
Alena duduk tepat didepan Dave yang sedang menatapnya. Disampingnya ada Ivan. Ia merasa tidak biasa. Seandainya ia bisa pergi. Alena mendesah.
"Kenapa?" tanya Ivan
"Aku gak nyaman ada disini. Aku mau pulang." bisik Alena.
"Gak enak kalo langsung pulang. Mereka keluarga aku." jawabnya penuh penekanan.
"Kamu yang maksa aku dateng ke tempat ini. Aku gak nyaman. Aku bisa pulang sendiri tanpa kamu anter." ucap Alena kesal. Ia benar-benar marah pada pria disampingnya. Dengan seenaknya ia membawanya ke acara keluarga yang iapun tidak tahu bagaimana ia bisa terlibat.
"Jangan macam-macam kamu Al!"
Alena mengerutkan keningnya. "Kamu ngancam?" ucap Alena marah. Tiba-tiba tangan Ivan menarik lengan Alena kencang.
Alena langsung diam karena pegangan tangan Ivan terlalu kencang. Iapun mengeluarkan handphonenya dan mengirim pesan pada Firly.
Dave melihat kejanggalan diantara kedua orang didepannya. Alena terlihat tertekan. Iapun bangun tapi ditahan Amanda.
"Mau kemana?" tanya Amanda sambil memegang tangan Dave.
Dave melepaskan tangan Amanda. "Aku mau ngajak sepupu kamu keluar."
Amanda melepaskan genggaman tangannya. Dave menatap Ivan tajam. Pria itu langsung menatap Dave dan melepaskan tangan Alena.
"Bisa kita keluar?" tanya Dave dengan tatapan tajam.
"Bisa." jawab Ivan menantang.
Mereka hampir saja pergi, namun acara itu dimulai. Terpaksa mereka kembali duduk.
__ADS_1
Terlihat pembawa acara dengan lantang memulai acara. Kedua orangtua Amanda berada diatas panggung untuk memulai acara. Sebuah kue raksasa telah disiapkan khusus untuk acara itu. Dave dan Amanda berjalan perlahan menghampiri kedua orangtuanya. Ivan dan Alena ikut berdiri karena semua orang ikut berdiri.
"Aku ke kamar mandi sebentar." ucap Alena.
"Cepetan." bisik Ivan.
Alena langsung berlari keluar restoran setelah ia keluar dari ruangan. Ia berlari sekencang mungkin. Sebuah mobil melintas, Alena bersikeras untuk terus berlari. Padahal ia tidak tahu siapa yang ada didalam mobil itu.
"Al!" panggil Firly sambil membuka kaca jendela mobilnya.
Alena bisa bernafas lega. Ia hampir saja menangis namun Firly menggoyang-goyangkan tangannya. "Jangan dulu nangis. Cepet masuk." ucapnya cepat.
Alena masuk kedalam mobil dan merekapun pergi. "Cerita! Kenapa gak pernah cerita ada laki-laki baru?" tanya Firly sambil menyetir.
"Dia itu anak dari profesor. Direktur rumah sakit. Aku baru kenal kemarin."
"Aku gak ngerti. Aku punya hutang budi sama Dokter Ivan. Aku berniat bayar, tapi dia mutusin sepihak. Katanya dia yang pikirin cara gimana hutang itu dibayar."
"Dia udah ngapain kamu Al? Kamu gak pernah setakut ini sama laki-laki?" tanya Firly bingung.
"Aku takut soalnya dia kasar sama aku. Dari omongannya hari ini, aku tau kalo dia bukan pria baik-baik. Aku yakin."
"Trus sekarang mau pulang?"
Alena menggelengkan kepalanya. "Bawa aku ke resto. Kayaknya mereka gak tau kalo aku punya resto."
"Mereka siapa?"
"Mereka. Keluarga itu." jawab Alena. "Udah Ly, aku pusing. Kamu pasti kaget kalo tau tadi acara apa.."
__ADS_1
"Kenapa?"
"Itu acara pertunangan Dave." Alena merasa perasaannya hari ini hancur. Ia tidak sanggup berfikir.
Firly memarkirkan mobilnya disamping jalan. Ia melihat Alena yang sedang menutup matanya. Urat-urat wajahnya terlihat sangat jelas. Firly hanya menatap sahabatnya itu dengan perasaan haru. Alena wanita kuat. Melihat semua yang dilaluinya hari ini, sepertinya ia lemah. Itu bukan Alena yang dikenalnya. Tapi kini ia mengerti, Alena yang sesungguhnya adalah seseorang yang lemah sama seperti wanita lain. Hanya saja Ia dapat menyimpan semua perasaannya dengan baik.
Firly memegang tangan Alena. Ia berbisik. "Kamu sakit hati ya Al liat Dave sama perempuan lain?"
Alena membuka matanya dan menoleh ke Firly. Butiran-butiran airmata mulai menuruni pelupuk matanya.
"Sangat!" jawab Alena pelan. Airmata itu semakin deras mengalir di pipinya. Alena mengangkat kedua tangannya dan menggunakan kedua lengannya untuk menutup kedua matanya. Ia mulai menangis tersedu-sedu.
"Sabar Al." Ucap Firly sambil mengelus bahu Alena.
Dave mencari sosok itu diluar. Pria yang tadi datang bersama Alena tampak sedang mencarinya juga. Dave tersenyum.
"Cari Alena?" sindir Dave.
Ivan menatap Dave tajam. "Kemana Alena? Kamu sembunyiin dimana?"
Dave tertawa. "Kok nanya aku? Kamu gak liat daritadi aku sama sepupu kamu?"
"Aku yang bawa Alena kesini."
"Apa urusannya sama aku? Aku cuma akan berurusan sama laki-laki yang bikin Alena gak nyaman." jawab Dave sambil menunjuk wajah Ivan.
Pria itu tampak marah. Ia pergi kedalam ruangan. Dave mengikutinya dari belakang.
Alena pintar. Dia bisa lepas dari cengkraman pria itu. Sejak tadi melihatnya, Dave tidak yakin dengan sifat pria itu. Sekarang giliran Dave yang akan menyelesaikan semuanya. Tidak ada hari esok. Ia akan menyelesaikan semua urusan dengan Amanda dan keluarganya malam ini. Ia melangkahkan kakinya dan berjalan dengan tegap.
__ADS_1