When Billionare meet doctor

When Billionare meet doctor
Perjanjian Berakhir


__ADS_3

Siska menatap kepergian Dave. Ia tahu cucunya itu sedang bimbang. Tidak dapat dipungkiri lagi jika Dave mencintai Alena. Ia tidak bisa mengelak. Dave terlalu munafik untuk mengakuinya. Misinya hampir berhasil. Ia senang melihatnya. Ia tinggal menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya pada Dave. Dan bagaimana Alena akan menghadapi perasaannya.


Dave pergi mencari Alena keluar rumah dan ia menemukannya berada diluar dekat kolam renang. Ia sedang melihat langit seorang diri. Dave menghampirinya.


"Al!" panggil Dave. Alena membalikkan badannya. Ia sedang tersenyum.


Aku tidak mungkin rela kehilangan senyum itu. Hanya Alena yang dapat mengerti semua tentang dirinya. Aku tidak mungkin rela jika harus kehilangan Alena. Wanita paling baik yang pernah ia temui.


"Kamu mau pulang?" tanya Dave.


"Terserah. Kamu udah beres?"tanya Alena sambil menghadapnya.


"Udah beres." ucap Dave. Ia tersenyum pada Alena. "Kamu liat tadi waktu nenek ngenalin aku di panggung?"


"Iya. Kamu cocok ada disana, Dave." jawab Alena sambil tersenyum. Mereka menjadi sedikit canggung.


Dave tampak berfikir. "Menurut kamu gimana?"


"Aku seneng karena nenek kamu akhirnya menyerahkan semuanya sama kamu. Itu kan yang kamu mau?"


"Kamu seneng?" tanya Dave sedikit kecewa. Ia berharap Alena akan mengatakan sesuatu tentang perjanjian itu. Tapi ternyata tidak.


"Aku ikut seneng."


Dave terdiam. Ia membalikkan badannya. "Kita pulang Al. Kita ke apartemen aku. Nanti aku panggil Calvin sama Sandra."


Alena mengangguk. Ia merasa telah melakukan sesuatu yang benar. Tapi kenapa hatinya sakit saat mendengar Dave tidak mencintainya?


Dave dan Alena berada dimobil ketika perjalanan pulang. Mereka berdua terdiam. Hanya suara musik yang mengiringi perjalanan mereka. Terdengar lagu all to well - Taylor Swift berkumandang. Rasanya semuanya sudah diwakilkan oleh petikan gitar lagu itu bagaimana sedihnya Alena.

__ADS_1


"Dave.." ucap Alena pelan. Ia mulai membuka suaranya.


"Ya. Kenapa Al?" tanya Dave. Ia tidak berani menatap Alena. Didalam otaknya ia terus teringat ucapan neneknya tentang pilihan itu. Dan tentu saja perkataan Alena tadi.


"Aku mau jalan-jalan sebentar"


Dave menoleh pada Alena. Ia menatap jam tangannya. "Bukannya besok ada pasien pagi-pagi?"


"Gak apa-apa. Mereka pasti tungguin aku." jawab Alena sambil tersenyum.


"Ok. Tapi kenapa tiba-tiba mau jalan-jalan? Tadi kamu gak nyaman disana?"


"Aku cuma pengen aja. Kita sama sekali belum pernah jalan berdua kan?"


Dave hanya mengangguk.


Dave mengerutkan keningnya. Tapi ia sedikit terkejut ketika Alena memberanikan diri memeluk pinggangnya dan mereka mulai melangkah bersama berdampingan.


Mereka bergenggaman tangan sepanjang jalan, mereka berpelukan saat dibutuhkan, dan bercerita tentang diri masing-masing. Anehnya mereka melakukannya tanpa beban. Semua cerita mengalir begitu saja. Dave menjadi tahu latar belakang keluarga Alena. Begitu juga Alena. Ia jadi tahu tentang keluarga Dave. Bagaimana ia bisa menjadi seorang milyuner hanya dengan menjadi seorang kontraktor.


Alena hanya ingin melakukan yang terbaik disaat-saat terakhir mereka bersama. Mereka kini duduk dikursi taman karena Dave yang mengajaknya. Banyak pasangan yang bercengkrama disana. Bukan hanya mereka berdua saja.


Tiba-tiba Dave menyimpan kepalanya dikedua paha Alena tanpa merasa malu jika orang-orang melihatnya.


"Tadi nenek bener-bener ngajak aku kenalan sama klien-kliennya. Aku cape Al." Ucapnya sambil menutup matanya.


Alena memegang rambut Dave dan merapikannya. Iapun menundukkan wajahnya dan mengecup dahi Dave. Dave terkejut dan bangun dari tidurnya. "Al, tadi.." ucapnya gugup.


Alena tersenyum samar. "Terimakasih buat semua waktunya, Dave."

__ADS_1


"Apa maksud kamu?"tanya Dave khawatir. Ia menatap Alena tajam.


"Sayangnya hubungan kita cuma sampai malam ini. Kita berakhir Dave. Gak ada alasan lagi buat kita melanjutkannya sampe dua hari kedepan." Ucap Alena sedikit bernada berat tapi ia masih bisa tersenyum. Ia mencoba menahan gelisah sejak tadi diacara itu.


"Kamu ngomong apa sih, Al. Aku udah bilang kita bisa perpanjang..." ucap Dave namun tertahan ketika melihat Alena menggelengkan kepalanya.


"Sayangnya aku gak bisa lagi, Dave. Maafin aku. Kamu udah dapat semua yang kamu mau, aku juga sama. Kita impas kan? jadi kita selesai sesuai perjanjian. Kamu bisa melanjutkan proyek-proyek kamu yang tertunda dan mulai sibuk dengan perusahaan nenek kamu, Dave." jelas Alena. "Aku janji gak akan ganggu kamu lagi, aku gak akan minta jemput lagi, aku gak akan nangisin pasien aku lagi. Aku janji! Aku harap kamu semakin sukses kedepannya ." Alena mengangkat tangannya sambil tersenyum memaksa.


Dave mencoba mengatakan tidak namun perjanjian mereka memang seperti itu. Alena adalah orang yang taat. Tapi ia tidak menyangka Alena akan melakukannya malam ini. Ia menjadi tahu sifat Alena sesungguhnya. Dia adalah wanita paling kejam. Ia tidak baik. Ia telah salah mengenalnya. Ia menatap Alena dengan nanar. Ia menggelengkan kepalanya dan menunduk. Ia merasa kesal dan marah. Tangannya sudah mengepal menahan marah. Begitu mudahnya Alena mengatakan itu. Tidak ada pengorbanan sama sekali.


Alena berdiri. "Sampai ketemu lagi, Dave. Kamu gak perlu nganter aku mulai hari ini. Perjanjian kita benar-benar berakhir. Kalo suatu saat kita ketemu dijalan, trus kamu malu ketemu sama aku, kamu boleh kok gak kenal sama aku." ucapnya sambil berbalik. Iapun berjalan pulang.


"Aku gak mau kenal lagi sama kamu, Al. Aku gak akan muncul lagi didepan kamu. Aku gak mau ketemu lagi sama kamu "ucap Dave menahan marah. Ia tidak berusaha mengejarnya ketika Alena pergi.


"Baguslah." ucap Alena. Ia berjalan sambil menitikkan airmata. Berakhir sudah. Ia berharap Dave tidak mengejarnya. Jika ia melihat pria itu, ia bisa malu.


"Halo."


"Bu, semuanya udah berakhir. Misi ibu berhasil. Sepertinya Alena yang memutuskan terlebih dahulu. Melihat wajah Dave, ia marah besar." Ucap Dira yang berada tak jauh dari tempat Alena dan Dave. Ia sengaja mengikuti mereka karena Siska yang menyuruhnya untuk menyelidiki Dave.


Siska tersenyum puas. Kini saatnya ia melihat wajah patah hati cucunya. Bohong jika Dave mengatakan tidak bisa hidup hanya dengan satu wanita. Kita lihat saja.


"Dave sepertinya pulang kerumah ibu"


"Oke, Dira. Saya akan sambut Dave dirumah. Kamu langsung pulang aja ya."


Dira tersenyum. "Baik Bu"


Disebuah sudut kamar yang gelap, Alena duduk dilantai. Ia memeluk kedua kakinya. Ia sedang menangis tersedu-sedu. Hatinya sakit. Sesekali ia menarik-narik baju dibagian dadanya. Air matanya tidak mau berhenti mengalir. Dan dadanya terasa sangat sakit. Ia tidak pernah merasakannya seumur hidupnya. Penyakit apakah ini? Apakah ada medis yang bisa menyembuhkan penyakitnya saat ini? Dan perasaan apakah ini? Apakah ini yang dinamakan patah hati? Apakah ia sedang patah hati?

__ADS_1


__ADS_2