When Billionare meet doctor

When Billionare meet doctor
Kita kenal?


__ADS_3

Alena berada diruangannya. Ia terus berfikir tentang keberadaan Clara. Menurut pengacara ayahnya, ia harus yakin jika Clara baik-baik saja. Kenapa semuanya harus terjadi secara bersamaan.


Tiba-tiba pintu diketuk. Suster Ana masuk kedalam. Ia sedikit terkejut melihat wajah sembab Alena.


"Kenapa dok?"


Alena tersenyum. "Gak ada apa-apa suster."


"Dok, dipanggil sama direktur rumah sakit."


"Sekarang?"


Suster Ana mengangguk. "Basuh muka dokter dulu. Nanti baru kesana."


Alena mengangguk. Ia langsung membasuh wajahnya di wastafel. "Dok, saya penasaran. Kenapa hari ini dokter kayak gak bersemangat."


"Gak apa-apa suster, jangan suka ngegosip sama suster lain. Apalagi ngomongin yang enggak-enggak tentang saya." jawab Alena sambil berjalan keluar.


"Enggak dok, sumpah. Saya gak pernah ngegosip." Suster Ana berjalan mengikuti langkah Ana. Alena hanya tersenyum.


Ketika ia berada didepan lift, Alena terdiam. Baru kemarin direktur memanggilnya. Kenapa hari ini ia dipanggil lagi?


Tiba-tiba pintu lift terbuka. Ia terkejut ketika melihat seseorang berada didalam lift. Pria paling tinggi diantara beberapa pria yang ada didepannya adalah orang yang ia kenal. Ia memakai hoodie berwarna hitam disertai celana jeans berwarna serupa. Sudut bibirnya merah dan pelipisnya sobek. Masih ada bekas luka disana. Kedua tangannya dimasukkan kedalam hoodie. Suster Ana langsung menatap Alena. "Dok.."


Alena menatap Dave. Pria itu tidak menatapnya. Tatapannya fokus kedepan. Ia terlihat dingin. Beberapa orang keluar dari lift dan menyisakan 4 orang.


"Kamu kenapa Dave?" tanya Alena khawatir. Ia tidak berani menatapnya.


Dave tidak bersuara. Ia masih terdiam.

__ADS_1


Alena menghela nafas. "Dave!"


Dave melirik Alena. "Kita kenal? Sorry, aku gak kenal kamu!" ucapnya ketika pintu lift terbuka. Ia berjalan keluar tanpa membalikkan badannya ke belakang.


Jantung Alena seperti ditusuk oleh benda tumpul. Alena menunduk dan tersenyum samar.


"Dok, kenapa pacar dokter kayak gitu? dokter lagi marahan?"tanya Suster Ana.


Alena hanya tersenyum samar. Ia lebih baik diam. Karena jika ia membuka suaranya, ia takut jika airmatanya tiba-tiba keluar.


Ketika berada diruangan direktur, ia melihat seorang pria muda disana. Ia memakai kemeja kotak-kotak berwarna biru muda dengan paduan celana jeans berwarna senada menambah aura ketampanan pria itu.


"Dokter Alena, kenalkan ini Darren Aditya. Dokter muda yang akan ikut bagian dari misi ini." ucap profesor itu.


Alena tersenyum. "Halo, saya Alena."


"Saya Darren." ucapnya sambil mengulurkan tangannya.


Alena menganggukkan kepalanya. "Untuk calon-calon dokter yang lain?" tanya Alena.


"Besok dokter Alena bisa bertemu mereka di bandara."


"Bandara?"


"Iya, saya memajukan waktu kepergian dokter Alena kesana."


"Kenapa prof?"


"Saya dapat kabar jika wabah sedang melanda anak-anak di pengungsian. Saya juga tau kalau dokter Alena jago konseling. Jadi, saya harap dokter Alena tidak menolak."

__ADS_1


Alena menatap pria muda didepannya bingung. "Saya juga barusan ngedadak dikasih taunya, dok." bisik Darren.


"Saya belum persiapan dok, saya pikir bulan depan baru bisa pergi." seru Alena.


"Maafkan saya dokter Alena, tapi keadaan disana membuat saya tidak bisa menunda."


"Oke prof, kalo gitu saya persiapan dulu malam ini. Saya harus membatalkan beberapa pasien buat besok dan lusa."


"Gak perlu dok, saya sudah meminta Suster Ana untuk mengganti dokter."


Alena berfikir sejenak. Ia kemudian menatap direktur itu. "Kalo gak ada lagi, saya permisi dulu." ucapnya sambil berjalan keluar.


Ketika keluar ruangan direktur, ia melihat Suster Ana berlari menghampirinya dengan tergopoh-gopoh.


"Dok, saya dari lantai 5. Tadi saya ketemu sama suster Elisa. Dia yang nanganin pacar dokter itu. Katanya pacar dokter habis berantem sama seseorang di bar. Video nya ada di youtube udah disebar."


Alena mengerutkan keningnya. Ia langsung berlari menuju lift. Didalam lift yang terdiri dari kaca itu, ia melihat Dave berada dilobi sedang berjalan keluar. Alena dengan cepat mengejarnya. Dave memang mengatakan tidak mau bertemu dengannya lagi ataupun kenal dengannya. Tapi kali ini ia tidak peduli. Ia hanya ingin tahu kejadian yang terjadi pada Dave tadi malam apakah ada sangkut pautnya dengan dirinya?


"Dave!" panggilnya kencang. Mereka telah berada di basement.


Dave menghentikan langkahnya. Ia masih tidak mau berbalik kebelakang.


"Dave, aku tau kamu memang gak mau kenal lagi atau ketemu lagi sama aku. Tapi aku pengen tau, apa yang terjadi sama muka kamu itu ada sangkut pautnya sama aku?" tanya Alena.


Dave membalikkan badannya. Ia tertawa sinis.."Jangan ke-geer an jadi orang, dokter. Saya malah gak tau dokter ini siapa? Jangan suka ngaku-ngaku. Dokter fans saya ya?" ucapnya sinis.


Alena terdiam. Ia hanya menatap Dave sedih.


"Halo, sayang. Ya, aku sekarang ketempat kamu. Tungguin aku." ucap Dave sambil membalikkan badannya dan berjalan menuju mobilnya.

__ADS_1


Alena hanya menatap nanar kepergian Dave. Ia tidak sanggup melangkahkan kakinya untuk pergi dari tempatnya berdiri. Hatinya sakit mendengar Dave mengatakan hal itu.


__ADS_2