
6 orang pendekar Guci Darah mengendap-endap di bawah bayang-bayang malam.Dengan kemampuan masing-masing dari mereka yang setara Pendekar Bumi, mereka berhasil lolos dari patroli malam.
"Bukankah ini terlalu mudah,ketua?" salah satu anggota mereka yang berada di belakang ketua. Ketua tidak melirik anggotanya tersebut.
"Bagaimanapun,ini misi dari sekte. Kita tidak boleh meremehkannya atau kita bisa gagal," kata ketuanya dengan setengah berbisik.
Mereka memeriksa misi ini dengan hati-hati. Dalam beberapa kasus, mereka harus mati jika misi ini gagal. Untuk menjaga kerahasian sekte.
Ketua telah merasakan firasat tidak enak sejak memasuki kawasan gunung seribu pedang. Ia juga merasa aneh karena misi ini terlihat terlalu mudah.
Saat ini, komplek Tetua sudah terlihat di pandangannya. Ia hanya perlu menyusup dan memastikan kematian Patriak Ji. Bahkan jika ia gagal,melarikan diri bukanlah hal yang sulit.
Sebelum ia mulai benar-benar bergerak,rumput di bawah kakinya mulai mengeras. Seolah-olah rumput itu mengikatnya di tanah.
Anggotanya yang lain juga mengalami hal yang sama. Perlahan-lahan tubuh mereka juga kaku dan tidak bisa digerakkan.
Mereka mulai panik ketika menyadari ada racun didalam rumput yang meresap ke dalam kulit mereka. Dalam hal ini,mereka baru merasakan kematian hanya di depan wajah mereka.
Beberapa berusaha menggigit lidah mereka sendiri karena tahu misi ini gagal. Sebelum lidah mereka benar-benar tergigit,sebuah balok kayu tiba-tiba ada di mulut mereka.
"Tetua Zhao,Tetua She,jika tidak hati-hati mereka bisa bunuh diri demi melindungi informasi yang mereka miliki."
Bunuh diri ketika misi gagal adalah hal yang lumrah. White String juga tidak terkejut dalam hal ini. Ia membiarkan pendekar dari guci darah menggigit balok kayu daripada mati menggigit lidahnya sendiri.
Dua buah siluet keluar dari bayang-bayang rumput. Dari salah satu siluet tersebut,satu memiliki aura yang hampir serupa dengan kayu. Dia adalah Tetua Zhao,dengan akar roh kayu yang mengendalikan rumput untuk mengikat para pendekar dari Guci Darah.
Satu lagi memiliki sedikit aura hitam di tubuhnya. Tetua She,akar roh racun. Mereka telah bekerja sama untuk menghentikan para pendekar ini dari jalannya.
__ADS_1
"Patriak memang punya mata yang bagus. Tidak salah ia memilihmu," Tetua Zhao sedikit memuji White String.
Tapi White String hanya tersenyum,tidak menanggapi Tetua Zhao."Aku hanya kebetulan lewat. Tetua,silahkan lanjutkan tugasmu."
✾✾✾
White String meletakan jarinya di nadi Patriak. Dahinya berkerut karena saat ini dia cukup, bingung? Patriak benar-benar baik-baik saja dan tidak ada luka dalam. Patriak hanya terlihat sedang tertidur.White String mulai mengetuk-ngetukan jari di glabellanya untuk menganalisis keadaan Patriak.
"Tetua Yao,aku merepotkanmu untuk menyiapkan 3 tangkai Rumput Naga, 2 liang Serbuk Sari Bunga Kembar, 2 botol Air Suci, ½ liang Daun Angin, 1 jin Biji Cabai Iblis, 2 teres esensi darah siluman..." White String mulai menyebutkan bahan-bahan yang ia butuhkan untuk memulihkan kondisi Patriak. Tetua Yao sampai melongo karena semua bahan yang diminta oleh White String adalah herbal langka yang biasa dibuat sebagai racun maupun penangkal racun. Tapi ia hanya bisa menurutinya saat ini, seolah tak ada pilihan lain.
Setelah semua bahan terkumpul, White String membuat apai ungu dari Qi dan mulai meracik sebuah pil."Teknik Penempaan Pil Api Arwah..." Tetua Yao hampir terjungkal karena terkejut. Pernah dikatakan bahwa Formula Teknik Penempaan Pil Api Arwah telah menghilang ratusan tahun yang lalu.Tak butuh waktu lama untuk sebuah pil berwarna keemasan terbentuk.
"Tetua,apa kau pernah mendengar Konstitusi Nyanyian Jiwa?" tanya White String sambil mengamati pil yang dibuatnya."Apa itu mengacu pada keadaan dimana jiwa yang tertidur setelah mengalami kejadian hidup dan mati.Kau tidak mengatakan bahwa Patriak..." Tetua Yao lagi-lagi terkejut oleh White String.
"Ya, itu benar. Setelah mengalami serangan jurus dari Guci Darah, jiwa Patriak goyah dan hampir meninggalkan tubuhnya. Itu bisa dihitung sebagai kejadian hidup dan mati. Dan ini adalah Pil Penyambung Nyawa," jelas white String."Pil Penyambung Nyawa,pil yang bisa menyembuhkan luka apapun asalkan masih hidup," gumam Tetua Yao.
Tetua Yao ragu sejenak untuk menerimanya. Tapi setelah memikirkan apa yang dikatakan White String adalah benar, ia menyingkirkan keraguannya."Patriak akan sadar besok,aku permisi," kata White String yang sosoknya mulai menghilang ditelan gelapnya malam.
✾✾✾
Bulan sabit menerangi kawasan Gunung Seribu Pedang. Di tengah keremangan malam, sesosok wanita berusia 17-18 tahun sedang memainkan pedangnya dengan anggun di sisi air terjun. Tak ada cipratan air yang tercipta kala ia mengayunkan pedangnya,menunjukan betapa ia sangat menguasai pedangnya. Seolah-olah ia adalah pedang itu sendiri.
"Chu Lian,sampai kapan kau mau berlatih? Tidak ingatkah kau Tetua Lang meminta kita untuk tidak terlambat besok?" seru sebuah suara dari pinggir kolam. Chu Lian yang merasa terganggu mendengus kasar, "Huh,memangnya kenapa?Chu Xiyu,dia memintanya besok,kan?"
Chu Lian menghentikan latihannya dan mulai bergosip dengan Chu Xiyu di pinggir kolam. Tanpa mereka sadari, beberapa pasang mata mengamati mereka dari balik kegelapan.
Ketika bulan menjadi liontin langit, mereka memutuskan kembali ke asrama. Tapi tiba-tiba muncul 3 orang berpakaian serba hitam mengepung mereka. Seketika Chu Xiyu menjerit panik,tapi seolah tak ada suara yang keluar dari tenggorokannya. Sedangkan Chu Lian berusaha tenang sambil mencoba menganalisis kemampuan lawannya.
__ADS_1
Salah satu dari mereka menarik pedangnya dan menyerang Chu Lian dan diikuti 2 orang lainnya. Chu Lian yang sudah menduga hal tersebut ikut menarik pedangnya dan membalas serangan 3 orang asing tersebut.
"Chu Xiyu,jangan diam saja. Ambil dua langkah ke kiri dan tebas di arah jam empat."
"Chu Lian,kau bisa menggunakan dua pedang bersamaan. Manfaatkan itu untuk menggunakan Jurus Bintang Kejora."
Sebuah suara memberikan arahan kepada Chu Lian dan Chu Xiyu. Walaupun sederhana, jika ketiga orang asing tersebut gagal menghindari serangan maka nyawa mereka akan melayang.
Salah seorang dari mereka kemudian melakukan tebasan pedang ke arah leher Chu Xiyu. Tapi sebelum serangan tersebut mengenai Chu Xiyu, seseorang menangkap pedangnya dengan dua buah jari.
"Feng Ying, Shen Jie, Sheng Lao, aku tak tahu apa yang telah Liu Gu tawarkan kepada kalian sehingga mau mengeroyok sepasang gadis malam-malam begini."
Feng Ying, yang melakukan tebasan tadi, terkejut dan membuang pedangnya. Shen Jie dan Sheng Lao yang bersamanya juga tak kalah terkejut. Sedangkan Chu Xiyu hanya menonton sambil mengobati Chu Lian.
Pria yang menahan serangan Feng Ying memakai payung merah sehingga wajahnya tak terlihat. Tapi dari suaranya, mereka yakin kalau orang tersebut tak lebih tua dari mereka.
"Siapa kau? Berani-beraninya menuduh Tuan Muda Gu!" seru Shen Jie. White String terkekeh pelan sambil menunjuk salah satu pohon lebat disana."Aku tidak menuduh,kok. Lagipula Liu Gu memang disini,kan," kata White String sambil melepaskan sebuah pedang Qi. Pedang Qi yang dilepaskan White String melesat dan menebas sebuah dahan yang cukup besar.
Ketika dahan tersebut terjatuh, sosok yang bersembunyi di sana langsung ketahuan."Selamat malam, semuanya," sapa Liu Gi dengan canggung."Mau bertingkah seperti pahlawan,eh?" ejek Chu Lian yang belum selesai diobati Chu Xiyu.
Chu Lian menyerang Liu Gu secara membabi-buta karena marah. Liu Gu hanya bisa berlari sambil berteriak minta maaf. Melihat itu, trio asing meneguk paksa ludahnya.
"Nona Muda Lian,aku bisa jelaskan. Tolong maafkan aku."
"Chu Xiyu,segera bawa Chu Lian ke asrama dan obati lukanya," kata White String kepada Chu Xiyu."Bagaimana dengan mereka?" tanya Chu Xiyu seraya menunjuk Feng Ying,Shen Jie,dan Sheng Lao yang mencoba kabur."Tidak terlambat bagi kalian untuk mengurusnya besok," jelas White String. Anggukan menjadi jawaban dari Chu Xiyu, "Terimakasih, senior."
"Sama-sama."
__ADS_1