
Alena terbangun dengan keadaan sangat pusing. Ia mengingat-ingat kejadian tadi sore. Ia melihat sekelilingnya. Ia tidak berada dirumahnya. Ia bangkit dan duduk di ranjang. Pintu tertutup dengan rapat. Ia ketakutan. Apa yang terjadi? Apakah ia diculik? Sebuah langkah kaki terdengar menghampirinya. Langkah kaki yang begitu pelan. Pintu terbuka dengan cukup pelan. Alena menutup matanya karena takut.
"Alena, sudah bangun?" tanya seorang wanita.
Alena membuka matanya. "Nenek?" tanyanya terkejut.
"Semuanya sudah berakhir Alena." ucap Siska sambil menghampirinya.
"Dokter Ivan?" tanya Alena bingung.
"Ya, dia adalah seorang psikopat. Nenek kecewa karena direktur kamu tidak mengatakan hal yang sebenarnya pada nenek."
Alena bingung. "Prof?"
Siska mengangguk. "Ya, profesor kesayangan kamu itu adalah sahabat nenek. Ivan itu adalah anaknya dari pernikahan kedua. Menurutnya Ivan sudah berbeda sejak kecil."
"Sekarang dokter Ivan dimana?"
"Malam ini nenek yakin ia ditangkap oleh polisi. Karena ia adalah tahanan interpol. Menurut polisi, Ivan sedang dalam masa pengawasan. Jika ia melakukan hal yang sama, konsekuensinya ia dimasukkan kembali ke penjara. Menurut ayahnya, dia datang kesini untuk melanjutkan rumah sakit dibawah kepemimpinannya. Sayangnya ia telah membuat kamu sulit beberapa hari ini. Sifat buruk seperti itu sangat sulit diubah." ucapnya sambil tersenyum. "Kamu pasti masih pusing. Lebih baik kamu tidur."
Alena mengerutkan keningnya. "Kenapa nenek tau?"
"Nenek selalu mengetahui gerak gerik kamu, Al. Nenek ingin melindungi kamu. Dan tanpa kamu sadari, banyak bahaya mengintai kamu."
Alena menunduk. Namun Siska menyuruhnya untuk kembali tidur. Dan itulah yang dilakukannya.
Sebelumnya
Ivan menyeringai puas ketika melihat wanita itu tergeletak tak berdaya dilantai. Wanita ini adalah wanita yang telah membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama. Wanita ini adalah wanita pertama yang menolak ajakannya. Wanita ini adalah wanita yang telah mempermainkan perasaannya. Ia pantas mendapatkan perlakuan seperti itu.
Ketika ia akan mengangkat tubuh Alena, tiba-tiba kepalanya ditendang dari belakang hingga ia tersungkur di lantai.
"Siapa?" tanyanya marah. Ia berbalik kebelakang. Tiga orang pria dengan pakaian hitam-hitam berdiri dibelakangnya.
"Siapa kalian?" tanya Ivan marah.
"Kami polisi!" seru mereka.
Kedua orang langsung meringkus Ivan. Namun Ivan dapat melepaskan diri. Ia kabur melalui pintu belakang rumah.
Tak lama kemudian, Dira masuk dan melihat Alena dalam keadaan tidak sadar. Ia sudah dipindahkan keatas sofa.
"Tolong bawa ke mobil saya. Saya akan bawa kerumah ibu Siska." ucapnya.
Sudah hampir satu jam Dave tidak bisa menghubungi Alena. Ia cemas. Ketika ia sudah tidak bisa berfikir, ia berlari dengan cepat menuju mobilnya.
Dave membawa mobilnya ke rumah sakit seperti orang kehilangan akal. Sesampainya dirumah sakit, ia berlari menuju resepsionis.
__ADS_1
"Dokter Alena?" tanyanya sambil terengah.
"Dokter Alena sudah pulang dua jam yang lalu." jawab mereka bersamaan.
Dave panik. Seharusnya Alena menghubunginya ketika pulang tadi. Iapun berlari kemobilnya. Ketika sampai dirumah Alena, ia terkejut melihat rumahnya dikelilingi garis polisi.
"Al!" panggil Dave sambil tergesa-gesa. Ia berlari masuk kedalam rumah. Tidak ada tanda-tanda kehadiran Alena disana. Ia menjadi takut. Berbagai benda terlihat sangat berantakan. Terlihat handphone Alena masih tergeletak dilantai.
Ia menghampiri seseorang yang merupakan tetangganya sedang berjaga diluar rumah. "Alena dimana?"
"Tadi ada yang bawa karena dokter Alena dibius."
"Kemana?" tanya Dave panik.
Pria itu menggelengkan kepalanya.
Dave tidak pernah sepanik ini seumur hidupnya. Ia hanya berharap Alena baik-baik saja.
"Vin! Alena diculik!" ucap Dave panik.
Calvin yang saat itu sedang berada dikursi kerjanya langsung berdiri dengan keras. "Apa? Sekarang kamu dimana?"
"Aku dijalan. Aku gak tau kemana harus cari Alena." jawab Dave panik.
"Tenang Dave!" Calvin berfikir sejenak. "Coba kamu minta tolong sama nenek kamu buat cari dimana Alena sekarang "
Siska berada di kamarnya ketika pintu itu terbuka dengan kencang. Dave datang dengan wajah pucat.
"Nek, tolong aku!" ucapnya panik. Bulir-bulir keringat telah membasahi wajahnya. Wajahnya memerah.
"Kenapa kamu Dave? Ada masalah di hotel?"
Dave menggelengkan kepalanya. "Bukan nek! Alena hilang! Dia diculik. Tolongin aku nek, aku takut"
Siska mengerutkan keningnya. "Alena hilang?"
"Ya, tadi aku datang kerumahnya. Rumahnya dipasang garis polisi."
Tiba-tiba Siska tertawa ringan.
Dave mengerutkan dahinya. "Kenapa nenek malah ketawa. Nenek gak liat aku cemas. Aku takut ada apa-apa sama Alena."
"Tenang Dave. Alena ada dirumah ini. Dia lagi tidur dikamar samping."
"Hah!!" seru Dave tidak percaya.
"Iya, karena pengaruh obat bius itu tadi Alena pingsan. Nenek langsung bawa kesini karena dia udah gak aman ada dirumahnya."
__ADS_1
"Kenapa nenek gak bilang dari tadi!" seru Dave sambil berlari keluar.
"Kamu gak nanya." seru Siska sambil tertawa.
Dave berada didepan kamar tamu. Ia mengetuk pelan tapi tidak ada jawaban. Ia membuka pintu perlahan dan masuk kedalam. Terlihat olehnya, Alena sedang berbaring di ranjang. Ia menghampirinya dan duduk dipinggir ranjang. Dave merasa lega ketika akhirnya bisa melihat Alena baik-baik saja.
Alena membuka matanya. Ia melihat Dave sudah duduk disampingnya. Iapun bangun.
"Dave.."
Dave langsung memeluk Alena. "Aku cemas banget Al. Aku udah bilang jangan pulang dulu sebelum aku jemput. Aku tadi nyari kamu kemana-mana."
"Aku juga gak tau dibawa kesini. Untung ada nenek kamu."
Dave melepaskan pelukannya. "Aku gak tau kalian sedekat ini."
"Alena adalah dokter yang menolong nenek waktu nenek kena serangan jantung di jalan." ucap Siska sambil berjalan kedalam.
"Alena yang nolong nenek? Jadi nenek sebelumnya gak kenal?" tanya Dave bingung.
Siska menggeleng. "Enggak sama sekali. Tapi Alena membantu nenek dengan teliti. Alena anak baik."
Dave menatap Alena. "Anak baik?" goda Dave.
Siska menghampiri Alena. "Masih mau kerja disana?Lebih baik kamu jadi dokter pribadi nenek."
"Ya " seru Dave.
Alena menggelengkan kepalanya. "Saya masih percaya sama prof. Saya kenal prof hampir 10 tahun."
Dave melirik pada Alena. Ia merasa sedikit kesal.
"Kalo gitu, lebih baik kamu istirahat disini selama beberapa hari sampai situasi kondusif." jawab Siska.
"Ya, aku juga mau nemenin kamu disini. Aku istirahat dari kantor." ucap Dave.
"Jangan aneh-aneh Dave! Pekerjaan kamu banyak. Hotel harus mulai perbaikan kalau mau bersaing. Udah, sekarang kamu keluar. Biarkan Alena disini istirahat."
Dave menggeleng. "Enggak, Dave mau nemenin Alena."
"Dave! Besok hari libur. Kalian masih bisa ketemu. Hari ini Alena tamu nenek. Bukan pacar kamu!" seru Siska marah.
Dave terkejut. "Nenek tau kita pacaran?"
"Jangan mengira nenek gak tau semua kelakuan kamu diluar. Cepet sekarang keluar!" seru Siska.
Dave bangun dan berjalan keluar. Ia sesekali menatap Alena dan melambaikan tangannya. Seakan-akan mereka akan berpisah untuk waktu yang lama.
__ADS_1