When Billionare meet doctor

When Billionare meet doctor
Dewa Penyelamat


__ADS_3

Ruang makan itu terasa sempit dengan kedatangan satu tamu baru. Mereka semua terdiam.


"Sayang, makanannya enak, siapa yang bikin? ini mirip chef aku makanannya.." ucap Amanda.


"Alena yang bikin. Dia jago masak. Dia bahkan punya restoran sama cafe sendiri." Jawab Edward.


Alena hanya terdiam tanpa mau menatap perempuan itu.


"Kamu yang bikin?"tanya Amanda pada Alena.


Alena mengangkat wajahnya. Ia tersenyum memaksa. "Iya."


"Masakan kamu cocok dilidah aku. Kamu mau gak masak dirumah aku pas nanti aku ulangtahun bulan depan? Aku bayar mahal deh melebihi chef dirumah aku."


Alena menggelengkan kepalanya. Tangannya menahan tangan Edward yang ada disampingnya. Ia tahu Edward marah.


"Kalo gitu aku kasih kamu 10jt per menu gimana?Aku cuma ngundang 50orang aja. Gimana? Masa nolak? Kalo dibandingin sama omset restoran kamu pasti jauh lebih banyak dari aku. Bener kan?"


"Amanda. Diem! Jangan ngomong lagi!" seru Dave marah.


"Kenapa sayang? Aku cuma minta dia masak di acara ulangtahun aku bulan depan. Bahkan aku bayar lebih! Kamu nemu temen kayak gini dimana sih? Aku kan mau bantuin temen kamu. Liatin dia pake bajunya aja biasa aja." ujar Amanda


Edward langsung berdiri. Ia marah.


"Kamu gak tau Alena ini siapa? Jangan seenaknya menghina orang! Dasar perempuan oplas! Bahkan posisi kamu sama Alena lebih tinggi Alena!" ucap Edward marah.


"Gak ada yang lebih tinggi dari aku. Aku calon arsitek. Sedangkan dia? dia cuma punya warung nasi!"


"Amanda, diem! Jangan kurang ajar sama Alena. dia dokter !" seru Dave marah. "Tega-teganya kamu menghina fisik seseorang hanya dari pakaian yang dia pakai.."

__ADS_1


"Aku cuma ngomong kenyataan!" jawab Amanda tidak mau kalah.


Alena berdiri. Ia membuka celemeknya dan merapikan piringnya punya ia sendiri.


"Apa yang kamu dapatkan itu hanya dengan meminta sana orangtua kamu. Kalo aku boleh sombong, harta kamu gak akan sebanyak harta yang aku punya. Kamu masih belum bisa menghasilkan apa-apa selain minta sama Dave. Jujur!" jawab Alena kesal.


Amanda berdiri dan tanpa aba-aba langsung menampar wajah Alena dengan kencang.


"Wait!" seru Edward. Ia langsung memeluk Alena dengan lengan kirinya.


Dave marah pada Amanda. "Kalo kamu gak bisa menempatkan diri, keluar kamu dari sini!" teriak Dave pada Amanda.


"Maafin aku sayang, aku kelepasan." Jawab Amanda sambil menangis. "Aku gak bermaksud nampar cewek itu."


Alena memegang pipi kirinya yang berdenyut akibat ditampar tadi.


"Aku pulang ya, rasanya aku gak enak karena jadi penghalang kalian." ucap Alena sambil tersenyum pada Sandra dan Calvin. "Harusnya kalian bersenang-senang tapi malah kayak gini. Maafin aku."


"Enggak Al, kamu aku undang kesini. Aku anter kamu pulang.." jawab Dave.


Alena tidak mendengar ucapan Dave. Ia langsung berjalan keluar.


"Al, tunggu!" panggil Dave. Ia mengejarnya.


Alena membalikkan badannya. Ia tersenyum pada Dave. "Dave, kamu tau kalo kita ini udah gak punya hubungan lagi. Please, jangan mempersulit aku! Aku lupain kejadian hari ini. Jangan pernah ganggu aku lagi mulai malam ini."


"Aku gak bisa lepas dari kamu, Al." jawab Dave pelan.


"Tunangan kamu, kamu udah milih dia sejak awal. Jangan kecewain dia."jawab Alena sambil berjalan pergi.

__ADS_1


Sulit untuk tidak menangis setelah mendapat penghinaan dari seorang anak kecil yang tidak mengerti bagaimana indahnya roda kehidupan. Airmatanya mulai menetes. Tidak pernah ia mendapatkan penghinaan seumur hidupnya. Bahkan profesinya pun dipertanyakan.


Ivan sedang melihat handphonenya ketika ia sedang berada di lampu merah. Ia sedang menuju apartemen setelah seharian berada diluar. k


Ketika ia melihat kesamping, ia melihat seseorang yang ia kenal. Ivan menghentikan mobilnya disamping. Iapun turun.


"Apa kamu sering telat datang ke kantor setelah jam istirahat?" tanya Ivan dengan nada sedikit dingin.


Alena menoleh padanya dengan wajah sembab. Ia terlihat terkejut namun langsung merasa lega.


"Kenapa?"


"Dokter Ivan, maafin aku hari ini. Aku ada dirumah nenek sampe dia bangun." ucap Alena sedih.


"Kamu kenapa, dok?" tanya Ivan bingung.


Alena menyimpan tangannya didada. "Aku sakit, dok!"


Ivan langsung memegang lengan Alena dan mengeceknya. "Normal."


"Kamu baik-baik aja." jawab Ivan bingung. "Kenapa kamu malam-malam ada diluar? Kamu gak takut?"


"Aku dari rumah temen." jawab Alena. "Dok, bisa anterin aku pulang?"


"Ya udah cepet naik mobil. Aku anter kamu pulang."


"Makasih dok." jawab Alena.


Edward tersenyum melihat Alena bersama seorang pria asing berbeda. "Dave, aku kasian sama kamu. Saingan kamu bertambah " ucapnya sambil tertawa.

__ADS_1


__ADS_2