
Alena tidak bisa tidur sepanjang malam. Bahkan pagi ini ia tidak merasa ngantuk. Ia malas pergi ke rumah sakit. Pintu diketuk dengan keras. Ia sempat terkejut. Ketika terdengar suara Dave diluar, ia merasa tenang. Alena berjalan ke pintu untuk membukanya.
Ketika dibuka, Dave sudah berdiri didepan pintu dengan pakaian rapi. Ia mengerutkan dahinya.
"Gak kerja?" tanya Dave. Ia masuk kedalam tanpa Alena suruh.
"Aku males kerja. Aku males ketemu dokter Ivan." jawab Alena sambil duduk di sofa. Ia menutup matanya. Dave hanya menggelengkan kepalanya.
"Cepet mandi. Bikinin aku sarapan. Aku cepet-cepet dateng kesini tanpa sarapan. Kamu harus tanggung jawab Al."
"Aku gak mau. Aku bukan pembantu.." jawab Alena malas.
Dave mendekati Alena dan menarik lengannya. "Cepetan Al! Aku ada meeting jam 10. Kamu gak kasian sama aku?"
Alena membuka matanya dan tersenyum. "Oke, bentar." jawab Alena sambil berlari ke kamarnya.
Selama Alena didalam, Dave membuka laptopnya. Ia membaca data yang akan ia bicarakan saat meeting nanti.
Setelah menyelesaikan semuanya dirumah Alena, mereka tidak butuh waktu lama untuk segera pergi ke kantor masing-masing.
"Pulang jam berapa?" tanya Dave.
"Mungkin jam 2. Aku ada pasien 5 anak."
"Oke, nanti aku jemput sebelum jam 2."
Alena hanya mengangguk. Mobil Dave mulai memasuki rumah sakit.
"Al" panggil Dave.
Alena menoleh. "Apa?"
Dave menarik kepala Alena dan memberikan kecupan ringan di dahinya. "Hati-hati. Jangan dulu pulang sebelum aku jemput."
Alena tersenyum. "Ya"
Sepanjang perjalanan menuju kantor, Dave dihantui perasaan tidak tenang. Ia merasa Alena dalam bahaya. Ia harus cepat menyelidiki siapakah Ivan itu? Ia yakin semalaman Alena tidak tidur. Kantung matanya berwarna hitam. Ia tahu jika Alena sedang memikirkan sesuatu sehingga ia tidak bisa tidur. Tiba-tiba ia mempunyai pikiran aneh. Jika ia membawa Alena tinggal dengannya, apakah baik-baik saja?
Edward tertawa mendengar ucapan Dave.
"Tinggal bareng?" tanya Edward
"Ya, aku kuatir tau gak? Aku gak mau kehilangan Alena lagi." jawab Dave.
__ADS_1
"Kalo enggak kamu nikahi buat apa kalian tinggal bareng?"tanya Edward.
Dave langsung melempar ballpoint yang ia pegang ke wajah Edward. Namun lemparannya mengenai bahunya.
Edward berjalan menghampiri Dave. Ia memperlihatkan sebuah hotel dengan fasilitas mewah. Dave melihatnya dan sedikit terpesona. Tentu saja itu adalah gaya Edward. Sebuah resort yang iapun tidak tahu ada dimana.
"Aku kasih kamar VIP kalo kalian nikah." bisik Edward.
"Gak perlu, aku bisa beli kamar kayak gitu!" jawab Dave.
"Dasar sombong. Mentang-mentang banyak duit. Semua bisa dibeli."
"Kenapa?" tanya Calvin ketika ia masuk kedalam ruangan.
"Alena mau diajak tinggal bareng." jawab Edward.
Calvin melihat Dave. "Kenapa muka kamu?"
"Akibat tonjokan ayahnya Amanda. Amanda udah aku putusin semalem." jawab Dave sambil menyandarkan punggungnya dikursi.
Calvin tertawa. "Trus kenapa tiba-tiba Alena mau diajak tinggal bareng?"
"Gara-gara dokter s****n itu! Berani-beraninya dia kasar sama Alena. Dia mulai ngancam-ngancam Alena. Aku harus bikin perhitungan!" ucap Dave kesal.
"Ya, dokter itu tuh ternyata sepupunya Amanda. Semalem kita ketemulah disana. Alena dateng sama dia. Tadi malem aku tanya ke Alena, dia juga bingung kenapa bisa diajak ke acara itu. Dan gilanya aku liat sendiri Alena dikasarin. Untungnya dia bisa kabur. Aku gak terima lah, ya udah aku beresin semua tadi malem. Aku putusin Amanda didepan dia" jelasnya.
Edward tertawa sambil bertepuk tangan. "Demi Alena." Goda Edward.
"Demi Alena.. Ya, bener. Buat siapa lagi?" seru Dave sambil berdiri.
"Mau kemana?" tanya Calvin
"Jemput Alena."
"Bentar lagi meeting!"
Dave membuka pintu. "Bentar aja, nanti aku kesini lagi."
Alena sedang bersiap-siap untuk pulang. Ia membubuhkan sedikit lipstik dan memberikan sedikit bedak. Ia tersenyum. Dave benar-benar perhatian. Jika ia memberitahu Dave jika ia yang menyelamatkannya saat itu, bagaimana tanggapannya? Alena tertawa kecil. Ia menunggu untuk melihat ekspresi Dave nanti jika sudah saatnya ia beritahu.
"Masih bisa ketawa?" tanya seseorang.
Alena berbalik. Ia melihat Dokter Ivan ada didepannya. Ia bahkan tidak punya etika untuk mengetuk pintu. Ia masih mengenakan jubah dokternya dan datang keruangannya tanpa punya perasaan. Inilah yang ditakutinya. Dari awal ia tidak ingin bertemu dengan pria didepannya. Tapi mereka masih dalam satu gedung. Tidak mungkin mereka tidak bertemu.
__ADS_1
"Apa maksud kamu kabur kayak semalem?"tanya pria itu marah.
Alena mundur. "Apa maksud dokter?" tanya Alena gugup.
"Biasanya kalo orang bersalah ngomongnya kayak kamu. Gugup." ucapnya sambil tersenyum sinis. Ia mulai berjalan mendekatinya.
"Bentar dok! bentar!" seru Alena sambil mengangkat kedua tangannya.
"Kamu takut sama aku? Kenapa? Semalem aku gak nyakitin kamu.."
"Dok, aku bisa teriak kalo dokter masih ngancam aku kayak gitu!" jawab Alena takut.
"Gak ada yang berani mainin aku! Tapi kamu berani! Apa hubungan kamu sama mantan Amanda?" teriak Ivan. Alena berlari namun pria itu bisa dengan cepat menarik lengan Alena dan membantingnya di sofa.
"Mantan Amanda?"
"Kamu tau? Gara-gara laki-laki itu! Amanda gak makan-makan dari malem! Gara-gara laki-laki itu kalian menghabiskan waktu semalaman berdua!" jawab Ivan marah.
Alena mengerutkan keningnya."Dokter ngikutin kita?"
"Kenapa? Kaget?"
"Kaget dok! Kita kenal baru dua hari. Tapi dokter udah bertindak gak wajar. Dok, apa yang aku lakuin semalam gak ada hubungan sama kamu!"
Alena mulai merasakan lehernya sakit. Ia terbatuk karena merasakan tekanan tangan Ivan.
"Lepas!" Sahut Alena sambil memegang lengan Ivan.
Tiba-tiba pintu terbuka dengan kencang. Seseorang datang untuk menarik kerah baju Ivan dari belakang.
"Aku gak nyangka punya saudara yang b***gs*k kayak kamu!" seru Darren yang tiba-tiba datang. Darren yang saat itu sedang ada di lorong anak, ditarik dengan paksa oleh beberapa suster yang mendengar suara pertengkaran diruangan Alena. Ia tidak tahu jika yang membuat keributan adalah saudaranya sendiri.
Darren kesal dan marah. Perilaku Ivan telah mencoreng rumah sakit. Diluar banyak pasien yang mendengar.
"Jangan ikut campur!" seru Ivan.
"Ini rumah sakit! Walaupun kamu direktur baru disini, tapi perilaku kamu hari ini bikin aku yakin kalo kamu gak pantes jadi direktur. Kamu malu-maluin Van!" jawab Darren sambil menggelengkan kepalanya. Ia menghampiri Alena dan memegang bahunya. "Kamu gak apa-apa Al?"
Alena memegang lehernya sambil mengangguk pelan.
"Bisa gak perilaku kamu di Korea dihilangkan. Disini beda! Jangan kamu anggap semua wanita itu sama! Dokter Alena beda, dia orang baik! Aku pikir kamu menyesal makanya aku kenalin kamu sama dokter Alena. Ternyata kamu masih belum berubah!" seru Darren marah.
Alena menatap Darren bingung. Apa yang terjadi pada pria itu sebelum ia kembali dari Korea?
__ADS_1
Ivan langsung menatap Alena. "Urusan kita belum beres. Kamu liatin aja!" seru pria itu membuat Alena sedikit takut. Ia hanya menatap Darren khawatir.