When Billionare meet doctor

When Billionare meet doctor
Dokter Ivan


__ADS_3

Dave menengguk minumannya dengan sekali tegukan. Apa yang terjadi hari ini adalah kesalahannya. Ia sangat bersalah ketika melihat perubahan wajah Alena seperti itu. Ia sudah mabuk dan sepertinya belum bisa menghentikannya. Sebuah pukulan keras terasa dipunggung nya. Calvin dan Edward sedang berdiri dibelakangnya sambil menatap tajam.


"Kenapa?" tanya Edward. Siang ini ia terbang dari Singapura hanya untuk bertemu dengan Dave. Ia ingin memperlihatkan progress pekerjaan mereka. Tapi tidak disangka ia menemukan sahabatnya sedang mabuk.


Dave terdiam. Wajahnya memerah. Ia terlihat kesal dan marah.


"Dave!" panggil Calvin.


"Kenapa lagi sih?" tanya Edward bingung. Ia langsung mengangkat tangan Dave dan membantunya untuk berjalan ke mobil. Sedangkan Calvin membereskan tagihan Dave.


"Aku salah." ucap Dave ketika mereka berada dimobil. Edward membalikkan badannya ke belakang. Sedangkan Calvin melihat dari kaca depan.


"Tadi sore aku ketemu Alena di mall. Dia liat aku sama Amanda. Trus Amanda mengenalkan dirinya. Aku tau dia terlalu polos. Dia bilang kalo dia tunangan aku."


"Pacar kamu itu terlalu kekanak-kanakan, Dave. Ngapain sih masih dipertahankan. Udah tau kalo kamu itu cintanya sama Alena. Kenapa harus membohongi diri?" seru Edward kesal.


"Alena gimana?" tanya Calvin.


"Dia kaget..." ucapannya tertahan. "Dia kayak mau nangis. Mukanya langsung merah. Matanya itu, aku gak tahan. Aku gak mau nyakitin Alena. Tapi hari ini aku nyakitin dia." jawab Dave pelan. Matanya masih tertutup.


"Kamu mau tau saran aku apa? Putusin Amanda. Kejar Alena jangan sampai kamu keduluin sama dokter yang sekarang lagi digosipin sama Alena."


ujar Edward. Ia sedikit kesal melihat Dave.


"Aku udah coba menjaga jarak sama Amanda. Aku gak pernah angkat telepon dari dia. Aku udah gak pernah jemput dia. Cuma hari ini. Aku janji anter dia beli kado buat mamanya. Tapi ternyata aku ketemu Alena disana." Dave menghela nafas. Ia merasa menyesal. "Aku salah karena terlalu cepat ambil keputusan buat ngelamar Amanda. Aku sadar kalo dia ada buat jadi pengganti Alena."


Mereka semua terdiam.


"Penyesalan memang datang terlambat. Tapi kamu masih bisa perbaiki." ucap Calvin bijak.


Tiba-tiba Edward merasa penasaran. "Dave, yang beli kado buat mamanya Amanda pake uang siapa?"


Dave menatap Edward. "Aku. Buat apa kamu nanya-nanya hal gak penting?"


"Kamu beli apa? Aku cuma penasaran aja. Pasti bukan sesuatu yang biasa kan. Apalagi buat mamanya."


"Amanda bilang mamanya suka perhiasan yang ada berliannya. Ya udah tadi aku beliin kalung."


Kedua mata Edward terbuka lebar. "Harganya?"

__ADS_1


"150juta." jawab Dave tenang.


"WHAATTTT????" seru Edward dengan Calvin bersamaan.


Beberapa hari kemudian.


"Dira, gimana perkembangan kasus Alena?" tanya Siska ketika ia baru saja makan siang. Sudah beberapa hari ia tidak mendengar tentang kasus itu. Ia ketakutan jika Alena mengalami bahaya.


"Masih aman Bu." jawab Dira sambil mendekatinya.


Siska berjalan menuju kamarnya, tapi tiba-tiba ia menekan dadanya dengan kuat. "Dira!" panggilnya lemah. Ia memegang tembok untuk menahan tubuhnya agar tetap berdiri.


Dira berlari menghampirinya. "Kenapa Bu? Apa yang sakit?"


"Alena, Dira.. panggil Alena."


Alena baru saja bertemu dengan direktur rumah sakit. Dari sekian banyak dokter dirumah sakit ini, kenapa ia terus yang dipanggil menjadi asistennya?


Kali ini didepannya berdiri 3 orang pria dan direktur itu salah satunya. Dari kedua pria itu ia sudah tahu salah satunya. Dokter Darren berdiri disana sambil tersenyum.


"Halo, dokter Alena." ucap Darren sambil mengangkat tangannya. Sikapnya yang kekanak-kanakan mengingatkannya ketika mereka mengikuti misi kemarin.


Dokter disebelahnya terlihat tampan namun dingin. Ada sesuatu yang membuatnya sangat enak dipandang. Dan tinggi badannya mengingatkannya pada Dave. Proporsional namun yang ini terlihat dingin. Tidak ada senyum diwajahnya.


"Dokter Alena, perkenalkan ini Dokter Ivan." ucap Direktur rumah sakit.


Alena mengulurkan tangannya. "Alena."


"Ivan." Jawabnya pendek.


"Dokter Ivan ini sebenarnya anak saya. Dia yang akan bertanggungjawab di rumah sakit ini."


Anak? Selama 5 tahun ia bekerja dirumah sakit ini, ia baru tahu jika Direktur punya anak laki-laki.


"Ivan sebelumnya bekerja di Seoul National University Hospital atau biasa disebut SNUH. Namun kali ini ia harus kembali kesini. Dia harus bekerja untuk warga di negara kita." jelas Direktur.


Alena mengangkat mulutnya. Ia terpesona dengan basic pria didepannya. SNUH? Serius?


"Ivan akan menjadi salah seorang dokter jantung dirumah sakit kita bersama dengan dokter Radit. Dan Darren ini sebenarnya anak sepupu saya. Hari ini ia bekerja disini sebagai dokter umum." ucapnya sambil tersenyum.

__ADS_1


Darren mengangkat kedua alisnya. Ia tersenyum pada Alena.


Alena tersenyum hambar. Untuk apa direktur mengenalkan keduanya padanya? Kenapa bukan dokter-dokter lain yang memiliki kedekatan dengan direktur?


"Kamu anter mereka buat liat-liat sekitar sini." ucap Direktur. Alena hanya mengangguk. Ia berpamitan pada Direktur dan kedua orang itu mengikutinya.


"Dokter Alena, aku ngerasa lucu liat ekspresi kamu tadi." ucap Darren sambil tertawa.


"Aku kaget." jawab Alena. Ia memang sangat dekat dengan Darren sejak misi itu. Hanya saja ia tidak tahu jika hari ini ia akan bekerja dirumah sakit yang sama. Hidupnya tidak akan sama lagi. Pria itu pasti akan mengikutinya terus.


Tiba-tiba Darren berada disampingnya. "Dok, si Ivan ini orangnya dingin banget. Jangankan sama dokter yang baru, sama aku aja dingin. Liat sendiri kan?" bisik Darren.


Alena menengok untuk melihat pria itu. Ia mengangguk pelan sambil tersenyum.


"Dok, satu lagi.. Pacar aku ngasih voucher buat dokter Alena. Bilangnya ucapan terimakasih karena udah jagain aku disana. Nanti aku ambil pas mau pulang."


"Apa?" Alena merasa konyol mendengar ucapan Darren. Pria itu sudah bukan anak kecil. Untuk apa ia jaga? Ia tertawa terbahak-bahak. Baru kali ini ia menemukan pria kekanak-kanakan seperti itu. Ia tahu saat disana mereka diisukan pacaran. Tapi mereka melakukannya tanpa bukti. Alena tidak pernah menganggap serius selama mereka tidak mengganggu pekerjaannya.


Ketika mereka berjalan menuju lobi, handphone Alena bergetar. Ia tidak mengenal nomor itu ketika melihatnya.


"Halo." ucapnya.


"Halo, dokter Alena."


"Iya. Maaf siapa ya?"


"Dokter, saya Dira. Asisten ibu Siska."


Alena melihat kedua orang pria itu dan berjalan menjauh. "Kenapa pa?"


"Dok, jantung ibu Siska kumat. Bisa kesini segera? Tadi Ibu Siska meminta saya untuk memanggil dokter Alena." Terdengar suara cemas disana.


"Jantung? Ya, saya meluncur." jawab Alena sambil berlari menuju resepsionis.


"Dokter Radit. Berapa line Dokter Radit?" tanya Alena terburu-buru.


"Dokter Radit hari ini libur dok!"


"Aduh! Trus gimana?" ucap Alena panik.

__ADS_1


"Sama aku aja. Aku dokter jantung." ucap pria dibelakangnya. Alena menoleh kebelakang dan menatap pria itu.


__ADS_2