Wira penjaga masa lalu

Wira penjaga masa lalu
episode 6


__ADS_3

Rara berkendara lebih lama, dan melewati rute dengan pemandangan lebih indah pada saat ke rumah paman nya setelah Rara tadi keliling untuk melihat pertanian disekitar sini.


Peristiwa tadi malam kembali menghantui nya. Dan disini ia seperti menampar dirinya sendiri supaya mengenyahkan mimpi-mimpi itu dan pikirannya agar ia bisa menikmati waktu-waktu nya disini.


Tentu saja, mudah untuk melupakan pengalaman yang mengganggu jika kau punya teman untuk diajak bicara dan bercanda mengenai berbagai macam hal.


Tapi sekarang ia sendiri, pikirannya kembali meluncur tajam kepada teori gilanya tadi malam bahwa Wira sebenarnya adalah hantu, bukan mimpi semata.


Hanya ada satu cara untuk menguji, dan begitu pemikiran itu bercokol dibenaknya, gelombang kegelisahan yang melandanya mustahil untuk diredam. Ia akan melakukan nya. Toh ia akan menyentuh pedang itu lagi suatu saat nanti, jadi kenapa harus menunggu dan bertanya-tanya?


Rara tidak memperhatikan pemandangannya jalan disekitarnya ketika pikirannya tersita oleh hal lain. Jika hantu itu muncul dan memutuskan untuk tetap tinggal, bagaimana ia bisa mengendalikan hantu itu? Tapi sepertinya tidak mungkin Wira tetap tinggal. Rara menyadari fakta bahwa laki-laki itu tidak suka ia panggil. Tiap dipanggil, laki-laki itu berkeras agar kembali dikirim ketempat asalnya.


Kali ini pikirannya tidak berubah, tekadnya sudah bulat, dan ia tidak pernah melaju secepat ini saat perjalanan kerumah paman. Dan begitu sampai kerumah, Rara langsung melesat masuk ke kamarnya.


Satu-satunya tindakan pencegahan yang dilakukannya adalah mengunci pintu kamar dan menyembunyikan anak kunci nya, supaya hantu itu tidak bisa melarikan diri dari kamarnya sampai ia menjelaskan semuanya.


Atau setidaknya ia berharap pria itu tidak akan mampu melarikan diri. Jika hantu itu tidak bisa melarikan diri,Jika hantu bisa berjalan menembus tembok dan pintu seperti cerita- cerita orang, maka tidak banyak yang bisa ia lakukan.

__ADS_1


Rara masih terengah-engah ketika menarik keluar kotak pedangnya dan membukanya. Kali ini ia menatap langsung ke sudut kamar sebelum ia menyentuh gagang pedang yang terasa hangat. Ia mengerjap ketika mendengar suara halilintar.


Halilintar datang begitu pula dengan Wira.


Ternyata benar!, Jantung Rara berdegup kencang hampir terasa sakit. Ini tidak mungkin mimpi. Mimpi tidak bisa dikendalikan seperti ini, tidak bisa dipanggil sesuai kehendak.


Pria itu berpakaian lebih rapih kali ini, sebenarnya pria itu terlihat makin tampan setiap kali Rara melihatnya, dan Rara masih terdengar sedikit terengah-engah ketika menyapa “ halo..., Wira..”


Suara Rara langsung membuat sepasang mata itu menatap dan terpaku padanya. “sepertinya kau sudah menguasai ketakutanmu terhadapku.”


Itu tak sepenuhnya benar, tapi Rara tidak repot-repot memperdebatkan itu.


“Menahanku?” Wira langsung mengerutkan dahi. “nyai, apakah kau mempermainkanku sekarang?”


Kerutan dan tatapan Wira begitu mengintimidasi, membuat Rara jadi sedikit ketakutan, “tidak... sungguh, aku...aku hanya penasaran denganmu. Dan aku hanya ingin tahu apakah mungkin aku bisa memanggilmu kesini seperti saat ini.”


“ kau sudah tahu apakah mungkin,” gerutu Wira. “ kau telah memegang pedangku, dan darahmu menempel di pedangku. Dan kau tahu pedang itu memberikan kekuatan untuk memanggilku.”

__ADS_1


Pandangan mata Wira jatuh kepedang tersebut saat mengatakannya, rasa posesif Rara terhadap pedang itu kembali menguat, dan ia memasukkannys ke kotak sebelum berkata, “aku amat mengerti akan hal itu, tapi... Kali kupanggil kau selalu memintaku untuk mengirimkanmu kembali. Bagaimana seandainya aku tidak mau?”


Ekspresi Wira menunjukkan bahwa itu benar-benar tidak menyukai pertanyaan itu, tapi ia tidak menyangkal. “ kau menarikku ke sini dengan menggunakan pedangku, jadi hanya kau yang punya kekuatan untuk mengirimkan kembali. Setelah dipanggil, aku bebas untuk tetap tinggal walaupun kau menyuruhku untuk pergi, namun aku tidak bisa pergi jika kau tidak menyuruhku.


“Dengan kata lain, pilihan itu ada ditanganmu jika aku ingin mengusirmu, tapi pilihan ada ditanganku jika aku tidak ingin mengusirmu.”


Wira mengangguk dengan kasar, marah.


Sepertinya tidak suka kalau Rara memegang kendali atas dirinya, melebihi rasa tidak nyaman Rara karena tidak bisa apa-apa jika Rara memilih untuk tidak mengikuti perintahnya jika laki-laki ini mengatakan yang sebenarnya.


Dugaan rara, ia akan tahu kapan Wira memutuskan untuk tetap tinggal, atau ingin pergi sebelum ia memberi perintah. Sementara itu, ia akan memuaskan rasa penasarannya, dan ia bisa membutuhkan waktu berjam-jam, bahkan berhari-hari.


Dengan pemikiran itu, Rara menawarkan,”apakah kau mau duduk?


To be continued...


jangan lupa like dan komentarnya...

__ADS_1


salam manis dari ichi 😘😘


__ADS_2