When Billionare meet doctor

When Billionare meet doctor
Propose


__ADS_3

"Al, kamu liat tadi? banyak anak kecil ngejar-ngejar mobil ini. Aku jadi pengen ketawa." Ujar Dave sambil tertawa. Mereka kini sedang diperjalanan pulang.


"Karena didesa itu, belum pernah ada mobil sebagus ini. Mengkilat lagi. Warnanya ngejreng lagi. Baru ya?Kok aku gak dikasih tau?"tanya Alena.


Dave tersenyum. "Biar refresh. Masa mobil aku si hitam terus. Sekali-kali si merah juga harus dicoba." Dave maju untuk memijit CD. Terdengar lagu-lagu ballad kesukaan Alena.


"Makasih sayang. Kamu tau favorit aku." ucap Alena.


"Ngomong-ngomong kenapa di desa itu sudah sinyal? Apa mereka masih kampungan? Jadi telepon selular belum ada?"


Alena menggelengkan kepalanya. "Bukan.. Didesa itu gak ada menara telepon seluler. Jadi, ada menaranya itu dikampung sebelah. Otomatis sinyalnya agak susah."


"Tapi tadi malem kamu bisa video call sama aku?"


"Karna aku diem di bale desa. Bale desa itu ada diperbatasan sama desa sebelah. Trus disana ada WiFi juga."


"Oh, pantesan. Trus tadi malem jadinya gimana? Liat si Darren mukanya loyo gitu.." tanya Dave sambil tertawa puas.


Alena memukul bahu Dave. "Jangan gitu Dave, kamu gak ngerasain gimana kita tadi malem. Aku sampe harus berbagi karpet buat tidur sama mereka."


Dave menghentikan mobilnya. "Kalian tidur bareng? Kenapa? Kok bisa?"


"Mulai deh jealous nya dateng lagi. Kami, dokter-dokter yang berjumlah 7 orang itu dikumpulin demi keamanan kita. Terpaksa aku tidur bareng mereka."


"Trus kamu diapain sama mereka?" tanya Dave.


"Ya ampun, Dave.. aku gak diapa-apain. Mereka bahkan ngejagain aku tidur. Mereka gak ada yang tidur!" Seru Alena marah. Ia langsung membuka handphonenya. Sedangkan Dave melanjutkan menyetir kembali.


Alena membuka handphonenya. Ia bingung.


"Dave, kita mau kemana?"


"Diem, aku mau nyulik kamu. Tau gak ? Tadi aku nyasar kesini." jawabnya serius. Walaupun tanpa Alena sadari, Dave sedang menyiapkan perasaannya.


"Kamu nyasar sampe sini?" tanya Alena sambil tertawa.


"Aku lagi gak nerima diketawain!" jawab Dave kesal.

__ADS_1


Alena mengangguk sambil menahan tawanya.


Mobil itu kini memasuki sebuah taman wisata air terjun. Alena melihat dari dalam mobil. Ia melihat Dave.


"Mau ngapain kita kesini?"tanya Alena bingung. "Kamu mau liat air terjun?"tambahnya.


"Turun duluan!" seru Dave. Alena mengikuti ucapan Dave. Ia turun terlebih dahulu.


Dave menatap Alena yang membelakanginya. Ia menahan nafas. Rasanya terlalu gugup. Ini pertama kalinya ia harus melamar seseorang. Iapun turun dan berjalan menghampiri Alena. Mereka berdua masuk kedalam. Banyak remaja dan orang dewasa yang keluar masuk area air terjun.


"Wah, Dave.. bagus banget!" seru Alena sambil menatap pemandangan indah didepannya.


Dave mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya. Tidak ada. Sesuatu yang sudah ia beli dengan sangat mahal ketika pergi ke Italy. Ia panik. Dimana cincin yang sudah ia beli? Ia menatap Alena cemas. Tiba-tiba handphone nya bergetarm Ada pesan masuk. Sebuah foto. Calvin mengirimkan sebuah foto.


"KETINGGALAN, BRO!" ucapnya dengan mengirimkan gambar kotak cincin yang sudah jauh-jauh ia beli.


Alena berbalik. Ia menatap wajah Dave yang pucat. "Kenapa Dave?" tanya Alena.


Dave menatap Alena kesal. "Kamu tau gak? Aku ajak kamu kesini karena aku mau lamar kamu. Tapi, cincinnya ketinggalan dimeja kantor."


"Trus gimana?" tanya Alena sambil menahan tawa.


"Ya gagal. Aku gak bisa ngelamar kamu!"


"Ngelamar gak perlu pake cincin, Dave. Tanpa cincin pun aku mau kok." jawab Alena.


"Gak akan romantis Al." seru Dave kesal. Tina-tiba wajahnya berubah. "Mau apa Al?" tanyanya lagi. Ia menatap Alena dengan serius.


Alena menghela nafas. "Tanpa cincin pun, aku mau kok nikah sama kamu."


"Bentar-bentar. Kan harusnya aku yang nanya dulu ke kamu. Will you marry me? Kenapa kamu udah ada jawabannya?"


Alena tertawa. "Dave, kamu kelamaan kerja jadi error"


"Aku nyiapin ini sejak aku ada di Italy."


Alena masih tertawa sebelum akhirnya berkata. "Oke, sekarang kamu ucapin yang udah kamu siapin."

__ADS_1


"Bentar." ucap Dave. Ia menarik nafas panjang dan mengeluarkannya. Ia memegang kedua tangan Alena. "Alena, Will you marry me?"


"Yes!" jawab Alena cepat.


Dave melotot. "Belum beres ngomongnya. Maukah kamu menikah denganku?Dengan segala kekuranganku? Dengan segala skandal-skandalku?"


"Yes! Tapi awas kalo aku liat kamu godain cewek lain lagi!" jawab Alena sambil melotot.


Dave tersenyum. "Oke, oke, trus gimana lagi? Kok gara-gara nyasar tadi aku jadi b*go ya?"


Alena tertawa terbahak-bahak sebelum akhirnya Dave menarik Alena dan menciumnya dengan mesra.


Beberapa pengunjung terkejut melihat mereka berdua tapi mereka bertepuk tangan pada akhirnya.


Siska menatap kedua orang didepannya. Alena sudah kembali dan ia bersama Dave. Mereka saling berpegangan tangan. Siska tersenyum. Pada akhirnya mereka bersama tanpa syarat apapun. Ia merasa bahagia.


"Dave mau nikah sama Alena secepatnya nek. Kalo bisa minggu depan."


Kedua mata Alena membesar. Ia bangun dari duduknya dan menghampiri Dave. "Dave, kenapa buat keputusan sepihak?"


Ia melihat Alena dan memegang pundaknya dengan kedua tangannya.


"Denger, aku udah gak ada waktu lagi. Aku gak mau ditinggalin lagi. Aku gak percaya sama kamu." Ucapnya sambil memeluk Alena.


"Tapi Dev, bulan depan aku jadi relawan lagi 2 minggu." Ucap Alena menggoda Dave.


"Aku ikut kemanapun kamu pergi."


Alena hanya tersenyum sambil membalas pelukan Dave.


"Kalian itu ya! Nenek kan belum setuju buat pernikahan kalian. Dave! Gak bisa dalam seminggu ini. Nenek gak sanggup. Pernikahan kalian gak bisa biasa-biasa. Seenggaknya kalian harus nunggu sebulan."


"Gak apa-apa nek. Yang paling cepet aja."


Siska hanya menggelengkan kepalanya. Awalnya ia memang tau jika Dave sangat sulit ditaklukan oleh wanita. Ia tahu Dave tidak pernah serius terhadap wanita. Tapi, ketika ia diselamatkan oleh Alena, ia tahu jika Alena bisa menaklukkan hati Dave. Dan begitulah sekarang. Mereka berada didepannya sedang berpelukan. Mereka terlihat sangat bahagia. Begitu juga dengannya.


END

__ADS_1


__ADS_2