
Mata Wira perlahan kembali beralih kearah Rara. Pada awalnya sorot mata Wira tampak bingung, tapi kemudian berubah penasaran.
“Kau? Bagaimana kau melakukannya?”
Rara harus berdehem dulu sebelum bisa bicara, “ aku tidak akan mengucapkan kata-kata yang bisa membebaskanmu.”
Wira belum juga menunjukkan amarahnya. Sebenarnya laki-laki itu malah terlihat geli. “Jadi, kau akan menahanmu disini bersamaku?”
Kesimpulan Wira membuat Rara gentar, dan ia menyipitkan matanya kearah Wira untuk menunjukkan bahwa ia sama sekali tidak menganggap hal itu lucu. “Kurasa kau tidak mengerti. Yang kuinginkan darimu wira, adalah menjawab beberapa pertanyaanku.... Dan menjaga tanganmu. Jika kita bisa menyetujui itu, maka kau akan bisa kembali ketempat asalmu.”
“Aku tidak bisa menyetujui itu”.
Rara tidak menyangka mendapatkan penolakan datar seperti itu, dan itu membuatnya panik. “kenapa tidak?” tuntutnya, suaranya meninggi.
“Karena aku menyukaimu.”
Efek dari kata-kata yang sederhana itu begitu dramatis. Lutut Rara hampir goyah. Dan apa dampak sorot mata bak elang itu pada dirinya..
“ Dan kau tertarik padaku”, tambah Wira.
“Itu tidak benar...disamping itu....aku tidak setuju dengan. Ucapannya tadi.”
__ADS_1
Ekspresi Wira mengeras “ kau ingin menahanku dan. Kau tidak mengakui apa yang kau rasakan padaku?”
“Begini Wira aku sudah membawa makanan yang banyak, dan tentu kamu akan suka dan tertarik pada apa yang aku bawa hari ini”.
“wira pada saat ini aku yakin kalau aku yang lebih berkuasa. Aku benar-benar tidak ingin menahanmu lama-lama. Aku hanya ingin memuaskan rasa penasaranku.... Sepenuhnya.”
“Dan apa kau mau memuaskan rasa penasaranku?”
Mamuaskan rasa penasaran Wira? Akhirnya,ada sesuatu yang bisa ia tawarkan sebagai imbalan, untuk meredakan rasa bersalahnya karena memaksa pria itu,untuk bekerja sama.
“Baiklah, ujar Rara,dan bahkan memberikan senyuman manis pada Wira. “Apa yang ingin kau ketahui?”
“Abad keberapakah ini?”
Wira mendengus, melihat kesekelilingnya. “Zaman ini tidak terlalu jauh berbeda dari saat aku terakhir dipanggil.”
Karena itulah yang diharapkan Rara akan dipikirkan Wira ketika menemukan Padang rumput ini, maka ia sama sekali tidak berkomentar dan malah bertanya, “ Tahun berapakah itu?”
“Seribu delapan ratus. Aku tidak suka zaman ini, kecuali...Apa ada peperangan dimana aku bisa menjajal kemampuan ku?”
Dalam hati Rara menggelengkan kepalanya. Pejuang zaman dahulu akan selalu bersemangat untuk bertarung. Ia akan selalu mengingat itu dibenaknya.
__ADS_1
“Kuyakin perang modern bukanlah perang yang terbiasa kau hadapi Wira,” Rara terpaksa menjelaskan. “Senjata-senjata yang pernah kau lihat pada zaman dahulu tidak sama seperti senjata pada zaman sekarang, bom, pistol lebih canggih.
Rara bisa melihat Wira tidak begitu memahami maksudnya, mungkin karena kata yang Rara ucapkan, “pedang tidak lagi digunakan. Tidak ada lagi yang mau begitu dekat dengan musuhnya dalam peperangan sekarang ini, dan disamping itu, kebetulan negara ini sedang damai-damai saja.
“Memang negara apa ini?”
“Indonesia.”
Untuk memastikan pikiran Wira Rara berkata. “ sudah dua abad lebih sejak kau dipanggil, dan semenjak itu keadaan dunia ini sudah banyak berubah. Belum ada sejarahnya dunia berubah secara begitu dramatis seperti abad ini.
Beberapa perubahan...kau akan menyukainya, tapi kebanyakan tidak. Contohnya, apa yang kau lakukan ketika dikamarku itu ilegal jika tanpa seizin ku.”
“ilegal?”
“Melawan hukum.”
Wira menyeringai sekarang. “Aku membuat hukumku sendiri, nyi, dengan Pedang di tanganku untuk memastikannya.”
Rara menggeleng. “Maaf, tapi kau tidak bisa melakukan hal semacam itu disini.”
to be continued...
__ADS_1
jangan lupa like dan komentarnya...
terimakasih 😘😘