When Billionare meet doctor

When Billionare meet doctor
Pasien orang dewasa pertama


__ADS_3

Alena melihat handphonenya bergetar. Firly menelponnya. "Ya, kenapa Ly?" Jawab Alena.


"Kamu udah ketemu sama Dave belum?" tanya Firly dengan nada sedikit tinggi. Mungkin karena disekitarnya sedikit bising. Terdengar suara motor dan klakson mobil.


"Udah."


"Al tau gak? tadi dia maksa aku buat nyariin alamat kamu."


"Trus gimana?" tanya Alena sambil tersenyum.


"Ya dia maksa, terpaksa aku kasih tau kamu dimana. Wajahnya kayak mau nangis,Al. Kamu udah ketemu sama Dave?"


"Ada disebelah aku." jawab Alena pendek. Ia menatap Dave sambil menahan tawa.


"Hah."


"Aku gak maksa, Firly sayang. Kamu yang dengan senang hati ngasih tau aku dimana Alena berada." ucap Dave sambil tertawa. "Tapi makasih ya, nanti aku kasih gift."


Alena tengah menyandar dibahu Dave dengan satu tangan memegang tangannya. Mereka duduk menyandar disofa untuk waktu yang cukup lama. Tidak ada kata-kata hanya terdiam menikmati keheningan malam hingga terdengar suara handphone bergetar dan ia melihat Firly menghubunginya.


"Aku tunggu gift nya. Bye!" ucap Firly sambil menutup teleponnya dengan cepat.


"Teman kamu yang lucu cuma Firly." ungkap Dave sambil tertawa.


"Ya, dia yang selama ini nyariin aku pacar. Firly the best pokoknya."


Dave melepaskan tangannya. Ia bangun. "Jadi Firly juga tersangkanya?"


Alena mengerutkan keningnya. "Tersangka?"


"Iya, dia yang ngenalin kamu sama teman-teman cowoknya."


"Iya, tapi kamu liat sendiri. Gak ada yang cocok sama aku." jawab Alena


"Udah pasti. Yang cocok cuma aku aja." ujar Dave percaya diri. Iapun melihat jam tangannya. "Kita pulang Al. Udah malem. Aku anterin. Besok kamu ada pasien?"


Alena berdiri. Ia menatap jamnya. "Ada operasi kecil siang."


"Tuh kan, pulang yuk! Besok kamu juga mau grand opening cafe. Kamu harus banyak istirahat. Nanti kamu sakit."


Perhatian Dave membuat Alena malu. Ia membawa tasnya dan berjalan mengikuti Dave dari belakang. Dave memegang tangan Alena hingga ke mobilnya.


Calvin telah tiba di kantor Dave keesokan paginya untuk membahas penyidikan pimpro Flower Village. Ia melihat wajah Dave yang terlihat lemas. Ia menyandarkan tubuhnya di sofa.


"Ada sesuatu?" tanya Calvin ketika masuk keruangan nya tanpa mengetuk pintu.


Dave melihat Calvin. "Cuma capek aja. Aku gak enak badan mulai bangun tidur tadi pagi."


"Aku panggil Alena buat periksa kamu." ucap Calvin sambil mengeluarkan handphonenya.


Dave mengangkat tangannya. "Jangan. Dia ada operasi siang ini. Jangan ganggu. Kasian."


Dave bangun dari sofa dan berjalan ke kursi kerjanya. Beberapa kali ia batuk. Calvin dengan cepat membawakan air minum untuk Dave.


"Kemaren pulang dari Bali gak apa-apa." ucap Calvin. Dave hanya menggelengkan kepalanya.


Entah kenapa pada pagi ini, ketika Dave bangun kepalanya pusing. Tubuhnya lemas. Beberapa kali ia berpegangan tangan pada tembok untuk sampai ke kamar mandi.


"Edward mana?"tanya Dave.


"Semalem dia udah pergi lagi ke Phuket."


Dave tersenyum. "Edward gak ada capeknya. Padahal Dega udah bilang, jangan biarin Edward main sendiri. Bisa bahaya."


Calvin tertawa mendengar cerita Dave. "Kapan Dega hubungi kamu?"


"Aku pake Dega buat jadi lawyer kita. Dia udah jago. Apalagi sekarang kita dituntut sama pemilik Flower Village. Tadi malem dia telp aku buat nanya progress Flower Village kedepan. Sekalian nanya kabar adiknya." jawab Dave. Sesekali ia menutup matanya.

__ADS_1


Calvin hanya mengangguk dan merasa cemas. Ia mengeluarkan handphonenya dan mulai mengetik sesuatu. "Jadi Dega mau pulang?" ucapnya.


Dave mengangguk. "Kayaknya dia jadi pindah kesini."


Alena baru saja selesai melakukan operasi kecil pada seorang anak yang harus kehilangan kukunya karena terjepit sesuatu. Ia duduk diruangannya sambil melihat handphone. Foto-foto yang dikirimkan oleh Maya membuatnya senang. Mereka telah siap 99% untuk grand opening. Alena menatap jamnya. Masih ada waktu 5 jam sebelum dibuka. Tiba-tiba ada pesan masuk dari Calvin.


Al, bisa ke kantor Dave kalo operasi kamu udah beres? Dave lagi sakit, tapi dia gak mau ke dokter. Aku gak boleh ngehubungi kamu karena takut ganggu.


"Sakit?" ucap Alena. Tadi malam sepertinya tidak apa-apa, pikirnya. Tiba-tiba ada balasan kedua. Calvin mengirimkan kartu nama Dave. Iapun bangun dari kursi dan berjalan keluar. Ia menghampiri Suster Ana yang sedang mencatat sesuatu. "Suster Ana, ada pasien lagi gak?"


Suster Ana melihat kartu didepannya. "Kosong dok!"


"Saya pergi sekarang ya, ada pasien nunggu." jawab Alena. Ia berjalan ke ruangannya untuk melepas jubah dokternya.


"Siap dok!" seru Suster Ana.


Alena berlari menuju parkiran. Tapi ia harus kecewa karena untuk kedua kalinya mobil miliknya harus tertutup oleh mobil lain. Ia melihat kekiri dan kekanan untuk mencari pegawai parking. Tapi mereka tidak terlihat. Ia menatap jam tangannya. Tanpa menunggu lama, ia langsung pergi keluar untuk mencari taxi.


Butuh waktu setengah jam untuk sampai ke kantor Dave. Alena melihat gedung itu terpana ketika sampai disana. Dave bisa dikatakan sangat kaya. Gedung didepannya sungguh megah untuk sebuah perkantoran. Ia tidak menyangka dapat berhubungan dengan pria yang latar belakang profesinya sangat jauh berbeda.


Alena berjalan menuju resepsionis. Mereka tersenyum ketika melihat Alena. "Siang, saya mau bertemu Pak Dave." ucap Alena ramah.


Kedua orang itu saling bertatapan. Mereka seperti enggan memberikan ijin agar Alena dapat bertemu dengan Dave. Alena dapat mengerti. Tidak semua orang bisa bertemu dengan Dave. Termasuk dirinya.


"Maaf Bu, Pak Dave sedang pergi meeting diluar." Jawab salah seorang pelayannya.


Kedua alis Alena terangkat. "Oh ya?" Iapun mengeluarkan handphonenya. Ia mencari Dave.


"Halo, Al" jawab Dave. Terdengar suaranya sedikit lemas.


"Dave, aku mau minta ijin sama kamu." ucap Alena. Kedua resepsionis itu menatap Alena. Keduanya sesekali berbisik-bisik.


"Ijin apa? Kamu dimana?"


"Ijin buat ketemu kamu. Aku dibawah. Depan resepsionis." ucap Alena. Ia menatap kedua resepsionis itu yang berubah pucat.


"Oke, Dave." jawab Alena sambil menutup teleponnya.


Kedua resepsionis itu keluar dari tempatnya dan mendekati Alena. "Maafkan kita Bu, gak semua orang bisa masuk buat ketemu Pak Dave."


Alena tersenyum. "Saya ngerti kok."


Alena cukup menanyakan dilantai berapa Dave berada. Ia bisa pergi sendiri untuk melihatnya.


Lift itu mengantarkannya menuju lantai 9. Itu adalah lantai paling atas menurutnya. Dan tentu saja ruangan direktur ada disana. Alena melihat tasnya. Ia cukup membawa obat-obatan untuk membantu Dave mengurangi sakitnya. Ketika lift terbuka di lantai 9, ia berpapasan dengan Calvin.


"Al, kamu udah dateng?" ucapnya senang.


"Dave kenapa? Tadi malem baik-baik aja." tanya Alena bingung.


"Mungkin capek. Dia kurang tidur waktu di Bali. Kamu periksa aja sendiri. Aku masih harus ngurus sesuatu." ujar Calvin.


"Oke, hati-hati Vin."


Alena berjalan mencari ruangan Dave. Ia menatap kekiri dan kekanan. Ia bingung harus kemana. Tiba-tiba ada seorang wanita menghampirinya. "Saya sekretaris Pak Dave. Silahkan ikut saya." ucapnya ramah. Wajahnya tidak cantik, tapi bisa dilihat jika wanita itu pintar.


Wanita itu mengantarkannya kesebuah pintu besar dengan relief antik di semua sisinya. Pintu diketuk perlahan. Terdengar suara Dave memintanya masuk. Alena masuk pelan tanpa diikuti wanita itu.


"Dave!" panggil Alena.


Dave membuka matanya. Ia tengah duduk di kursi kerjanya. "Al, bukannya kamu ada operasi?" tanya Dave sambil berdiri dari duduknya.


Alena mengangkat tangannya. "Duduk! Aku cuma mau ngecek kondisi kamu. Aku udah beres operasi sejam yang lalu."


Dave duduk kembali. "Aku baik-baik aja." jawab Dave bohong.


"Aku gak akan kesini kalo kamu baik-baik aja." ucap Alena sambil menghampirinya. Ia mengecek suhu tubuh Dave. Demam, pikirnya. Iapun mengeluarkan thermometer dari tasnya. "Simpen di ketiak kamu."

__ADS_1


Dave mengikuti instruksi Alena. Kemudian Alena memeriksa denyut nadi. Ia menatap jam tangannya sambil memeriksa. Beberapa kali ia mengangguk.


Dave menatap Alena terpesona. Ia senang karena ia menemukan Alena. Mungkin memang takdirnya harus bertemu dengan dokter yang dapat memahami kondisi pekerjaannya.


"Jangan ngeliatin terus. Nanti aku minta bayarannya lima kali lipat." bisik Alena membuat Dave tersenyum.


Kemudian ia mengeluarkan thermometer itu dan melihatnya. 34 derajat Celcius, ucap Alena dalam hati. "Pulang yuk!" ucap Alena pada Dave.


"Kenapa?"


"Kamu harus istirahat, Dave."


"Tapi hari ini aku ada meeting. Belum lagi grand opening resto kamu. Aku harus bantuin kamu."


"Grand opening resto aku gak butuh bantuan kamu." senyum Alena. "Ayo pulang. Aku anterin" ucap Alena.


"Aku gak mau."


"Kamu mau ngikutin omongan dokter atau enggak?" tanya Alena sambil berkacak pinggang. Dave hanya tersenyum. Ia tidak pernah diperhatikan selain oleh neneknya. Semua wanita yang datang hanya menginginkan uangnya saja.


Tiba-tiba Alena teringat sesuatu. Ia tidak membawa mobilnya. "Aku gak bawa mobil."


"Bawa punya aku." jawab Dave cepat. Ia mengeluarkan kunci mobil dari sakunya.


Alena ragu. Ia menatap kunci lalu menatap Dave. "Aku belum pernah bawa mobil mahal. Aku takut."


"Gak apa-apa. Bawa aja."


Alena berhati-hati membawa mobilnya. Dave yang berada disampingnya hanya bisa tertawa mengingat mobil yang dibawanya adalah mobil miliknya yang paling mahal. "Awas depan ada kucing." godanya.


Alena melirik sekilas."Jangan ngetawain aku, Dave. Aku tau kok kamu godain aku."


Dave hanya terkekeh. Ia mengangkat tangannya dan memegang kepala Alena sambil membelai rambutnya.


Ketika mobil mulai memasuki basement. "Awas.." goda Dave.


Alena menghiraukan ucapan Dave. Tapi ia bisa parkir dengan sempurna. Alena turun terlebih dahulu. Ia berjalan kepintu samping dan membuka pintu tempat Dave duduk.


"Aku beruntung punya dokter pribadi kayak kamu." ucap Dave senang.


"Bayarannya mahal. Aku gak nerima uang tunai atau transfer. Aku cuma nerima cek." Jawab Alena tanpa melihat Dave. Ia membantu Dave turun dari mobil.


"Berapapun Al." ucapnya


Dave mengganti pakaiannya selagi Alena membuat teh hangat untuk Dave. Ketika ia masuk, Dave telah mengganti pakaiannya dengan kaos dan celana pendek. Terlihat oleh Alena ada bekas jahitan di kaki kanannya. Ia melihatnya tanpa Dave sadari. Ia duduk disamping Dave.


"Kakinya kenapa?"


"Pernah jatuh dari motor beberapa tahun yang lalu. Pas aku lagi liburan kuliah dari Michigan." jawab Dave sambil mengangkat kakinya.


"Oh. Sekarang gimana?" tanya Alena. Ia melihat jenis obat yang akan diberikan pada Dave.


"Gak apa-apa. Aku suka sama perhatian kamu." jawab Dave sambil memeluk Alena.


"Gak usah meluk. Ini obatnya makan." ucap Alena sambil melepaskan tangan Dave. Ia memberikan obat itu pada Dave.


"Nanti pulang dari restoran kesini lagi ya.."


Alena menggelengkan kepalanya. "Aku gak mau. Kalo nanti malem aku kesini lagi, siapa yang anterin aku pulang."


"Nginep disini." ucap Dave menggodanya.


"Besok pagi aku kesini lagi. Aku janji." jawab Alena


Ia beranjak dari tempat tidur dan bersiap untuk pergi. Masih banyak acara yang menantinya.


"Aku pergi. Jangan lupa diminum obatnya. Besok pagi aku kesini lagi." ucap Alena sambil berjalan keluar kamar.

__ADS_1


Dave hanya mengangguk sambil melambaikan tangannya.


__ADS_2