
Jadi Rara menoleh kearah Wira, mencondongkan tubuhnya dan menaruh tangannya ditengkuk laki-laki itu agar bergerak sedikit ke arahnya. Mata Wira langsung terarah kepadanya karena sentuhan itu, sorot mata Wira bertanya-tanya, kemudian tiba-tiba berubah menjadi hangat ketika laki-laki itu sudah bisa menemukan jawabannya sendiri.
Rara bergerak lebih kedepan lagi, untuk bisa memeluk, dan mencium kepala Wira, sepertinya Wira tidak mau mengambil langkah apapun karena kesepakatan mereka tadi.
Tapi Rara hanya, ingin meredam ketakutan Wira untuk beberapa saat. Dan Rara sambil berkata “ tenanglah, ini tidak akan menjadi pengalaman yang mengerikan bagimu. Kau seharusnya menikmati pengalaman pertamumu naik kendaraan modern.”
Tiba-tiba tangan besar Wira memegang tengkuk Rara, bibir laki-laki mulai perlahan mendekati bibir Rara, mula-mula hanya sapuan, dan kemudian Wira mencium Rara dalam-dalam. Rara yang awalnya hanya mengira, Wira hanya butuh dukungan untuk tidak takut menaiki mobil. Ternyata menghadapi fakta yang berbeda.
Rara tersentak ketika dia menyadari posisi duduknya telah berubah. Sekalipun Wira tahu, Rara tidak bisa membayangkan dirinya menjadi objek, dan itu amat menakutkan baginya.
Mengingat betapa ia bisa berbuat seperti itu,maka lain kali ketika dia tidak hati-hati maka bisa saja ia hancur duluan sebelum apa yang terjadi.
Rara berusaha agar suaranya terdengar santai. “ Mungkin lain kali, bisakah kau tidak menciumiku?”
Rara harus menatap mata Wira sekarang. Tapi untungnya gelombang panas yang terpancar dari mata itu kini sudah menghilang.
Tapi sorot mata Wira masih tetap intens, begitu intens hingga Rara tidak sanggup menatapnya lebih lama.
__ADS_1
“Kau tau nyi, kau lebih tahu jawabannya daripada aku.”
“Dan tentu saja kau tahu...
“ Jangan katakan...,”Rara langsung menyela dengan cepat sebelum Wira melanjutkan kalimatnya.
“Aku memelukmu untuk mengalihkan pikiranmu dari mobil”.
“Dan kesepakatan kita tetap sama”.
“Kesempatan kita tidak akan sama lagi, karena aku menyentuhmu, dengan tanganku, dan kau sendirilah yang memulai.”
“Kita akan membicarakannya nanti. Sekarang lepaskan aku, supaya aku bisa mengantar kita pulang.”
Wira melakukannya, langsung, dan Rara bergerak cepat, hingga kembali duduk ditempat semula. Proses melaju kembali ke jalan berlangsung amat pelan.
Dan Rara tidak menoleh kearah Wira untuk mencari tahu reaksi laki-laki itu kali ini.
__ADS_1
Hingga beberapa menit kemudian. Dengan rambut yang meniup rambutnya Rara baru tersadar kalau ia tidak memakai kacamata dan rambutnya tergerai.
Wira telah melepas kacamata dan tali rambutnya, tanpa diketahuinya. Rara membayangkan saat ini kacamatanya mungkin sudah dibuang keluar jendela.
Ia mencoba mengingat apakah ia membawa cadangan kacamata lagi.
Bukan berarti kacamata itu begitu penting. Hanya saja sikap Wira yang sewenang-wenang yang membuat Rara jadi amat kesal. Wira tidak menyukai kacamatanya, jadi begitu punya kesempatan untuk mengenyahkannya, maka Wira melakukannya, tidak peduli dengan apa yang dikatakannya.
Tapi itu memang ciri khas orang pada zaman dahulu. Pendapat wanita sama sekali tidak didengar pada waktu itu.
Semua keputusan dibuat oleh kaum pria, merekalah yang mengendalikan semua aspek kehidupan wanita.
Seharusnya Rara tidak merasa kesal. Wira hanya menjadi dirinya sendiri, laki-laki zaman dahulu. Hanya karena Wira dipanggil ke abad dua puluh bukan berarti pria itu akan mengubah sifat aslinya menjadi tidak terlalu mendominasi dibanding......
To be continued....
Jangan lupa like ya...
__ADS_1
Mohon maaf jika ada salah-salah tulis