
Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Malam itu jalanan tidak macet seperti biasanya. Siska baru saja bertemu dengan pengacara keluarga Alena. Hasil dari pertemuan itu ia mendapatkan kabar jika adik kandung Alena belum dapat ditemukan.
"Lebih baik masih disembunyikan kalau Clara hilang. Beruntung Alena tidak menjadi target dari ibu tiri mereka karena mereka tidak tahu tentang anak itu. Tapi saya takut jika Alena tau adiknya hilang sampai sekarang, ia akan menemui ibu tirinya dan semuanya tidak akan sesuai rencana."ujar pengacara keluarga Alena.
"Apa gak lapor ke polisi?" tanya Siska.
"Itulah masalahnya. Tidak ada bukti yang bisa menjerumuskan wanita itu. Kecuali Clara ditemukan."
Siska menatap keluar. Jalanan malam itu basah karena habis hujan. Perbincangan singkat antara dirinya dan pengacara itu membuatnya berfikir.
"Dira, kapan Alena pulang?"
"Seharusnya malam ini ia sudah pulang."
Siska melihat jam tangannya. "Kalau malam ini ia sudah pulang, besok jadwalkan saya untuk ketemu."
"Baik Bu."
Ketika mobil mereka sampai dirumah, Siska melihat mobil Dave sudah terparkir di garasi. Iapun turun dari mobil.
"Dira, kamu langsung pulang aja. Kasian istri kamu." ucap Siska.
"Baik Bu, terimakasih."
Siska berjalan masuk kedalam rumah. Tidak nampak Dave disetiap sudut manapun. Ia heran, tidak pernah sekalipun Dave berada di kamarnya selain waktu tidur. Apakah ada yang berubah? Iapun berjalan untuk naik kelantai dua. Ia akan melihat Dave. Apa yang sedang ia lakukan? Sejak Dave membicarakan tentang hubungannya dengan wanita selain Alena, mereka belum bertemu sama sekali.
Dave baru saja mandi setelah seharian berada diluar. Ia ingin istirahat tapi ia teringat sesuatu. Ia berjalan ke mejanya dan duduk. Iapun menyalakan laptopnya. Ia tidak akan bekerja malam ini. Ia hanya ingin melihat sesuatu.
Ia membuka YouTube dan mulai melakukan pencarian. Ia mulai mengetik sesuatu dan berita nya langsung muncul di beberapa headline. Dave melihat satu berita yang menarik perhatiannya. "Dokter Viral yang dicintai karena kebaikannya".
Wajah Alena disela-sela pekerjaannya terus di shoot secara tidak sengaja. Bagaimana ia dengan cekatan membantu para pengungsi? Bagaimana ia bisa berbaur dengan anak-anak dengan memberinya konseling akibat bencana? Dave terpesona untuk kesekian kalinya. Seakan kebencian itu hilang seketika. Kemudian ia membuka sebuah video yang membahas tentang "Asmara Dokter Viral ". Menurut isi video itu, saat ini Alena sedang didekati oleh seorang dokter tampan bernama Darren Aditya. Setiap saat dan setiap detik pria itu bersama Alena. Sebagai pria, ia bisa mengatakan jika pria itu yang bersama dengan Alena setiap saat memang tampan. Dan parahnya, ia terlihat serasi berada disamping Alena. "Shitt!" umpatnya. Dave langsung mematikan laptopnya dan terdiam. Ia kesal melihatnya.
Iapun membuka lacinya. Ia mengeluarkan handphonenya yang lama saat ia masih berhubungan dengan Alena. Foto-foto tentang Alena banyak sekali. Ketika ia pergi ke New York, ia cukup melihat foto-foto itu untuk melepas rindu. Ia melihat satu foto yang membuatnya sangat menyukainya. Alena memakai pakaian kebesarannya dan tersenyum dengan sangat manis.
__ADS_1
"Alena memang cantik, Dave." Ujar Siska yang kini berada dibelakangnya.
Dave membalikkan badannya karena terkejut. "Nenek?"
"Iya. Gimana pisah sama Alena? Sakit? Tapi sekarang kamu gak sakit lagi kan? Tunangan kamu yang nenek gak kenal itu udah bisa membuka hati kamu." jawab Siska.
Dave mengerutkan keningnya. "Kenapa nenek bilang begitu?"tanya Dave sambil berbalik lagi.
"Karena nenek tahu kalau kamu memang seperti ini pada akhirnya. Nenek tau kalo kamu mencintai Alena. Cuman nenek kecolongan karena kamu lebih bertindak cepat dengan melamar gadis muda itu. Nenek sedikit kecewa sama kamu." jawab Siska sedih.
"Tapi Alena yang ninggalin aku. Dia pikir kontrak kita selesai begitu juga hubungan kita pas nenek bilang mau ngenalin aku ke klien-klien nenek. Saat Alena hilang itulah ada Amanda yang bisa masuk pas aku lagi kosong."
Siska tersenyum samar. "Alena gak salah sama sekali. Dia dengar obrolan kita dipesta waktu itu. Kalo kamu gak digituin, mana mungkin kamu sadar kalo kamu cinta sama Alena. Kamu terlalu munafik untuk mengakui kalo kamu cinta sama Alena."
Dave terdiam. Ia menatap neneknya. "Alena denger apa?"
"Dia denger kalo kamu gak cinta sama dia. Setelah dua bulan kalian menjalani hubungan, kamu dengan munafiknya berkata seperti itu. Padahal nenek tau kamu gak seperti itu. Selama kamu pacaran sama artis-artis itu, kamu gak pernah serius. Beda sama Alena. Walaupun kamu bilang hubungan kalian mengalir, tapi kalian serius."
"Kamu tau kenapa nenek meminta kamu berhubungan dengan Alena? Nenek sama sekali gak kenal dengan Alena. Tapi nenek mau Alena jadi istri kamu. Harapan itu ada sampai kemarin. Hari ini nenek menyerah dengan harapan itu."
Dave menatapnya. Hatinya merasa menyesal karena bertindak terlalu cepat.
"Karena Alena yang menyelamatkan hidup nenek saat nenek terkena serangan jantung dijalan raya. Ia yang membawa nenek kerumah sakit dan menjaga nenek sampai nenek bisa pulang kerumah. Alena tidak ingat dengan peristiwa itu. Alena adalah gadis yang baik. Apakah sekarang Alena pantas disakiti sama kamu? Jawabannya adalah enggak sama sekali. Sekalinya kamu nyakitin Alena, kamu berhadapan dengan nenek."
"Aku gak sengaja nek, aku juga gak tau gimana perasaan Alena sama aku."
"Harusnya kamu juga udah sadar. Tapi sayangnya udah terlambat. Kamu gak bisa berhubungan dengan dua wanita, Dave.
"Amanda, aku bisa urus." jawab Dave cepat. "Tapi Dave butuh waktu."
"Kamu mau tau? Yang mereka bilang diyoutube tentang Alena itu benar. Tentang laki-laki yang sekarang dekat dengan Alenapun nenek tahu."
Dave menatap wajah neneknya panik. "Laki-laki siapa?"
__ADS_1
"Dokter muda itu."
"Alena gak boleh sama siapapun kecuali Dave." Serunya kesal.
Siska tertawa. "Kamu lupa punya Amanda." ucap Siska sambil berjalan keluar.
Dave masih duduk ditempatnya ketika Amanda menelpon. Ia hanya melihatnya. Ia merasa dingin ketika melihat Amanda menelponnya. Gadis itu tidak salah apapun. Ia yang salah karena terlalu cepat membuat keputusan. Ia teringat ketika acara kampus Amanda saat itu. Ada acara Bazaar ketika ia datang kesana. Amanda menjadi salah satu pemilik tenant. Ia dan teman-temannya menjual berbagai makanan turki. Termasuk makanan yang pernah Alena buat untuknya. Dan saat itu ia melihat Amanda membuat kumpir sama seperti Alena ketika membuat untuknya. Ia terpana seketika. Apakah itu berarti Amanda hanyalah sosok pengganti Alena?
Dave menggelengkan kepalanya. Iapun mengangkat telepon karena handphone ya terus berdering.
"Halo.." jawab Dave malas.
"Sayang, kamu kemana aja dari siang aku telepon gak diangkat?" protes Amanda dengan nada kesal.
"Aku banyak meeting hari ini. Maafin aku." ucap Dave berbohong.
"Banyak meeting? kamu pasti capek ya!"
"Enggak. Udah biasa." jawab Dave malas.
"Sayang, kamu bisa anterin aku? Minggu ini mama ulangtahun, kita harus nyari kado. Kita harus cari kado yang mahal ya. Tapi besok aku ada acara dikampus. Pulang dari kampus kamu bisa jemput aku?"
"Lusa. Aku bisa anterin kamu lusa." ucapnya cepat.
"Oke. Pulang kuliah jemput aku ya." ucap Amanda. "Eh Sayang, aku mau cerita tentang papa aku. Dia udah tau tentang kamu lamar aku."tambahnya.
"Amanda,, kita sambung lagi besok ya. Aku ngantuk." potong Dave cepat. Ia menjadi malas mendengar nada manja Amanda.
"Ya udah kalo gitu, kamu istirahat yang banyak. Biar besok bisa fresh lagi."
"Oke." jawab Dave langsung menutup telepon.
Alena belum pernah memintanya menjemput ketika dirumah sakit . Saat itu justru ialah yang berinisiatif menjemput. Alena bahkan belum pernah meminta sesuatu darinya yang mahal yang ia gunakan untuk dirinya sendiri, pikir Dave. Mengapa ia jadi membandingkan Alena dengan Amanda? Apakah ia memang salah mengartikan perempuan baik? Apakah kali ini ia setuju dengan ucapan Edward? Iapun mulai menghubungi Edward.
__ADS_1