
Dave menunggu Alena yang sedang didandani didepannya. Ia sedikit geli melihat Alena yang tidak pernah terbiasa berdandan. Beberapa kali ia menolak saat perias akan memberikan sesuatu di matanya.
"Dave, aku gugup. Aku takut ketemu nenek kamu." ucap Alena ketika mereka berada di mobil.
"Nenek baik kok. Harusnya sih kamu kenal Al, soalnya nenek aku kenal sama kamu."
Alena berfikir, siapa wanita yang nanti akan ia temui?
Dave dan Alena masuk kedalam kedalam gerbang rumah nenek dimana diadakan pesta. Tamu-tamu sudah mulai berdatangan. Alena mulai menyadari, apa malam ini akan sampai tengah malam? dimanakah cinderela akan berubah wujud?
"Jangan mikir yang aneh-aneh. Kamu gak boleh pergi dari samping aku." ucap Dave sambil mencubit pipi Alena.
Alena mengerutkan keningnya ketika mereka masuk ke halaman rumah. Perasaannya mengatakan ia pernah datang kerumah ini. Tapi kapan? Ia melihat orang-orang. Dave menjadi pusat perhatian. Begitu pula dengan dirinya karena berada disamping Dave. Banyak orang yang mengenal Dave.
"Nek, itu Dave dan Alena sudah datang." Ucap Dira.
Siska melihat kedatangan Dave dan wanita yang paling ditunggunya. "Alena memang anggun. Dia serasi sama Dave. Kamu setuju gak?"
Dira hanya mengangguk sambil tersenyum. "Tapi nek,planning nenek bagaimana?"
Siska hampir saja lupa jika tidak diingatkan. "Aduh, hampir lupa. Nenek harus akting ya hari ini. Maafkan nenek, Alena. Nenek harus melakukannya biar kamu jadi orang terakhir yang masuk ke kehidupan Dave." Ucapnya pelan. Dira hanya mengangguk sambil tersenyum
Dave menggenggam tangan Alena dengan erat. Mereka menghampiri nenek.
"Nek, sesuai janji aku bulan kemarin. Aku bawa Alena kesini." Ucap Dave
Siska menatap Alena dari atas kebawah. Sempurna. Tapi tetap saja, ia harus berakting hari ini.
"Selamat malam, Alena. Kalo boleh, nenek pinjam Dave dulu. Ini menyangkut masa depan keluarga kami. Saya mengundang kamu agar kamu tahu bagaimana kami." Ucap Siska tenang.
__ADS_1
"Iya nek, gak apa-apa. Silahkan" jawab Alena. Ia menatap wanita tua itu. Rasanya tidak asing.
"Kenapa harus berdua nek?" Tanya Dave sambil menatap Alena.
"Karena kita harus mengumumkannya pada tamu-tamu nenek. Tapi sebelumnya nenek harus mengenalkan kamu sama klien-klien nenek."
"Tapi Alena gimana?" Tanya Dave sambil menatapnya.
"Alena bukan anak kecil. Ini lebih penting. Kamu penerus nenek." Tarik Siska sedikit kencang. Ia bisa melihat Alena sedikit shock ketika mendengarnya.
Alena menatap kepergian Dave dan neneknya. Seharusnya ia tidak datang. Ia mendesah. Tak ada tempatnya diacara ini. Ini bukan tempatnya. Tempatnya hanya dirumah sakit.
"Maaf, nenek memang begitu. Maafin ya. Mungkin mereka sebentar. Kalo mau keliling, biar saya antar." Ucap Dira. "Oh iya, saya asisten ibu Siska." Tambahnya sambil tersenyum.
Alena tersenyum. "Iya gak apa-apa. Saya gak perlu diantar."
Alena berjalan keluar seorang diri. Didalam bukan tempatnya. Dari tempatnya berdiri, Ia dapat melihat beberapa anak kecil sedang bermain bersama. Iapun merasa tertarik lalu menghampiri mereka. Seharusnya mereka tidak datang karena ini acara orang dewasa. Jika ia mengenal orangtua mereka, Ia pasti sudah memarahi mereka.
Handphonenya berbunyi. Ia melihat Firly menelponnya.
"Al, beres jam berapa?"
"Aku gak tau. Baru juga mulai." jawab Alena sambil mendesah.
"Kenapa Al?"
"Disini bukan tempat aku Ly, disini tempat para pengusaha berkumpul. Aku gak bisa ikut obrolan mereka. Aku gak nyaman." jawab Alena.
"Trus gimana? Mau aku jemput?"
__ADS_1
"Gak usah. Aku bisa tahan walaupun gak nyaman."
"Jadi kamu mau gimana?" Tanya Siska tegas.
Dave kesal karena sebelumnya ia tidak berunding dengan neneknya. Dan sejak tadi pula ia tidak dapat menemukan Alena. Neneknya terus disampingnya jadi ia tidak bisa bersama Alena. Kalau mereka tidak saling mengenal, kenapa dulu nenek memintanya memiliki hubungan dengan Alena? Kenapa neneknya jadi berubah?
Alena baru saja mencuci tangannya ditoilet. Tanpa sengaja ia mendengar percakapan. Dengan suaranya yang keras, ia bisa tahu jika itu suara nenek Dave.
"Ayo, choose one! ALENA OR FAMILY HEIRS?"
Dave mendesah. Itu bukan pilihan. Dua-duanya tentu saja penting. "Kenapa ngasih pilihan sulit sih nek?"
"Kamu tinggal milih!"
"Tapi Alena masih pacar aku."
"Buat apa kalian masih pacaran? Nenek tahu batas waktu pacaran kamu cuma tinggal dua hari lagi.. Sekarang nenek serahkan seluruh kekayaan nenek sama kamu. Jadi kamu gak perlu berhubungan lagi sama Alena kalau kalian memang gak serius."
Dave terkejut. Begitu pula dengan Alena yang berada dibalik tembok.
"Kenapa kamu gak bisa milih? Apa kamu jatuh cinta sama Alena?"selidik Siska.
"Enggaklah nek, nenek kan tau aku gak bisa hidup cuma dengan satu wanita." Jawab Dave. Padahal hatinya sangat berlainan. "Nenek kan tau skandal-skandal yang aku bikin. Ya itulah Dave.
Cucunya nenek dengan segala skandalnya."
"Ya udah kamu putusin. Biarkan dokter Alena menjalani hari-harinya sebagai dokter. Kamu kembali jadi Dave yang dulu. Toh semuanya udah lunas kan? Kamu dapat warisan nenek, dan dia dapet yayasan." Ucap Siska. Ia menatap wajah Dave yang berubah menjadi sedih. Dave tidak tahu bagaimana bisa neneknya tahu tentang deal antara ia dengan Alena?
Alena tidak perlu mendengar apa-apa lagi. Sudah cukup ia mendengar kalimat itu dari mulut Dave. Semuanya berakhir malam ini. Ia akan membereskannya pada malam ini juga.
__ADS_1