
Alena dan kedua dokter itu akhirnya pergi menuju kediaman Siska. Sepanjang perjalanan ia terus berharap agar orangtua itu bisa diselamatkan. Ivan sesekali menatap keresahan Alena.
"Pasien ini siapa?" tanya Ivan. "Riwayat penyakitnya apa?"
"Nenek saya. Saya gak tau pasti tentang jantungnya. Karena nenek adalah pasien Dokter Radit. Beberapa bulan yang lalu beliau pernah ditangani oleh Dokter Radit."
"Kamu harus siap kalo nenek kamu dibawa kerumah sakit." ucap Ivan
"Baik dok."
Darren menatap Alena dari kaca depannya.
"Dokter Alena, bukannya dokter udah gak punya nenek? Jadi ini nenek siapa?" tanya Darren.
"No comment." jawab Alena
Ketika sampai rumah Siska, Alena berlari meninggalkan kedua dokter yang ia bawa. Ketika sampai didepan pintu rumah, Dira sudah menunggu.
"Ada dikamar lantai bawah. Sebelah kanan." ucapnya.
Alena berlari ke kamar itu. Sedangkan kedua dokter itu ditemani Dira.
Siska sedang berbaring dengan wajah pucat. Tubuhnya terlihat lemas. Ia setengah sadar. Tangan kanannya sedang memegang dada. Ia terlihat kesakitan.
"Apa yang sakit nek? Alena bawa dokter jantung." ucapnya.
Siska hanya mengangguk lemah.
Ivan langsung menghampiri Siska untuk mengecek keadaannya. Alena mundur dan melihat Dokter Ivan sedang melakukan tugasnya.
"Tenang aja, Dokter Ivan berpengalaman." bisik Darren. "Keren ya." tambahnya.
Alena langsung melotot ketika melihat Darren. Tidak pantas ia mengatakan seperti itu ketika ia sedang cemas memikirkan wanita itu. Darren seketika terdiam.
"Dave belum diberi kabar. Tadi saya telepon sekretarisnya, ia sedang meeting penting." bisik Dira.
"Lebih baik jangan. Saya gak mau ketemu Dave." bisik Alena.
"Obat-obatan masih tetap sama. Saya cek gak ada masalah. Nenek kamu hanya kelelahan. Kalau sudah usia lanjut beliau harus banyak istirahat. Jangan terlalu banyak aktivitas. Apalagi beliau punya penyakit jantung dan pernah dioperasi." ucap Ivan ketika ia berbicara dengan Alena.
__ADS_1
Alena mengangguk paham.
"Kamu tau apa yang lagi dipikirkan sama nenek kamu?"
"Saya gak tau."
"Kalo bisa, kamu bawa nenek kamu jalan-jalan ketempat sejuk. Tapi nanti kalo udah baikan. Itu bagus buat kesehatannya. Jangan terlalu banyak pikiran." Ucap Ivan sambil menatap Alena. Posisinya mereka saling berdekatan.
Ketika tersadar, Alena langsung duduk mundur. Ia merasa wajahnya memanas ketika ditatap seperti itu. "Siap dok."
"Kalo gitu, kita kembali ke rumah sakit." ucap Ivan sambil menyunggingkan senyumnya.
"Saya disini sebentar sampe nenek bangun. Kalian bisa pulang sendiri ke rumah sakit?"
"Oke, aku tetep yang nyetir." jawab Darren. "Kamu bisa pulang? Kamu gak bawa tas tadi."
"Gak usah khawatir." jawab Alena sambil tersenyum.
Mereka bertiga berjalan keluar rumah. Darren melihat sekeliling rumah itu dengan takjub. Samping kiri terdapat garasi mobil-mobil mewah. Sebelah kanan terdapat taman kecil dan kebun mini. Ia yakin dibelakang rumahnya terdapat sesuatu yang hebat.
"Rumah nenek kamu keren ya?" tanya Darren.
"Makasih Dokter Ivan karna mau saya bawa kesini." ucap Alena ketika mereka berdua menaiki mobil.
"Menolong pasien paling utama." jawab Ivan santai.
"Besok pagi kita itungan ya dok.." ucap Alena.
"Oke."
"Gimana Dokter Alena? cantik kan? Dia baik luar biasa." ucap Darren pada Ivan ketika mereka berada dijalan.
"Ya mungkin." jawab Ivan pendek.
"Aku gak akan cape buat muji Dokter Alena. Dia the best. Menurut kamu gimana? Kalian baru kenal satu hari."
Ivan sedikit berfikir. "Dia pinter. Makanya papa nyuruh dia jadi asistennya. Kamu jangan suka muji Alena terus. Nanti pacar kamu marah."
"Justru aku muji terus itu bukan buat aku, aku muji dia buat kamu. Kesan pertama itu segalanya." ungkap Darren.
__ADS_1
Ivan hanya tersenyum. Dan Darren langsung takjub. "Wah, kamu bisa senyum! Rekor buat Dokter Alena !" serunya.
"Berisik! Nyetir yang bener!" Ucap Ivan sambil memukul tangannya yang sedang memegang setir mobil.
Alena menatap kepergian kedua dokter itu hingga mobil tidak terlihat lagi. Ia berjalan kedalam rumah, namun ia tertarik melihat garasi mobil. Ada sebuah ruangan yang terbuka yang memperlihatkan sesuatu yang berkilau. Disana tertulis. MUSEUM OF PAST.
Alena mendekati ruangan itu dan menengok sekilas. Ada beberapa motor dan dua buah mobil balap yang tersimpan disana. Alena mengerutkan keningnya. Ia yakin itu milik Dave. Dave tidak akan datang sore ini dengan cepat. Ia bisa melihat-lihat sebentar sampai nenek bangun.
Iapun masuk melalui pintu yang terbuka. Ternyata ada seorang pria yang sedang membereskan beberapa baju balap yang tergantung. Ia berjalan mendekat.
"Ini baju balap siapa?" tanya Alena penasaran.
"Punya Dave, dok."
"Dave pembalap?"
"Iya, waktu jaman SMA. Dia ikut kejuaraan Motorsport sampe ke luar negeri."
Alena mengangguk. Kemudian ia melihat dua mobil dengan nomor yang sama yaitu 22. "Mobil itu sama?"
"Iya, jadi waktu kuliah di Michigan itu Dave berhenti total balapan motor. Tapi pas dia pulang, dia suka balapan sendiri di sirkuit."
"Oh, Bapak tau banyak tentang Dave."
"Saya asistennya dia waktu balap dulu."
"Pantes." jawab Alena. Kemudian ia tertarik untuk melihat beberapa barang yang ia berikan kaca.
" Kalo itu, barang-barang yang dipake sama Dave waktu kecelakaan dulu. Kecelakaan pertama kali sepanjang sejarah dia balap. Dan lucunya, kecelakaannya bukan di sirkuit. Tapi dijalan raya." ucap pria itu ketika melihat Alena berjalan mendekati kotak kaca.
"Kecelakaan dimana?" tanya Alena ketika ia menghampiri salah satu kaca itu. Sebuah topi berwarna hitam dengan keadaan kotor terpajang disana. Topi itu mengingatkannya pada seseorang yang ia pernah tolong dulu. Kemudian ia melihat motor yang sama yang ia lihat. Motor berwarna merah dengan keadaan bagian depan hancur. Ia pikir itu hanya kebetulan saja.
"Di jalan raya. Saya lupa jalan apa. Disebelah sana ada baju yang dipake Dave waktu terakhir kecelakaan." jawab pria itu.
Alena langsung menghampiri kotak kaca yang berada tak jauh darinya. Alena langsung menutup mulutnya. Ia terkejut hingga lemas. Celana panjang yang Dave pakai ketika kecelakaan sama persis dengan celana yang ia potong ketika itu. Dan ada kain yang membalut celananya. Alena langsung mundur. Itu adalah kain dari roknya yang ia sobek untuk menahan papan yang digunakan karena saat itu laki-laki yang ia tolong patah tulang. Alena langsung teringat sesuatu. Ia pernah melihat bekas luka dikaki Dave. Ini benar-benar kebetulan. Kedua orang dalam satu keluarga telah ia tolong dengan keadaan berbeda.
"Siapa itu?" tanya seseorang yang tak jauh dibelakangnya.
Alena langsung membalikkan badannya. Ia terkejut melihat siapa yang sudah pulang.
__ADS_1