When Billionare meet doctor

When Billionare meet doctor
Gagal pulang


__ADS_3

Dave dan kedua sahabatnya baru saja tiba di bandara. Akhirnya mereka pulang. Mereka senang karena surat kontrak telah ditangan. Dua minggu bukan waktu yang lama bagi mereka.


Edward mengeluarkan handphonenya yang ada disaku celana ketika terasa getaran. Ia menatapnya. Wajahnya yang serius tiba-tiba berubah menjadi ceria.


"Yes!" seru nya tiba-tiba.


Dave dan Calvin menoleh pada sahabatnya.


"Aku menang proyek pengadaan barang buat hotel di Phuket." ucap Edward girang.


"Lagi?" tanya mereka berdua bersamaan. Mereka saling bertatapan kemudian tertawa.


"Jangan ngetawain. Ini proyek gede. Orang Thailand nya sendiri susah dapet."


"Lama-lama nanti kamu malah dapet cewek Thailand." ujar Dave.


"Mungkin." jawab Edward sambil tertawa. Ia bebas karena menurutnya semua wanita sama saja. Bisa dibohongi.


Tiba-tiba handphone Calvin berbunyi. Ia menatap sekilas dan mengangkatnya.


"Halo.."


Dave dan Edward menghentikan langkahnya. Ia melihat wajah Calvin yang tiba-tiba pucat.


"Kenapa?"tanya Dave.


Calvin menatap Dave dan Edward dengan mata nanar. "Flower Village yang sekarang lagi dibangun ambruk. Yang disorot sekarang kontraktor. Investor sama pemilik minta tanggung jawab kita."


"Trus gimana? Ada korban?" tanya Edward cemas.


"Baru 3 orang ketemu dalam keadaan meninggal." jawab Calvin.


Tanpa banyak berfikir, mereka bertiga langsung memutar balik untuk mencari tiket agar sampai di Bali dengan cepat.

__ADS_1


"Kita pake heli aja." seru Dave. Calvin menggeleng. "Kelamaan nunggu. Tuh, ada yang berangkat setengah jam lagi. Masih keburu." ujarnya cepat. Mereka tidak pernah membayangkan hal buruk akan terjadi.


Flower Village adalah satu diantara 10 kebanggaan Dave dalam pembuatan sketsa. Apalagi ini dikerjakan di negara nya sendiri. Tidak mungkin ia membuat sebuah bangunan yang buruk.


"Cek siapa penyuplai bahan bangunan. Trus siapa yang tanggungjawab Flower Village." ujar Dave ketika mereka telah berada di pesawat.


"Kita harus gerak cepat. Untung pesawatnya gak delay." ucap Edward.


Calvin membuka data di handphonenya. "Dave, kamu harus cek sendiri. Sebenernya aku gak terlalu ngerti sama ukuran tiang-tiang penyangga ini." ucap Calvin sambil memperlihatkan data bangunan.


Dave melihatnya. Ia mengerutkan keningnya. "Ini salah. Kita harus ketemu sama pimpro pas nyampe. Aku salah karena terlalu fokus sama yang proyek kemarin. Aku gak ngecek beberapa perubahan yang dibuat pimpro." ucapnya kesal.


Alena melihat jam dinding dirumahnya. Menjelang tengah malam, tidak ada kabar jika Dave pulang malam ini. Iapun menyalakan tv karena bosan. Ia tertarik ketika melihat berita mengenai sebuah gedung di Bali yang ambruk dan memakan korban jiwa. Mereka adalah para buruh yang sedang bekerja didalam gedung. Alena bergidik ngeri. Ia tidak bisa membayangkan jika ada salah satu keluarganya yang menjadi korban. Dan evakuasi masih berlangsung. Entah berapa korban yang berjatuhan.


Handphonenya berbunyi. Firly menelponnya.


"Ya" jawab Alena malas.


"Al, aku lupa. Tadi ketemu om Andra di rumah mama katanya besok siang barang-barang mulai masuk ke restoran kamu. Ada pasien gak besok?"


"Aku gak bisa temenin kamu Al. Kamu bisa sendiri kan?" ucap Firly dengan nada sedih.


Alena tertawa. "Aku gak pernah minta bantuan kamu kok."


"Dasar cewek gak tau malu." seru Firly bercanda. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. "Eh, ngomong-ngomong pacar kamu udah pulang belum?"


"Aku gak tau. Belum mungkin. Gak ngasih kabar."


"Trus gimana?" tanya Firly.


"Gimana apanya? Pokoknya Dave pernah telpon aku, dia bakal pulang beberapa hari lagi. Ya udah gitu aja."


"Gak bener. Udah pokoknya ntar hari minggu, kamu janjian sama temen aku." seru Firly cepat. Nadanya terdengar kesal.

__ADS_1


"Masih ada waktu 3 minggu aku jadi pacar Dave. Aku mau menikmati dulu jadi pacar orang kaya." Jelas Alena sambil tertawa. Ia adalah orang yang mengikuti aturan.


"Al, perasaan kamu gimana kalo nanti pisah?" tanya Firly.


Alena menghela nafas. "Aku gak tau. Aku juga masih bingung. Tapi seenggaknya kalopun aku sakit hati sama Dave, aku bakal cepet sembuh."


"Caranya?"


"Gak akan aku kasih tau." jawab Alena sambil tertawa.


"Tuh kan rahasia lagi.." seru Firly kesal.


Alena hanya tersenyum ketika Firly menutup teleponnya. Ia tahu jika sahabatnya kesal. Tapi demi kesuksesannya pergi untuk menjalankan misi, ia harus merahasiakannya sejenak. Lagipula ketika ia pergi nanti, ia sudah tidak punya hubungan dengan Dave.


Ia pun bangkit dari duduknya dan berjalan ke kamar. Ia duduk dimeja kerja yang ada di kamarnya dan menyalakan laptopnya. Ia harus mulai mencari pegawai. Karena jika hitungannya pas, seminggu lagi restoran bisa dibuka.


"Enam korban." ungkap polisi yang mengidentifikasi jenasah korban ambruknya Flower Village.


Dave menatap serius pada bangunan yang sudah roboh didepannya. Ia mengangkat salah satu tangannya ke mulut. Jari-jarinya menggenggam sesuatu. Ia marah sekali. Semua rencana yang sudah ia tuangkan di village ini, hancur dalam waktu satu hari.


"Dave, kabar buruk!" ucap Calvin ketika ia mendekati Dave.


"Apa?"


"Pimpro kabur. Aku tau ada yang salah. Tapi ini gak beres. Menurut beberapa orang yang aku tanya dari tadi sore, pimpro belum gaji pegawai selama satu bulan. Trus ada yang bilang pas pembangunan kemarin, pimpro yang atur ukuran-ukuran tiang penyangga gedung. Dia ngerubah design kamu." ungkap Calvin kesal.


"Aku udah tau dia ngerubah design." jawab Dave tanpa melepaskan tatapannya ke depan.


"Trus gimana?"


"Kita tinggal disini sampe beres. Baru kita pulang. Jangan lupa lapor polisi."


"Aku udah lapor polisi."

__ADS_1


"Oh, santunan buat keluarga korban. Aku minta data nya."


"Oke." Calvin langsung berlari menuju kerumunan orang yang merupakan para pegawainya. Calvin tidak pernah melihat Dave seserius itu. Ia benar-benar marah.


__ADS_2