
Rara begitu larut dalam pikirannya sehingga ia tidak menyadari ada mobil yang mengarah ke arah mereka.
Oh Tuhan Rara baru bisa melihat jelas, bahwa itu adalah sebuah truk.
Truk besar yang membawa semen. Ia lupa memberitahu Wira bahwa kerata tanpa kuda ini memiliki beberapa macam bentuk dan ukuran.
Dan sekilas melihat pada Wira, membuat Rara tahu bahwa ketegangan Wira kembali, bahkan lebih parah, jemarinya mencengkram pinggiran kursi kuat-kuat, hingga tampak memutih.
“Tutup matamu,” Rara berkata
Rara tidak sungguh-sungguh berharap Wira akan menurutinya, tapi laki-laki itu melakukannya.
Namun sepertinya hal itu tidak membuat ketegangan Wira hilang, malah semakin parah, jadi Rara buru-buru menambahkan.
“Truk itu tidak akan menabrak kita, hanya akan melewati kita disisi lain jalan ini, dan akan hilang dalam beberapa detik.”
“Demi para dewa, Rara tolong bebaskan aku.”
Oh Tuhan, kenapa tidak terpikirkan olehnya dari tadi untuk mengenyahkan ketakutan wira,?
“Baiklah, kau boleh pergi. Aku akan memanggilmu kembali ketika tidak ada lagi truk....”
“Terimakasih, jawab Wira kaku.
__ADS_1
“ Tapi mataku yang perlu kau bebaskan.”
“Apa?”
Wira tidak mengulang apa yang ia katakan, dan truk tadi sudah melewati mereka, membawa serta kecemasannya.
“Kau bisa membuka matamu sekarang Wira. Sudah tidak ada lagi truk, sudah lewat.”
Mata Wira terbuka, dan ia menatap marah kearah Rara.
“Jangan pernah mengusirku lagi dari kesempatan untuk menghadapi bahaya, apakah kau akan membuatku menjadi seorang yang pengecut?”
“Apa yang sedang kau bicarakan? Dan kenapa kau tidak pergi, padahal aku sudah memberimu izin?”
Itu adalah sebuah pernyataan bukan sebuah pertanyaan. Yang entah bagaimana membuat hati Rara semakin terusik.
Setelah mobil yang dibawanya melewati belokan rumah pamannya. Rara merasa bersyukur karena setelah kejadian truk yang melintasi tadi semua berjalan lancar.
“ Wira, nanti setelah kita tiba didepan rumah, aku mohon untuk mengikuti aba-aba dariku. Karena dirumah bukan hanya aku yang tinggal, aku mohon kepadamu untuk tidak tiba-tiba muncul dan sebagainya.” Wira hanya mengangguk, antara bingung dan keheranan.
Rara yakin ketika keberadaan Wira yang tiba-tiba muncul dikediaman pamannya akan membuat semua rencana Rara gagal. Hingga akhirnya Rara memutuskan untuk memasukkan Wira kedalam rumah tanpa sepengetahuan mang Udin dan bi Eros.
Akhirnya mobil yang dikendarai Rara sampai didepan rumah. Rara berkata sambil berbisik, “Ssttt... Jangan bersuara dan jangan terlalu dekat dengan jendela.”
__ADS_1
“ Tunggu beberapa menit, ketika mang Udin datang menghampiri aku akan keluar, dan kau tetap disini dan jangan membuat gerakan yang mencurigakan.”
“Dan jika beberapa menit mang Udin tidak keluar kita keluar dari mobil dengan mengendap-endap. Kamu paham Wira?”
Karena Rara sudah bingung untuk menjelaskan panjang lebar, Rara berkata, “ ini seperti strategi perang yang biasa orang zaman dahulu lakukan.”
“ Yang harus kau lakukan adalah mengikuti komando ku”.
“Tapi nyi akulah yang berpengalaman dalam hal strategi per.....” Rara memotong perkataan Wira dan berkata.
“Aku mohon kepadamu sekali ini ikuti apa yang aku katakan."
Wira menatap lama Rara dan mengangguk tanda setuju, setelah beberapa menit berlalu akhirnya Rara keluar dari mobil, disusul oleh Wira dibantu Rara.
Wira dan Rara mengendap-endap hingga mereka bisa memasuki rumah tanpa sepengetahuan mang Udin dan bi Eros.
Rara berkata dalam hati, mungkin ini akan menjadi awal dari petualanganya bersama Wira.
To be continued...
jangan lupa likenya...
terimakasih....😘
__ADS_1