dan masih ada lagi, pria muda dan wanita muda berjalan dibelakangnya.


Alena berjongkok ketika anak itu sudah berada didepannya."Halo Dave sayang. Apa kabar?" tanya Alena sambil menatap wajah kecil itu.


Anak itu hanya tersenyum.


"Selamat siang Bu dokter." ucap neneknya.


Alena bangun dan tersenyum ramah. "Siang ibu, bagaimana kabarnya?" tanya Alena sambil menjulurkan tangannya.


"Baik dokter. Saya bawa anak saya. Ini kedua orangtua Dave." ucapnya sambil membalik kebelakang.


Kedua orang itu langsung menjulurkan tangannya. Mereka terlihat masih muda. Alena heran, usia mereka ia perkirakan masih dibawah 25 tahun. Tapi mereka sudah bisa menjalani sebuah pernikahan. Beda dengannya. Usianya menginjak 29 tahun. Namun ia belum ada keinginan untuk segera menikah.


"Saya Alena. Dokternya Dave. Masih muda ya?" tanya Alena.


Kedua orang itu hanya tersenyum.


"Mari Bu, kita bicara diruangan saya. Saya mau tau perkembangan Dave selama saya gak ada." Alena berjalan menuju ruangannya sambil memegang tangan Dave kecil. Mereka bertiga mengikuti dari belakang.


Menurut neneknya Dave, Dave kecil sudah mengalami banyak kemajuan. Terapi itu sudah bisa membuat Dave berbicara, walaupun hanya sedikit. Buktinya tadi ia memanggil namanya. Kedua orangtua Dave pun kini lebih protect terhadap anaknya. Ia senang jika semuanya dapat berakhir dengan baik.


"Al!" panggil Firly.


Alena membuka matanya. Ia melihat Firly sudah ada didepannya. "Kapan dateng?" tanya Alena. Ia meregangkan ototnya.


"Kamu tidur?" tanya Firly sambil menggelengkan kepalanya.


"Aku capek. Aku ketiduran bentar." jawab Alena. "Mau ngapain kamu kesini?"

__ADS_1


"Kamu lupa, hari ini kita mau nyari makan enak. Jalan-jalan trus shopping kalo bisa. 3 bulan kamu ada di pengungsian, sekarang udah waktunya kamu main ke mall."


"Jangan mahal-mahal. Aku bangkrut." jawab Alena dengan wajah sedih.


Firly tertawa mendengar nada sedih Alena. "Dokter plus owner resto sama cafe bilang bangkrut. Jangan banyak alasan. Ikut aku sekarang!" Firly menarik tangan Alena. Mau tidak mau Alena ikut walaupun hatinya berkata tidak mau.


"Menurut kamu kita beli kado apa, sayang?" tanya Amanda ketika baru saja turun dari mobil. Gadis itu langsung bergelayut manja di lengan Dave.


"Aku gak tau, mama kamu sukanya apa?" tanya Dave datar. Ia melihat Amanda. Ketika ia menjemputnya tadi, gadis itu terlihat sangat antusias.


"Kita beli perhiasan aja, sayang. Gimana? Mama aku suka banget sama perhiasan. Apalagi kalo ada berliannya kayak cincin ini." ujarnya manja. Ia mengangkat jari-jarinya. Cincin berlian yang terlihat mewah itu memang cocok berada dijari gadis cantik.


Dave hanya diam. Apakah benar jika Amanda hanya ingin lebih parah dari Alena?


"Sayang, kita kesana." tunjuk Amanda pada sebuah gerai perhiasan.


"Kita jalan-jalan dulu. Liat perhiasan bisa nanti." jawab Dave mencoba mengalihkan perhatian Amanda.


"Sayang, kita kesana dulu!"


"Kita pergi yuk!" bisik Alena. Ia paling tidak tahan berada di acara ramai.


"Bentar Al." bisik Firly.


Alena memutuskan untuk sedikit menjauh dari kerumunan. Ketika ia berada disudut, ia melihat Dave. Jantung Alena langsung berdegup dengan kencang. Dave pun melihat Alena dengan tatapan tidak percaya. Ia terkejut.


Alena hampir saja menyunggingkan senyumannya namun ia urungkan ketika ia melihat salah satu tangannya terdapat apitan lengan seorang wanita. Alena menunduk. Ia tidak siap jika hari ini tiba. Demi Tuhan,, ia tidak siap.


Dave berdebar. Ia melihat Alena sedang berada disudut ruangan toko tas itu. Ia merindukan dokter cantik itu. Jantungnya berdebar dengan kencang. Ia terus berjalan tanpa sadar. Otaknya mengendalikan semua sendi tubuhya. Ia refleks langsung berjalan menghampirinya.


"Al." ucapnya kencang.

__ADS_1


Alena mengangkat kepalanya. Ia tersenyum dengan sangat manis pada Dave. Ia merasa kaku, bimbang dan galau. Ini pertama kalinya ia merasakan itu.


"Halo Dave." ucap Alena ramah seperti biasanya. Ia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan."Ternyata kita ketemu lagi."tambahnya senang. Tiba-tiba perempuan disamping Dave menunjukkan batang hidungnya. Alena melihatnya. Apakah ia harus tersenyum atau marah?


"Ini siapa?" tanya Amanda bingung.


Ia mengulurkan tangannya.


"Saya Alena." jawab Alena ramah. Gadis itu sangat cantik. Ia terlihat sangat serasi berada disamping Dave. Tapi siapa gadis muda itu?


"Kenalin Al, dia..." ucap Dave. Perkataannya tertahan ketika Amanda mengulurkan tangannya.


"Saya Amanda. Tunangannya Dave."


Alena langsung menarik kembali tangannya. Ia merasa menyedihkan sore ini. Alena menatap Dave tidak percaya. Beberapa hari yang lalu ia jelas-jelas mendengar Dave mengatakan jika ia miliknya. Tapi kebenarannya adalah Dave sudah bertunangan dengan orang lain.


Alena tersenyum memaksa. Ia kembali mengulurkan tangannya. "Halo." ucapnya pelan pada Amanda. Ia melihat sesuatu yang bersinar terang di jari manisnya. Alena hanya menutup matanya selama beberapa detik. Tiba-tiba gadis itu melepaskan lengannya. "Aku kesitu dulu, sayang. Kamu ada temen kan. Kalian ngobrol dulu nanti aku kesini." ucap Amanda sambil berjalan pergi.


"Al, aku bisa jelasin." bisik Dave ketika Amanda pergi.


"It's ok, Dave. Tunangan kamu cantik." jawab Alena dengan bibir bergetar. Ia tersenyum memaksa tanpa mau menatap mata Dave.


"Aku bisa jelasin." tekan Dave. Ia memegang lengan Alena.


Alena mengangkat tangannya pelan. Ia menolak Dave dengan halus.


"Al!" panggil Dave menyesal. Ia baru pertama kali melihat wajah Alena seperti itu.


"Sorry Dave, aku keluar dulu." ucap Alena sambil berlari keluar. Ia mencari kamar mandi yang ada di mall itu. Ia mengunci diri disalah satu kamar mandi yang ada.


Kenapa tadi ia merasa malas untuk ikut Firly? Ternyata inilah jawabannya. Alena menutup mulutnya. Ia mulai menangis tanpa terdengar siapapun.

__ADS_1


__ADS_2