
Alena berjalan mengendap-endap masuk kedalam ruangannya. Ia merasa tidak nyaman harus melakukan hal seperti itu. Beberapa suster terlihat sedikit sibuk dengan pekerjaannya sehingga tidak menyadari kedatangannya. Ia berdiri didepan pintu ruangannya. Ia melihat kesamping. Pasiennya sudah banyak yang menunggu. Jika bukan karena mereka, ia malas datang ke rumah sakit.
Ia memegang pegangan pintu.
"Suster Ana!" panggilnya pelan.
Suster Ana yang melihat Alena sudah tiba tanpa terlihat olehnya begitu terkejut. Ia berlari menemui Alena dan masuk kedalam bersama-sama.
"Dok, baik-baik aja?" tanyanya cemas.
"Saya baik-baik aja."
Terlihat kelegaan pada wajah Suster Ana. Ia adalah satu-satu orang yang sangat panik jika mengingat kejadian kemarin siang.
"Dok, hampir seluruh orang dirumah sakit ini tau tentang kejadian kemarin. Dokter Ivan emang aneh. Makanya saya sempet bilang jangan sama dokter Ivan."
Alena tersenyum walaupun ia merasa was-was.
"Yuk, mulai panggil pasien. Saya gak mau ada waktu kosong sedikitpun."
Suster Ana sedikit kecewa karena Alena memutuskan topik pembicaraan. "Sebentar dok!" serunya sambil berlari keluar.
Dave berada didalam mobilnya menuju kantor. Sepanjang perjalanan ia tersenyum sendiri. Selama ia mengenal wanita, hanya dengan Alena ia merasa tunduk. Ia mengingat kejadian ketika tadi pagi dirumahnya. Hal konyol memang biasa terjadi. Apalagi tadi malam ia menginap dirumahnya.
Bagaimana Alena memperlakukan nya seperti anak kecil membuatnya senang. Tidak salah jika ia memilih Alena sebagai pacarnya.
"Dave! beres makan cuci piring! Aku gak mau pergi kerja tinggalin sampah dirumah!" teriak Alena cerewet.
Tanpa sadar Dave tertawa didalam mobilnya. Ia tidak pernah melakukannya pekerjaan rumah sekalipun. Dan Alena telah membuatnya harus melakukannya.
Ketika sampai di kantor, para karyawan dibuat heran melihat sikap Dave. Setiap orang yang ia temui disapanya.
Calvin membuka pintu ruangan Dave. "Dave, kamu jadi bahan omongan pagi ini."
Dave tersenyum sumringah. "Kenapa?"
__ADS_1
"Ya, direktur nya bertindak aneh hari ini. Aku gak tau anehnya kayak apa." jawab Calvin. Ia menatap Dave sambil mengerutkan dahinya. "Ya, aku tau. Kamu memang aneh hari ini. Kamu senyum-senyum sendiri. Apa ada sesuatu antara kalian?"tanyanya bingung.
"Aku semalem nginep dirumah Alena." jawab Dave sambil tersenyum puas.
"What?" tanya Calvin terkejut.
"Alena gak mau ditinggalin. Dia memelas minta aku buat tinggal sama dia." jawab Dave terkekeh.
"Aku gak percaya." jawab Calvin.
"Terserah."
Calvin langsung mengetik SMS pada Alena. Ia tahu Alena sedang bersama pasiennya, jadi ia tidak menelpon karena takut mengganggu.
--Al! Tadi malem kalian satu rumah?--
Tidak lama menunggu. Alena membalas pesannya.
--Iya Vin, aku seneng karena pekerjaan rumah aku ada yang bantuin. Dave bantu aku buat cuci piring sama beres-beres. Dave jadi pembantu aku tadi pagi---
"Apa?Alena bales apa?" tanya Dave penasaran.
Calvin langsung memberikan handphonenya. Ia membacanya dan tertawa. Sulit untuk berbohong jika yang ia bohongi adalah sahabatnya sendiri.
Suster Ana berlari cepat menuju ruangan Alena ketika ia melihat ada sesuatu yang janggal. Ia melihat Dokter Ivan ada di lift menuju klinik anak. Ia tidak memakai jubah dokternya. Ketika melihat jam tangannya, waktu ini tepat jam pulang. Ia merasa dokter kesayangannya itu akan mendapat masalah jika sesuatu buruk terjadi. Tidak ada waktu lagi. Ia berlari dengan cepat. Ketika ia melihat pintu ruangan itu semakin dekat, Suster Ana langsung membuka pintu dan menutupnya dengan kencang.
"Dok! ngumpet dok!" seru Suster Ana sambil terengah-engah.
"Kenapa suster?" tanya Alena bingung.
"Cepet dok! Gak ada waktu lagi! Percaya sama saya dok!"
Alena melihat kekiri dan kekanan.
"Ngumpet dimana?" tanya Alena takut.
__ADS_1
"Dibawah ranjang." ucap Suster Ana panik.
Alena langsung masuk kebawah ranjang sesaat sebelum pintu ruangannya terbuka.
Ivan berjalan dengan cepat menuju ruangan Alena. Ia tidak peduli pada ancaman Darren. Ia tidak peduli ancaman siapapun. Ia hanya peduli pada gadis yang telah membuatnya marah. Ia tidak peduli kegaduhan yang ia lakukan di rumah sakit ini. Rumah sakit ini adalah miliknya. Apapun yang ia lakukan ia tidak peduli pada pandangan orang. Ia berhak melakukannya ditempatnya sendiri.
Ivan membuka pintu itu dengan kencang. Terlihat disana Suster Ana sedang merapikan ranjang.
"Mana Alena?"
Suster Ana gugup. "Udah pulang dok!" jawabnya.
Ivan memukul tembok dengan kencang. Ia telah membuat gadis yang berada dibawah ranjang ketakutan.
Iapun pergi tanpa meninggalkan sepatah kata.
"Dok! Udah pergi." bisik Suster Ana. Ia membungkuk untuk melihat keadaan Alena. Alena sedang menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Tubuhnya menggigil. Ia dapat memahami jika Alena ketakutan.
Suster Ana langsung menghubungi seseorang. "Halo, front office ya. Dokter Ivan udah lewat situ?" tanya nya. "Oke, makasih."
Iapun berjalan menghampiri Alena. "Dok, dokter Ivan udah pergi. Dokter pergi sekarang.. Cari tempat aman." bisik Suster Ana.
Alena mengangkat wajahnya. "Saya takut, Suster." jawab Alena dengan mata berkaca-kaca.
"Lebih baik dokter cepetan pergi. Sebelum dokter Ivan kesini lagi."
Alena keluar dari bawah ranjang. Ia membawa tas jinjingnya dan menghubungi Firly. Ia tidak berani menghubungi Dave karena ia sedang sibuk akhir-akhir ini. Ia tidak mau merusak pekerjaannya.
"Aku lagi diluar kota, Al!" seru Firly kecewa. "Maafin aku."
Alena mendesah. Ia tidak tahu akan pergi kemana setelah ini. Lebih baik ia mengendap-endap pulang kerumah. Ia meninggalkan mobilnya di rumah sakit dan pulang menggunakan taxi.
Ketika berada didepan rumah, ia melihat pintu gerbang sudah dibuka dengan paksa. Ia mengerutkan keningnya. Sejujurnya ia takut, namun ia harus melihat keadaan rumahnya. Pintu rumahnya sudah terbuka. Dengan berdebar Alena melangkah pelan untuk masuk kedalam rumah. Ia terkejut ketika melihat kondisi rumah dalam keadaan hancur.
Alena menutup mulutnya saking terkejut. Ia tidak mampu berkata-kata. Siapa yang tega melakukannya? Ia mengeluarkan handphonenya dengan cepat. Ia harus menghubungi Dave. Namun ketika ia mulai mengetik nomor seseorang, ada sebuah tangan yang membekap mulut dan hidungnya menggunakan sebuah kain yang sudah diberi obat bius sehingga ia kehilangan kesadaran.
__ADS_1