
Pola prasasti di atas altar sangat rumit dan hampir mustahil untuk dipecahkan. Tapi Long Shan tidak ambil pusing dengan pola-pola tersebut dengan mengambil Kitab Jalan Langit dan membiarkannya melayang di atas altar.
Altar bersinar terang seolah-olah beresonansi dengan Kitab Jalan Langit. Cahaya yang dipancarkan semakin kuat hingga bisa membutakan mata. Cahaya yang sama juga menelan Long Shan.
Dibawa oleh cahaya menyilaukan,Long Shan berdiri di ruang kosong. Seluruh dindingnya putih. Tidak seperti serangan jiwa yang dilakukannya kepada Phoenix Berkepala Tujuh,ruangan ini membawa perasaan nyaman yang menenangkan.
Sebuah layar muncul di hadapan Long Shan. Layar tersebut berkedip sebentar sebelum menampilkan film pendek.
Dalam film tersebut adalah pemandangan sebuah daratan yang sangat indah. Bunga warna-warni bisa terlihat di sepanjang mata memandang.
Kicauan merdu burung-burung yang beterbangan membuat suasana menjadi emosional. Hewan-hewan kecil saling melompat dan berlarian dengan riang.
"Seandainya ada suasana seperti ini di Benua Daratan Bulan," Long Shan tersenyum pahit.
Yang dihadapi saat ini adalah kedamaian semu. Di balik bayang-bayang,masih banyak ancaman besar yang belum diketahui oleh umat manusia.
__ADS_1
Umat manusia sendiri sudah kesulitan untuk hidup rukun. Keserakahan, kesombongan, dan segala keburukan dari sifat manusia sering meninggalkan perselisihan yang sulit didamaikan bahkan dalam beberapa generasi.
Film terus berputar. Long Shan akhirnya menyadari ada seseorang di dalam film tersebut. Orang itu berdiri di tengah-tengah taman,memakai jubah hitam sederhana. Rambutnya yang terurai diterbangkan oleh angin.
Sosok tersebut membawa wibawa dan aura orang yang telah mengalami banyaknya asam manis hidup. Dia hanya bermain bersama burung pipit yang bertengger di jarinya,tapi seolah-olah ia menguasai dunia.
"Dunia ini,indah ya? Jika saja manusia menghargai keindahan-keindahan ini," sosok tersebut bergumam, yang entah untuk siapa.
Perlu beberapa saat untuk Long Shan menyadari dirinya tidak berada di ruangan putih, tapi di taman.
"K-kau...Senior DiaoFei!"
Sosok tersebut tertawa, "Tak perlu memanggilku Senior. Aku hanya beberapa tahun lebih tua darimu."
"Bukankah para Raja Siluman bilang seseorang telah menyegel tempat ini ribuan tahun yang lalu?" Long Shan tidak pernah berharap seseorang yang ia panggil senior ternyata hanya beberapa tahun lebih tua darinya.
__ADS_1
"Panggil aku DiaoFei. Aku tidak berasal dari benua ini. Dunia tempat aku berasal memiliki waktu yang lebih lambat. Begitu juga tempat-tempat dimana aku menyegel pecahanku," pecahan DiaoFei tersenyum.
Long Shan mengangguk menyadari, "Bahkan jika telah berlalu ribuan tahun di dunia luar. Waktu di tempat ini hanya beberapa saat?"
"Sepertinya kau telah mengerti. Aku akan menyerahkan apa yang telah aku jaga selama ini. Tapi ingat satu hal ini,setiap pecahanku memiliki kepribadian yang berbeda. Di Gua Bintang, dia menyatakan ribuan tahun,tapi pada dasarnya ia yang paling pemalas. Sehingga menunggu beberapa saat saja seperti ribuan tahun. Di tempat lain kau mungkin juga menemukan pecahanku yang tidak 'ramah'"
"Oh, aku punya satu pertanyaan lagi. Mengapa saat aku berada di Hutan Jiwa,tidak ada pecahanmu yang menjaga?" Long Shan tiba-tiba teringat dengan Hutan Jiwa yang ada di Pegunungan Ances.
"Tanpa Kitab Jalan Langit,apa kau berpikir bisa mengetahui letak Hutan Jiwa?" DiaoFei menerbangkan burung pipit di tangannya.
Berbarengan dengan burung pipit yang terbang, ruang dimensi tersebut juga perlahan-lahan melengkung di barengi dengan cahaya menyilaukan yang sama yang membawa Long Shan masuk.
Long Shan perlahan-lahan membuka matanya saat cahaya menyilaukan menghilang. Altar telah menghilang, meninggalkan Kitab Jalan Langit yang masih mengambang dengan tenang.
Saat tangannya menyentuh Kitab Jalan Langit, aliran ingatan dari DiaoFei mengalir ke kepalanya. Mendapatkan bagian ingatan yang lain, Long Shan menghela napas.
__ADS_1