White String(Up Di Book Sebelah)

White String(Up Di Book Sebelah)
Bab 8


__ADS_3

Di bawah cahaya rembulan yang lembut, hujan deras mengguyur bumi. Rintikannya membasahi dedaunan rimbun di seluruh penjuru hutan. Tapi di salah satu sisi hutan, dedaunan bukan hanya dibasahi air hujan,tapi juga darah.


Seorang wanita sedang berlari sambil melawan rasa perih dari lukanya di bawah rintik-rintik hujan. Dibalik jubahnya,ada seorang anak kecil yang sedang tak sadarkan diri. Sesekali ia menengok kebelakang,untuk memastikan tidak ada orang yang mengikutinya.


Dari arah berlawanan, beberapa pendekar terlihat mengacungkan senjatanya. Wanita itu buru-buru berbalik dan kabur.


"Mau pergi kemana lagi kalian,Hua Meng?Kami tetap akan menemukanmu di ujung dunia sekalipun!" Ketua dari orang-orang yang mengejar Hua Meng berseru keras."Aku dan putriku tidak tahu apa-apa, kenapa kalian terus memburu kami?" balas Hua Meng sambil terus mempercepat gerakannya dengan ilmu meringankan tubuhnya.


Sang Ketua tidak menggubris Hua Meng,tapi meningkatkan ilmu meringankan tubuhnya juga. Karena cedera dan kultivasinya yang dibawah Ketua,Hua Meng dengan cepat terkejar.


"Maafkan ibu tidak bisa melindungimu,sayang," bisik Hua Meng sambil mengecup putrinya. Air mata mengalir deras di pelipis Hua Meng, ia sudah ikhlas dengan takdir ini.


Ketika di berpikir bahwa hidupnya akan berakhir di ujung pedang Ketua, ia melihat sebuah siluet yang memakai payung lebar melempar sesuatu ke arah Ketua. Sang Ketua pun ambruk ke tanah dan tidak bergerak lagi. Hua Meng diam-diam merasa senang karena ada yang mau menolongnya. Tapi jika orang tadi juga ingin membunuhnya,ia sudah ikhlas.


"Hei, kau Hua Meng kan? Ayo ikut aku, hujan-hujan seperti ini tak baik untuk kesehatan," pria yang menolongnya tadi kini mengulurkan tangannya untuk membantu Hua Meng bangkit.


Hua Meng baru menyadari kalau rombongan pengejarnya kini tergeletak tak bernyawa semua. Ia merasa kagum kepada sosok di hadapannya yang mampu membunuh sekelompok Pendekar Kaisar sendirian.'Ilmu racun orang ini pasti sangat hebat,' Hua Meng membatin.


"Tuan Pendekar, terimakasih telah menyelamatkanku. Hua Meng tidak akan melupakan budi baik tuan," Hua Meng membungkuk dalam-dalam kepada White String sebelum bersiap-siap pergi.


White String menghela napas panjang melihat Hua Meng, "Panggil saja aku White String. Bukankah aku sudah menyuruhmu mengikutiku? Kau tidak akan bisa pergi jauh dari sini dengan kondisimu itu. Lagipula kau membawa putrimu,bukan?"

__ADS_1


Hua Meng menundukkan kepalanya setelah mendengar pernyataan White String.


✾✾✾


Hua Meng baru mengetahui ada jalan tak jauh dari tempat ia dikejar-kejar oleh Ketua. Ia beberapa kali menatap punggung White String dan sesekali ke arah tempat dia hampir kehilangan nyawanya.Di ujung jalan,Hua Meng menemukan sebuah rumah besar. Seingatnya tidak ada jalan atau bangunan di sekitar sini.


"Bei Feng,siapkan kamar dan handuk kering untuk mereka berdua," kata White String kepada Bei Feng yang telah menunggu di pintu gerbang."Baik,Tuan," Bei Feng membungkuk hormat sejenak sebelum membantu Hua Meng membawa putrinya, "Mari, ikut saya."


Beberapa saat yang lalu,


Setelah pembagian tempat tinggal untuk murid-murid dan para pelayannya, White String kembali ke rumahnya. Ia menempati bangunan paling besar sendirian, ditemani oleh Xiao Bai yang sering tidur di depan pintu masuk dan Bei Feng yang merupakan kepala pelayannya.


White String mengambil payungnya dan beranjak pergi. Sebelum keluar dia berujar kepada Bei Feng, "Tunggu aku di gerbang, jangan biarkan siapapun masuk atau keluar sebelum aku kembali."


Terlindung di bawah payung,White String menuju ke arah hutan alih-alih melewati jalan. Ia samar-samar dapat merasakan jejak darah. Ia pun mengikuti jejak darah yang ia rasakan sambil terus mengaktifkan Persepsi Spiritualnya.


Tak jauh dari tempatnya berdiri,ia melihat seorang wanita yang berlari menembus hujan dengan sesuatu yang ia gendong di balik jubahnya.


"Mau pergi kemana lagi kalian,Hua Meng?Kami tetap akan menemukanmu di ujung dunia sekalipun!" seru seseorang yang sepertinya adalah pimpinan kelompok orang yang mengejar wanita tersebut."Aku dan putriku tidak tahu apa-apa, kenapa kalian terus memburu kami?" wanita yang dikejar enggan berhenti. Mereka terus berlarian di bawah hujan.


White String terus mengikuti mereka. Mungkin mereka tidak menyadari keberadaannya karena terlindung oleh bayang-bayang pepohonan. Ia menyadari kalau kelompok pengejar hanya berada di tingkat Pendekar Kaisar dan wanita itu berada di tingkat Pendekar Bumi,satu tingkat lebih tinggi dari kelompok pengejar.

__ADS_1


Gerakan mereka tak terlihat oleh mata manusia biasa karena ilmu meringankan tubuh yang mereka miliki cukup hebat. Tapi wanita yang dipanggil Hua Meng tersebut sedang terluka sehingga ia cepat terkejar oleh ketua. White String mengeluarkan beberapa buah jarum perak yang telah dilumuri racun untuk berjaga-jaga.


Ketika pedang Ketua hampir menyentuh Hua Meng,White String berpindah tempat dan melemparkan jarum peraknya ke arah ketua dan anggotanya. Seketika mereka ambruk ke tanah tanpa bernyawa.


"Hei, kau Hua Meng kan? Ayo ikut aku, hujan-hujan seperti ini tak baik untuk kesehatan," White String mengulurkan tangannya untuk membantu Hua Meng.


Kilas balik selesai.


Setelah mengeringkan tubuhnya dan berganti pakaian,Hua Meng duduk di tepi tempat tidur. Di atas tempat tidur putrinya sedang dialiri Qi penyembuhan oleh White String. Diam-diam dia mencuri pandang ke arah wajah White String yang tertutup tali putih. Menurutnya dia cukup tampan. Tanpa disadari wajah Hua Meng merona merah sedikit.(Woi!)


Sementara itu saat White String mengalirkan Qi-nya kepada Hua Mei,putri Hua Meng,ia berusaha mengingat dari mana asal Hua Meng ini.


"Lembah Tembikar Emas diserang oleh Guci Darah dan kalian berdua berhasil melarikan diri?" White String menarik tangannya ketika selesai mengingat-ingat. Hua Meng berusaha menyembunyikan rasa terkejutnya,tapi tidak berhasil.


"Kami tidak tahu apa-apa, tapi kami malah dikejar-kejar oleh mereka," Hua Meng tertunduk. White String menghela nafas panjang, "Guci Darah juga telah menyerang Patriak Gunung Seribu Pedang beberapa waktu lalu. Mereka berniat mengumpulkan nyawa sebanyak mungkin untuk membuat pasukan undead. Jika kalian kembali ke Lembah Tembikar Emas, mungkin yang tersisa hanyalah kota mati."


Hua Meng tercekat, dia berpikir bahwa seandainya jika dirinya tak selamat harusnya ada beberapa orang yang masih hidup di Lembah Tembikar Emas."Pasukan undead untuk apa?" Hua Meng bertanya dengan gemetar.


"Ya,kalau itu tidak perlu ditanya lagi. Jelas mereka ingin memperluas daerah kekuasaan mereka. Kalau mereka punya jumlah pasukan yang lebih banyak dan lebih kuat,bahkan aliansi tidak dapat melakukan apa-apa."


Hua Meng terdiam. Inilah hukum di dunia ini. Seseorang tidak hanya perlu untuk kuat,tapi juga pintar. Orang yang bodoh hanya akan menjadi daun layu di tengah-tengah pucuk.

__ADS_1


__ADS_2