When Billionare meet doctor

When Billionare meet doctor
Get me Out!


__ADS_3

"Sayang! Mau kemana?"tanya Amanda sambil menghampirinya.


"Kamu gak punya baju lagi?" tanya Dave marah.


"Ini baju mahal! Mama belinya di Paris." jawab Amanda mengelak.


"Aku gak peduli itu baju mahal. Buat aku baju kamu kampungan!" umpat Dave kesal. Ia membuka jasnya dan memberikan pada Amanda.


"Aku gak mau pake!" seru Amanda marah.


"Kamu mau malu-maluin aku?" ucap Dave sambil memberikan jasnya pada Amanda.


"Mau apa kamu kesini?"


"Aku mau ngajak kamu makan. Kebetulan papa sama mama mau ketemu kamu. Mereka udah nunggu kita."


Dave mendesah. Tapi inilah satu-satunya cara agar ia bisa berpisah dengan Amanda. "Oke, kita pergi sekarang."


Alena berjalan sendiri di basement rumah sakit. Sorot lampu mobil membuatnya silau. Pria itu ternyata serius. Ia sedang menunggunya di mobil. Alena berjalan pelan, namun pria itu malah keluar dari mobil. Ia berjalan menghampiri Alena.


Alena tersenyum hambar. "Dokter Ivan udah lama?"


"Ivan. Jangan panggil aku dokter Ivan." Ucapnya. Ia menatap jam tangannya. "Lumayan lama nunggu kamu."


Alena menjadi gugup. Ia yakin pria didepannya sedang merencanakan sesuatu. Jika seperti ini, ia menginginkan Darren ada disini. Ikut dengan mereka.


"Mau kemana, Van?" tanya Alena ketika ia berada di mobil.


"Tinggal ikut aja."

__ADS_1


"Tapi mau kemana dulu? Aku cuma pake celana jeans."


Ivan melirik sekilas. "Pake baju apapun kamu cantik."


Alena langsung membalikkan wajahnya ke jendela. Ia menutup matanya. Jangan sampai pria disampingnya terobsesi dengannya.


"Al, kamu suka makanan apa?"


Alena menoleh."Aku suka apapun."


"Oke. Aku mau ajak kamu ke pesta sepupu aku."


Alena terkejut. "Baju? Duh, baju aku ? Pesta?"


"Aku udah bilang kamu cantik pake baju apapun." ucapnya.


Mereka sampai disebuah tempat yang Alena lihat adalah sebuah restoran mahal. Ivan turun terlebih dahulu. Ia membukakan pintu disampingnya. Alena keluar perlahan. Ia merasa tidak yakin bisa masuk kedalam. Pria disampingnya baru sehari ia kenal. Sepertinya ada yang salah.


Alena tersenyum hambar. Jika bukan rekan kerja, ia tidak mau mengikuti pria yang seenak hati memutuskan sesuatu.


Alena dan Ivan masuk ke lobby. Ia bisa melihat nama restoran dengan tulisan super besar berada dibelakang pelayan itu.


Ivan menarik Alena ketika ia masuk kedalam sebuah ruangan yang sudah dipesan khusus. Ia bisa melihat berbagai makanan tersedia di dua meja besar. Ada 3 pelayan yang sigap membantu jika mereka kekurangan sesuatu. Di ruangan itu hanya ada kurang lebih 9 orang.


"Ivan.." panggil seorang wanita yang masih terlihat cantik itu.


"Selamat hari pernikahan, Tante " ucap Ivan.


"Siapa disebelahnya? Cantik."

__ADS_1


"Ini rekan kerja Ivan. Dokter Alena."


"Oke.. oke.. sini masuk kedalam. Kita masih menunggu dua orang lagi."


"Ma...Kita dateng!" panggil seseorang yang berada didepan pintu.


Semua orang berbalik termasuk Alena.


Alena tahu siapa kedua orang yang ada didepannya. Alena tahu siapa kedua orang yang terlihat saling berpegangan tangan itu. Kedua matanya nanar. Kali ini ia tidak yakin apakah sanggup melewatkan setiap detik acara itu.


Dave menatap wajah Alena yang berubah. Ia melihat pria disamping Alena. Itu adalah pria yang ada difoto itu. Pria yang memeluk Alena dan pria yang sangat ia ingin pukul sekuat mungkin karena berani-beraninya memeluk Alena dibelakangnya.


Alena menutup matanya. Firly, help me! Get me out from this place. Ucap Alena dalam hati.


"Kak Ivan!" panggil Amanda. Ia langsung berlari pada Ivan dan memeluknya.


"Kamu masih sama kayak dulu, Manda.." jawab Ivan sambil tertawa.


Amanda melihat kesamping. Ia mengangkat kedua alisnya. "Kak Ivan bawa siapa?"


"Bawa temen kerja. Dia dokter juga. Namanya Alena."


Amanda tersenyum. "Halo, dokter. Aku Amanda. Kak Ivan gak pernah loh bawa perempuan kesetiap acara keluarga." ucapnya pada Alena. Alena hanya tersenyum memaksa. Wanita didepannya adalah ular berbisa. Baru kemarin ia mengatakan sesuatu yang menyakitkan. Hari ini ia berubah menjadi wanita lain.


"Oh iya kak, kenalin. Ini Dave Michael. Tunangan aku."


Ivan dan Dave berjabat tangan. Tapi tidak ada sesuatu yang menyenangkan diwajah Dave. Ia menatap Ivan dengan tajam. Tidak ada senyum diwajahnya.


"Tunangan? Kalian kapan tunangan?"

__ADS_1


"Malam ini peresmiannya." ucap Amanda senang. Ia tersenyum tapi kedua matanya menatap Alena tajam.


Mam... ucap Alena dalam hati. Tidak ada yang pernah menyakitinya selain ayahnya. Tidak ada yang berani karena jika ada yang berani menyakitinya, ibunya yang akan maju terlebih dahulu untuk membelanya. Saat ini ia hanya ingin ada seseorang yang membelanya. Bukan Ivan maupun Dave. Kedua pria itu sama saja.


__ADS_2