
Buddha merupakan kepercayaan terbesar sebagian orang di Daratan Bulan. Dia digambarkan sebagai pria sederhana yang penuh dengan welas asih. Sebagai seseorang yang membebaskan diri dari enam emosi dan tujuh keinginan,para biksu memiliki temprament yang cukup baik.
Ada beberapa Buddha yang dimaksud penulis. Buddha Gautama,orang pertama yang mencapai Buddha,atau Buddha Kasyapa yang belum mendapat pencerahan,semua Buddha memiliki beberapa kesamaan. Mereka lepas dari hal-hal duniawi.
Tapi Buddha juga masih merupakan manusia. Ia tak bisa benar-benar membebaskan diri dari enam emosi dan tujuh keinginan,hal-hal duniawi. Menghindari adalah yang terbaik.
Sekte-sekte lurus tersebar dari berbagai ukuran dari kecil hingga besar. Para biksu yang menyebarkan kebaikan akan dapat ditemui dengan mudah di setiap kuil.
Ajaran Buddha mungkin luar biasa. Tapi dibandingkan dengan dunia tanpa hukum di sini,aturan Buddha akan seperti kertas. Karena itu biksu perlu mempelajari ilmu bela diri. Yang paling umum adalah menggunakan kekuatan iman untuk memurnikan roh-roh jahat seperti teman kost di akhir bulan,ehh...?!
Kuli Jembatan Neraka adalah sekte Buddha yang cukup terkenal. Merupakan sekte besar,Kuil Jembatan Neraka praktis menjadi kekuatan netral terbesar di Kekaisaran Shu. Tahun ini,mereka mengirim seorang biksu muda untuk mengikuti Panggung Naga dan Peri.
Sekte-sekte menengah dapat mengirim tiga sampai sepuluh kandidat terbaik mereka,berbanding terbalik dengan Kuil Jembatan Neraka ini. Bukan karena apa-apa,tapi memang sulit menempuh jalan sang Buddha.
Semenjak kecil,biksu akan mengalami pelatihan meditasi,nyanyian sutra,dan mendengarkan ceramah. Hal-hal ini membuat mereka menjauh dari enam emosi dan tujuh keinginan,hal duniawi. Mengakibatkan Qi lurus dari kekuatan iman membuat mereka menjadi sosok yang tenang,murah hati,dan penuh ketulusan.
Tapi mungkin sifat lurus dari Buddha tidak sepenuhnya dapat digunakan di kehidupan ini. Lihat saja Wang Chong,yang wajahnya sudah merah padam karena marah. Lawan Wang Chong adalah Wu Tang, satu-satunya perwakilan dari Kuil Jembatan Neraka.
__ADS_1
Wu Tang memiliki memakai kasaya(jubah biksu) abu-abu,tongkat kayu, dan tasbih dari kayu persik. Matanya terus terpejam saat ia menggenggam tongkat dengan tangan kiri dan membentuk segelĀ darma dengan tangan kanan.
Wang Chong sendiri adalah perwakilan dari Sekte Tombak Ilahi. Ia memakai baju pertempuran berwarna perak yang membuat dirinya membawa aura seorang jendral perang.
Saat ini,Wang Chong merasa sangat panas. Bukan karena ia berkeringat di dalam baku besi,tapi karena Wu Tang. Sejak wasit memutuskan pertandingan sampai saat ini,ia belum menyentuh ujung kain Wu Tang. Terutama karena Wu Tang terus-menerus menceramahi Wang Chong.
"...hati manusia tidak dapat ditebak,hanya ketika membentuk hati seorang Buddha..."
"...Saudaraku,mari kita meninggalkan segala ambisi dalam hidup kita untuk menjadi Buddha..."
"...tak ada dosa yang tidak dapat diampuni. Selama seseorang ingin bertobat,sang Buddha yang murah hati akan memberikan rahmatnya..."
Lama-kelamaan, tombak di tangannya bergetar. Pandangannya mulai kabur,dan ia bisa melihat bayangan Buddha samar menjulang di atas Wu Tang. Tapi Wang Chong segera menepis perasaan ini. Ini adalah kekuatan dari ceramah seorang biksu,menyerap kekuatan iman!
"Biksu botak!Lebih baik kau memurnikan pemakaman seseorang daripada mengikuti festival ini. Ceramahmu membuatku pusing!"
"Dermawan,saya hanya menjalankan tugas dari sang Buddha untuk menyebarkan kebaikan. Memurnikan pemakaman seseorang adalah bentuk kebaikan yang lain. Tanganmu sudah ternoda oleh dosa,dengan bantuan saya,anda akan mampu menempuh hidup baru," Wu Tang menjawab dengan acuh tak acuh.
__ADS_1
"Persetan dengan dosa! Setelah mencapai puncak kekuatan dan kekuasaan,lihat siapa yang berani melawan! Buddha yang kau bicarakan adalah omong kosong," tanpa memikirkan apa yang dikatakannya,Wang Chong meneriaki Wu Tang.
Saat membuka matanya,wajah sang biksu berubah muram. "Buddha tidak pernah mengatakan omong kosong. Selalu ada kesempatan kedua. Dermawan,segera bertobatlah sebelum kau menerima hukuman ilahi!"
"Ayo! Kalahkan aku dan aku akan bertobat,hahaha!"
Sebelum Wang Chong menyelesaikan tawanya,Wu Tang telah menyerang dengan serangan telapak tangan. Tanda Swastika berputar di dahinya saat sosok Buddha transparan muncul di belakangnya. (Swastika bukan lambang Nazi yah)
Saat ini,Wang Chong merasa dirinya diliputi dosa yang tidak dapat dimaafkan. Bahkan sang Buddha memilih untuk menghakiminya. Wajah Buddha yang penuh kasih di belakang Wu Tang telah digantikan dengan wajah tanpa ekspresi yang menyeramkan.
"Kemarahan Buddha!"
Dosa apa yang dapat membuat sang Buddha marah hingga tidak memberikan kesempatan kedua? Bahkan sang Buddha dapat marah. Perwujudan Buddha di belakang Wu Tang adalah salah satu contoh besarnya.
Sebelum telapak tangan berhasil melempar Wang Chong keluar arena,Wu Tang menariknya kembali. Walaupun begitu,Wang Chong masih jatuh terduduk karena ketakutan.
"A-aku menyerah..."
__ADS_1
Setelah mendengar Wang Chong mengakui kekalahan,Wu Tang kembali memejamkan matanya dan memulai kembali ceramahnya untuk menyadarkan Wang Chong.