
Setelah menyelesaikan pekerjaannya dan bertemu dengan pasien-pasiennya, Alena langsung pergi untuk melihat restoran. Setelah malam itu Dave menghubunginya, ia tidak lagi menelponnya lagi. Dan ini telah berjalan lebih dari satu minggu. Tidak ada kabar sama sekali. Pernah ia bertemu Sandra, Calvin hampir tiap jam selalu menghubunginya. Ia berfikir jika Dave sudah melupakannya.
"Jadi grand openingnya besok?" tanya Firly membuyarkan lamunannya.
"Iya, malam ini aku siapin semua." Jawab Alena sambil memakai celemeknya. Restoran itu tidak terlalu besar. Kursi-kursi sudah siap Dan ia sudah menyiapkan orang-orang yang ahli.
"Al, ngomong-ngomong pacar kamu apa kabar?"
Alena menatap Firly. "Aku gak tau. Dia gak pernah ngasih kabar."
"Jangan-jangan si Dave udah punya pacar lagi. Dasar cowok aneh." Ucap Firly kesal.
Alena hanya terdiam tanpa menjawab ucapan Firly. Kalaupun memang pria itu sudah punya pacar lagi, Ia tidak punya hak untuk menentangnya. Lagipula mereka hanya pacaran 2 bulan saja. Hari ini tepat 6 minggu mereka memutuskan pacaran dan pria itu tetap tidak ada disampingnya. Hatinya tiba-tiba sedih.
Firly menatap sahabatnya. Ia memeluk bahu Alena. "Jangan sedih, aku pasti bisa nyari gantinya buat kamu yang lebih baik dari dia. Aku janji." Ucapnya.
"Aku gak sedih." elak Alena sambil tersenyum samar.
"Mata kamu gak bisa bohong Al. Jangan pernah ngomong kalo kamu gak punya perasaan sama Dave. Aku yakin kamu ada perasaan walaupun sedikit."
Alena hanya diam sambil terus melanjutkan pekerjaannya.
Dave dan kedua sahabatnya baru saja tiba dibandara. Mereka senang setelah hampir 3 minggu berada diluar kota dan luar negeri, melenceng dari rencana semula yang hanya 2 minggu diluar negeri. Tapi mereka mendapatkan hasilnya yang memuaskan. Flower Village sudah dapat diatasi. Pimpro sudah ditemukan dan sekarang berada di kantor polisi. Tinggal menunggu penyelidikan polisi lebih rinci.
"Dave, aku sama Edward mau langsung ke bar. Kita udah kangen. Kamu ikut gak?" Tanya Calvin.
"Aku harus pulang. Kemarin nenek manggil aku." Jawabnya.
Dave memakai mobil yang tadi diantarkan oleh karyawannya. Ia putuskan untuk melewati rumah Alena. Ia ingin bertemu dengan gadis itu
Seminggu ia tidak menghubunginya karena semuanya serba sibuk. Ia tidak bisa fokus pada kasus Flower Village jika ia menghubungi Alena.
Ia mencoba menghubunginya sejak turun dari pesawat tadi tapi handphonenya tidak aktif.
Ketika melewati rumah Alena, rumah itu gelap. Ia tahu jika Alena belum pulang. Dan kini ia berada dirumah sakit. Tapi ia urungkan untuk masuk kedalam. Lebih baik ia pergi kerumah nenek dahulu dan setelah itu ia akan menemui Alena dirumah sakit.
Siska tertawa ketika mendengar penjelasan Dira. Ia sangat tahu watak cucunya. Tidak mungkin jika Dave langsung jatuh cinta pada Alena. Ia tahu itu dengan pasti.
"Jadi gimana bu?"tanya Dira cemas.
"Kita tunggu sampe 2 bulan. Saya yakin kalo nanti Dave malah cinta beneran sama Alena"
Dira tersenyum. "Pesona Dokter Alena memang bisa membius siapa saja yang pertama melihatnya, bu. Baik, cantik, pintar, siapapun akan tertarik."
Siska menatap Dira."Termasuk kamu?" tanyanya menggoda Dira.
Dira tersenyum. "Kalau saya belum punya istri , pastinya tertarik bu, tapi saya ingat anak."
__ADS_1
Siska langsung mengacungkan ibu jarinya. "Itu pria hebat."
Terdengar suara mobil diluar rumahnya. Siska tahu pasti Dave yang datang. Ketika pintu dibuka, ia mendengar Dave berteriak memanggilnya.
"Disini, Dave." Panggil siska.
Dave menghampiri Siska dan memeluknya. "Ada apa nek manggil aku?"
"Nenek mau tanya gimana perkembangan hubungan kalian."
"Hubungan aku sama Alena?" Tanya Dave.
Siska mengangguk.
"Hari ini tepat 6 minggu kita pacaran" Jawab Dave tenang.
"Trus gak kamu rayain?" Tanya Siska curiga.
"Aku kan baru turun dari pesawat, nek. Aku udah hampir 3 minggu gak ketemu Alena."
Siska terkejut. "Jadi maksud kamu, selama 2 bulan kalian pacaran, hampir 3 minggu kalian gak ketemu?"
Dave mengangguk.
"Kalo gitu kenapa gak kamu samperin aja sekarang."
Siska menatap Dira sambil tersenyum. "Bawa Alena ke acara ulangtahun nenek minggu depan. Nenek mau ketemu. Sekalian nenek mau kenalin kamu ke klien-klien nenek."
Dave tersenyum. Akhirnya neneknya mengatakannya. "Oke nek, nanti aku bawa Alena keultah nenek." Dave langsung berdiri dan berjalan keluar. "Aku pulang dulu nek, mau ketemu Alena. Aku udah kangen." Tambahnya sambil berjalan keluar. Ia bersiul girang.
"Beli bunga, Dave." Teriak neneknya.
Dave sudah keluar rumah begitu saja. Siska tertawa. "Gimana menurut kamu?" Tanyanya pada Dira.
"Sepertinya memang sudah cinta, bu. Saya gak pernah liat Dave seperti itu."
"Saya senang Alena bisa ngerubahnya dalam waktu cepat. Semuanya kilat. Kalaupun mereka tidak pacaran, warisan tetep jatuh ke tangan Dave. Mana tega saya ngasih warisan ke tangan orang lain. Tapi Alena anak baik. Sayang kalau dia gak jadi menantu keluarga ini. Mudah-mudahan ia berjodoh dengan Dave."
Dira hanya tersenyum mendengar penjelasan Siska.
Dave membawa mobilnya menuju rumah sakit. Ia ingin cepat- cepat bertemu untuk melepas rindu. Ketika sampai dirumah sakit, ia sempat mengambil buket bunga yang tadi ia beli. Tapi ia urungkan kembali niatnya dan menyimpannya kembali dikursi belakang. Biar nanti Alena sendiri yang ambil, pikirnya.
Ia keluar dari mobil dan berjalan menuju resepsionis. Belum sampai ke meja resepsionis, seorang perawat yang berpapasan dengannya memanggilnya.
Ia membalikkan badannya dan melihat perawat itu. Ia sedikit ingat jika gadis itu perawat yang biasa bersama Alena.
"Mau cari dokter Alena ya pa?"tanyanya ramah.
__ADS_1
"Ya, ada?" Tanya dave.
"Dokter Alena udah pulang dari siang."
Dave terkejut. "Udah pulang?"
"Iya, masa pacarnya dokter Alena gak tau jadwal pacarnya?" Tanyanya sambil tertawa.
"Oke, oke, thanks infonya." Jawab Dave sambil berlari menuju mobil. Ia langsung pergi menuju yayasan. Tapi ditengah jalan instingnya mengatakan Alena tidak ada disana.
Iapun membalikkan mobilnya menuju restoran Firly.
Ketika sampai disana, ia tidak bisa menemukan Alena maupun Firly. Iapun bertanya pada salah satu pelayan disana.
"Ibu Firly ada?"
Pelayan itu sedikit gugup. "Gak ada pa, udah pulang."
Dave mengerutkan keningnya. Ia curiga ada sesuatu. Pada akhirnya ia menunggu diluar restoran untuk menunggu Firly keluar. Firly pasti tahu keberadaan Alena. Mereka bersahabat.
Firly mengendap-endap dan melihat Dave yang berada diluar. Ia sengaja bersembunyi untuk memberi pelajaran pada pria itu karena menyia-nyiakan sahabatnya. Para pegawai yang melihatnya hanya tersenyum samar.
Setelah bersembunyi selama satu jam, Firly keluar dari persembunyiannya dan menghampiri Dave karena laki-laki itu masih bertahan disana.
"Ada apa nyari aku?"tanya Firly sewot.
"Dari tadi kamu ada didalam?"tanya Dave bingung.
"Iya, kenapa?"
"Kenapa sewot gitu sih?" Tanya Dave kesal.
"Aku sewot karena kamu maenin Alena. Kamu cakep tapi gak punya hati."keluhnya.
"Aku gak mau denger kritikan kamu. Aku gak ngerasa maenin Alena. Sekarang aku tanya, dimana Alena? Aku telepon gak pernah diangkat."
"Pastinya gak akan diangkat. Dia lagi sibuk. Emang enak.. Selama kamu di Amerika juga Alena sering telepon kamu,tapi gak pernah diangkat." Ucap Firly sewot.
"Telepon aku?" Tanyanya bingung. Kemudian ia menatap Firly. "Please,dimana Alena. Kasih tau aku."
Firly mendesah. "Kalo bukan kasian,aku gak mau ngasih tau kamu dimana Alena sekarang." ucap Firly.
Dave menunggu. Ia menatap Firly.
Akhirnya Firly meminta handphone Dave. Dave memberikannya tapi ia cemas.
"Buat apa?"tanya Dave bingung.
__ADS_1
"Udah diem aja." Jawab Firly. Tak lama iapun memberikan handphone Dave kembali padanya. "Ini maps nya." Ucap Firly kemudian.