
Alena berlari menuju tenda setelah ia mendapat telepon dari salah satu calon dokter yang menjaga pasien anak-anak. Ia mendapatkan pasien baru yang menunggunya. Ia tidak tahu apa yang terjadi. Tapi sepertinya gawat.
Ketika masuk kedalam tenda, ia melihat anak perempuan itu sedang meringis kesakitan. Wajahnya pucat. Usianya sekitar 12 tahun. Alena mendekat dan melihat sekujur tubuh gadis itu. Kakinya sedikit terluka akibat benturan benda keras. Pakaiannya kotor akibat lahar dingin. Semalaman daerahnya hujan sangat besar sehingga pagi ini terjadi banjir lahar dingin yang mulai memasuki sungai-sungai disekitar daerahnya.
Alena membuka baju gadis itu sebentar. Tidak ada yang ganjil. Kemudian ia meminta orang-orang disana untuk pergi. "Tolong bawa orang-orang ini keluar." bisik Alena. Calon-calon dokter itu pergi untuk mengusir beberapa warga yang penasaran karena teriakan anak itu. Darren muncul dibelakangnya. Ia melihat Alena dengan teliti.
"Sayang, kamu kenapa?" bisik Alena. Ia bertanya sambil melihat-lihat bekas luka anak itu.
"Saya hampir jatuh ke sungai, Bu dokter. Tadi banjir besar." bisiknya pelan sehingga Alena harus menundukkan kepalanya untuk mendengar ucapan anak itu.
"Apa yang sakit?"
Gadis itu terdiam. Alena mulai membuka pakaian anak itu. Ia menekan-nekan kulit didada dan perutnya. Ada sedikit memar diperut sebelah kanannya. Ketika Alena menekannya, anak itu menjerit kesakitan.
"Apa saya mau mati, dokter?" tanya anak itu sambil menangis. Ia menahan kesakitan yang kuat.
"Enggak sayang, Bu dokter pasti bisa selametin kamu. Kamu tenang aja." bisik Alena. Ia terus menatap memar diperutnya.
"Kenapa dok?" tanya Darren.
"Gadis ini kena hematoma , kita gak bisa operasi disini. Kita harus bawa ke rumah sakit, dokter. Tolong panggil ambulance. Kita ke rumah sakit sekarang. Anak ini perlu operasi."
__ADS_1
"Ke rumah sakit butuh waktu, dokter."
Alena berdiri. "Saya gak peduli. Cepet panggil Ambulance."
Darren langsung berlari keluar.
Ini adalah pertama kalinya ia mendapatkan kasus seperti ini. Anak ini terkena hematoma akibat benturan benda yang sangat keras diperutnya.
Hematoma sendiri adalah kumpulan darah tidak normal di luar pembuluh darah. Kondisi ini dapat terjadi saat dinding pembuluh darah arteri, vena, atau kapiler mengalami kerusakan sehingga darah keluar menuju jaringan yang bukan tempatnya.
10 menit kemudian, Darren masuk kedalam tenda. "Dok, gak ada ambulance. Saya pinjam mobil milik dinas kesehatan. Kita bisa bawa anak ini kerumah sakit sekarang."
Selama di pengungsian, Alena dan Darren menjadi team yang sangat kuat. Mereka bekerja secara berdampingan. Apa yang mereka lakukan berdasarkan hati. Tidak ada imbalan apapun selain kepuasan. Dan seminggu lagi mereka telah selesai menyelesaikan waktu 3 bulan menjadi tim relawan. Alena akan memberikan keputusannya setelah pulang nanti. Apakah ia akan melanjutkan menjadi tim relawan atau tidak.
Dilain tempat.
Dave berada di restoran mewah yang berada didekat laut. Suasana romantis sangat terasa. Ia menunggu seseorang. Satu bucket bunga mawar merah yang sangat besar telah disimpan didepan mejanya. Sesekali ia melihat handphonenya. Ada beberapa panggilan dari Calvin tapi ia abaikan. Ia ingin melakukan surprise khusus bagi wanita yang sangat spesial. Tidak lama, wanita cantik itu muncul dipintu. Rambutnya terurai indah. Wajahnya sangat cantik. Tubuhnya langsing dan tinggi semampai. Dave tersenyum ketika wanita itu datang.
Amanda. Wanita cantik itu bernama Amanda. Tak hanya cantik, wanita itu juga yang telah membuat kesepian Dave sirna. Bukan hanya itu, Dave pula dapat dengan cepat melupakan Alena. Amanda adalah seorang mahasiswa design yang ia kenal ketika ia sedang menjadi salah seorang pembicara disebuah universitas tempat Amanda sekolah. Mereka mulai menjalin hubungan satu bulan yang lalu. Hari ini Dave mengundangnya untuk makan malam sekalian untuk melamar gadis itu.
"Dave, sorry udah lama nunggu?" tanya gadis itu ketika ia mendekati Dave.
__ADS_1
Dave langsung berdiri dan menarik kursi didepannya agar gadis itu duduk. "Kamu pantas ditunggu, sayang."
Gadis itu tersenyum senang.
"Aku seneng kamu pulang. Aku kangen sama kamu." Ucap Amanda sambil memegang tangan Dave. "Jadi kapan pergi lagi ke Thailand?"
"Mungkin bulan depan." jawab Dave sambil tersenyum.
"Manda, jujur aku gak bisa basa basi, aku ngundang kamu kesini karena aku berniat buat ngelamar kamu." ucap Dave.
Amanda terkejut namun wajahnya berseri karena bahagia. Dave langsung memegang jari-jari gadis itu. "Nikah sama aku ya. Aku gak akan cepet-cepet kok. Kamu harus beresin dulu sekolah kamu." ucapnya gugup.
"Iya Dave, aku mau." jawab Amanda tanpa banyak berfikir. Ia semakin bahagia ketika Dave menyematkan cincin berlian di jari manis Amanda.
Alena menyandarkan tubuhnya ditembok rumah sakit. Ia sangat lelah hari ini. Operasi telah berjalan dengan lancar dan nyawa gadis itu bisa diselamatkan. Tiba-tiba jantungnya berdebar dengan kencang. Ia merasa panik dan entah kenapa airmatanya menetes.
"Kenapa dok?" tanya Darren ketika ia menghampirinya. Ia merasa aneh melihat Alena menangis. Padahal operasi itu telah berjalan dengan lancar. Ia melihat Alena memegang dadanya. Alena menundukkan kepalanya dan memeluk kedua kakinya. Ia menangis tanpa alasan yang jelas.
Kenapa ini? Kenapa hatinya sakit? Rasa sakit yang sama ketika ia harus kehilangan ibunya.
Darren merasa panik. Ia langsung membawa Alena pergi keluar rumah sakit. Hampir 3 bulan mereka bersama-sama, baru kali ini ia melihat Alena seperti itu. Alena sangat tertutup pada kehidupan pribadinya. Ketika di pengungsian, ia melihat Alena terus bekerja melayani warga yang sakit sehingga ia melupakan kesehatannya sendiri. Bahkan beberapa kali Alena disorot kamera karena keteladanannya sebagai seorang dokter wanita muda.
__ADS_1