
Firly tengah berada di restoran Alena untuk menunggu Alena tiba. Beberapa pekerja yang sudah mengenal Firly sering terbawa obrolan santai dengannya.
Ia menatap jam tangannya. Alena sudah telat 1 jam dari jadwal mereka janjian. Beberapa customer sudah mulai masuk ke restoran untuk makan. Wajar saja karena jam menunjukkan pukul 12. Jam mereka makan siang.
Alena sedang berada di ruangan direktur rumah sakit. Beberapa saat yang lalu, direktur memanggilnya untuk memberikan sesuatu.
"Dokter Alena, ini surat pengantar. Kamu bisa pergi bulan depan..Melenceng dari rencana awal." ujarnya.
Alena membuka map itu. Ia membacanya perlahan. Ketika membacanya, ia langsung terpikir Dave. Bagaimana jika ia tahu tentang misi kemanusiaan yang akan dilakukannya?Apakah ia harus mengatakannya? Rasa galau mulai menghampirinya. Tapi apa status mereka saat ini? Sejak malam itu, Ia tidak pernah sedikitpun mengatakan tentang perasaannya. Dave mengajaknya untuk menjalani hubungan itu walaupun Alena sendiri tidak pernah mengatakan setuju walaupun hatinya ingin.
"Gimana dokter?"
Alena menatap direktur sambil tersenyum. "Terimakasih prof, akan saya persiapkan."jawab Alena sambil berjalan keluar.
Ketika sampai di restoran, Firly sudah menunggunya. "Dah lama?" tanya Alena
"Ya, lama. Kamu harus traktir aku makan." jawab Firly.
"Maya, ikut saya kekantor." ucap Alena sambil berjalan keruangannya. Ia mengabaikan jawaban Firly. Firly mengerutkan keningnya. Alena terlihat serius. Ia langsung mengikuti dari belakang.
"Kenapa Al? Ada masalah?"
Alena tersenyum. "Gak ada. Aku cuma manggil Maya aja."
Tidak lama kemudian, Maya muncul dengan beberapa kertas ditangannya.
"May, ada sesuatu yang harus saya omongin sama kamu."
"Iya Bu.."
Firly masih menatapnya bingung. Apakah ada yang Alena sembunyikan darinya?
"May, mungkin terlalu awal saya ngasih tau kamu. Emm... Saya minta kamu buat menjaga restoran saya selama saya gak ada."
Firly berdiri dari duduknya. "Mau kemana kamu Al?"
Alena mengeluarkan surat pengantar dari rumah sakit dan memberikannya pada Firly.
"Misi kemanusiaan? Apa ini? Kamu mau pergi kemana?" tanya Firly bingung. "Al, Dave udah tau?"
Alena menatap Maya. "May, kamu udah ngerti kan? Saya mau pergi buat misi kemanusiaan. Kamu kan tau negara kita lagi banyak bencana. Jadi saya mengajukan diri buat ikut misi ini 5 bulan yang lalu sebelum saya kenal sama kamu. Saya percaya kamu bisa."
"Baik Bu." jawab Maya pelan. Ada perasaan sedih disetiap kata-katanya. Alena tersenyum dan meminta Maya untuk keluar dari ruang kantornya.
Firly kini berada disampingnya. "Kamu gak ngomong ke aku, jadi ini sesuatu yang kamu rahasiakan?" serunya.
Alena memegang bahu sahabatnya. "Firly sayang, jadi dokter banyak konsekuensinya. Pergi jadi relawan gak ada yang salah kok. Kalo tanya kenapa aku jadi dokter? Ya ini, buat bantu orang-orang yang membutuhkan kita."
"Tapi berapa lama?"
"Aku belum tau berapa lama."
"Trus Dave gimana?"
Alena menghitung dengan jarinya. "Bisa dibilang hubungan kita cuma tinggal hitungan hari. Aku gak tau nanti hubungan ini akan kemana. Ya.. kita liat nanti lah, kalo ada kesempatan aku pasti ngomong sama Dave tentang ini."
Firly menunduk sedih. Alena langsung tersenyum. "Aku itu bukannya mau meninggal, Firly sayang. Aku cuma pergi jadi relawan. Aku pasti pulang kok." Firly masih terdiam.
"Kita jalan-jalan yuk ke mall. Aku traktir kamu makanan paling enak." ucap Alena sambil menarik lengan Firly keluar ruangannya. Mereka pergi ke mall untuk membeli makanan enak.
__ADS_1
"Dira, coba kamu kasih tau Dave tentang acara ulang tahun saya. Jangan lupa buat bawa Alena ke pesta. Saya mau ketemu."ucap Siska ketika berada ditaman belakang rumahnya. Ia sengaja menghabiskan waktu sorenya untuk meminum teh melati disana.
"Sudah saya kabari Bu, lusa Dave bawa Alena ke pesta ibu." jawab Dira sambil mengangguk.
Siska menepuk kursi disebelahnya yang kosong. "Duduk disini, saya ada informasi baru."
Dira langsung duduk disamping Siska. Ia selalu penasaran dengan rencana wanita didepannya.
"Saya baru dapat kabar kalo Alena akan pergi buat jadi relawan."
Dira terkejut. "Ibu tau dari siapa?"
"Kamu lupa kalo direktur rumah sakit tempat Alena bekerja adalah teman saya sewaktu kuliah dulu?"ucap Siska sambil tertawa. "Saya semakin yakin kalo Alena memang wanita paling cocok untuk jadi bagian dari keluarga ini. Jiwa kemanusiaannya tinggi. Tinggal nunggu reaksi Dave, apa dia tau soal ini." Siska meminum tehnya. Ia menatap Dira sambil tersenyum.
"Tinggal beberapa hari kontrak mereka habis, Bu. Apa mereka masih bisa bersama?"
Siska menatap langit. "Kalau Dave sadar sama perasaannya, mereka pasti terus jalan, kecuali Dave gak sadar. Dia harus kehilangan Alena."
Kasus Flower Village menyita waktu Dave. Banyak urusan yang mengganggunya. Kali ini Dega membawa beberapa laporan hasil investigasi kepolisian. Wanita cantik itu bergerak cepat. Ia memiliki tim yang bisa diandalkan.
"Dave, berkasnya udah masuk ke kejaksaan. Tinggal nunggu jadwal sidang minggu depan."
"Trus gimana?" tanya Dave sambil membuka berkas-berkasnya.
"Sidang pertama itu agendanya mendengarkan saksi-saksi. Kalian bertiga jadi saksi pertama."
"Kita harus ke Bali?"
Dega mengangguk.
"Berapa kali sidang sampe putusan?"
"Enam kali. Dua kali saksi memberatkan, dua kali saksi meringankan, satu kali pembelaan, satu kali putusan."
"Pembicaraan masih alot. Kita masih berusaha."
"Kalau kita bayar semua?"
Dega menggelengkan kepalanya. "Gak bisa gitu Dave, kesalahan bukan semuanya di kita."
Dave mendesah. "Masalah ini ngegantung terlalu lama."
"Kamu salah. Justru ini terlalu cepat. Orang lain bisa berbulan-bulan, kita cuma seminggu lebih."
"Ya, thanks to you Ga. Kalo bukan kamu yang kerjain, aku gak tau gimana hasilnya." ungkap Dave.
Ketika Dega pergi, Dave mengeluarkan handphonenya. Hari ini ia belum menghubungi Alena. Tadinya ia akan langsung makan siang di mall. Tapi ia ingat Alena.
"Halo." ucap Dave. Terdengar suara ribut-ribut disana.
"Halo, Dave."
"Kamu lagi dimana?"
"Aku lagi makan diluar."
"Sama siapa? laki-laki atau perempuan?"
"Sama Firly" jawab Alena sambil tersenyum.
__ADS_1
"Aku nyusul kesitu sekarang, kirimin aku alamatnya." ujar Dave.
Firly melihat wajah senang Alena. "Dave nyusul?"
Alena mengangguk.
"Al, aku gak bisa dibohongin. Kalian jatuh cinta." ucap Firly yakin.
"Ly, aku udah ngomong gini beberapa kali sama kamu. Kenapa kamu masih ngebahas sih.."
"Soalnya liat sikap kamu beda. Aku kenal kamu dari jaman SMA. Kamu belum pernah jatuh cinta, Al. Aku gak mau kamu dikecewain laki-laki. Apalagi sama Dave, yang notabene seorang laki-laki kaya-raya, mapan dan wanita mana yang nolak pesona Dave."
"Resiko aku. Aku berusaha jaga hati aku. Jangan sampai aku terbawa perasaan."
"Oke, makanya kamu pernah bilang. Kamu bisa cepet lupain Dave saat kamu pergi jadi relawan?"
Alena tersenyum. "Nah, kamu tau.."
"Trus kamu udah diapain aja sama Dave?"
Alena tertawa mendengar pertanyaan Firly.
"Aku serius Al!"seru Firly.
"Firly, kita berdua sama-sama sibuk. Kita gak pernah ngelakuin yang aneh kok. Dia jemput aku, makan bareng, ngobrol trus pulang. Kadang malem-malem kita telponan." jawab Alena sambil tertawa. Ia mulai mengaduk-aduk lemon tea didepannya.
Firly menyipitkan matanya. "Cuma itu aja?"
Alena menjadi kikuk. Ia mengganti duduknya menjadi tidak nyaman.
"Jujur Al!" Firly memegang lengan Alena dengan kencang.
"Oke, dia nyuri ciuman pertama aku. Puas?" jawab Alena pelan.
Firly membelalakkan matanya. "Gimana ceritanya. Berapa kali?"
"Waktu pasien aku meninggal, trus waktu dia baru pulang dari Bali. Itu gak sengaja, dia nyuri."
"Trus gimana lagi?"
"Gak ada lagi. Udah cukup,Firly.."
"Kamu menikmati?"tanya Firly masih penasaran.
"Menikmati apa?" tanya Dave yang kini berada dibelakangnya.
Dave tiba dengan masih berpakaian kerja formalnya. Ia duduk disamping Alena.
"Menikmati apa, Firly sayang?" goda Dave.
Firly langsung menyodorkan piring berisi makanannya. "Menikmati ini!" ucapnya gugup. Ia menatap Alena yang terlihat gugup sama sepertinya.
"Wah, enak kayaknya." ucap Dave. Ia menatap Alena. "Aku belum makan siang, Al."
Alena sedikit kikuk. Kemudian ia memanggil pelayan untuk memesan menu tambahan.
"Alena udah tau kesukaan aku." ucap Dave sambil tersenyum pada Firly.
"Kok kamu bisa cepet sih kesini?" tanya Alena.
__ADS_1
"Kebetulan aku lagi meeting di mall ini. Kita sehati milih mall yang sama."jawab Dave sambil menyandar pada Alena. Alena menatap Firly dan merasa malu.
Firly memegang dagunya. Ia menyipit ketika menatap kedua pasangan didepannya. Ia tersenyum samar.