
Kapan ia bisa bersikap dengan benar saat berhadapan dengan laki-laki itu, tidak berharap Wira akan berpikir atau bereaksi seperti laki-laki abad kedua puluh? Tidak heran jika Wira tidak menjawabnya.
Mungkin saja ia telah membuat Wira kembali syok dengan apa yang dianggap sebagai keberanian yang tidak biasa.
Wanita pada zaman Wira tidak pernah menuntut atau memberi perintah pada laki-laki, kecuali mereka memakai mahkota dan turunan bangsawan.
Rara langsung berhenti berpikir saat Wira tiba-tiba berdiri dari kursinya, menuju kesalah satu jendela, dan bertanya sambil berjalan ke sana, “Dari apa suara itu berasal?”
Rara mengikuti Wira ke jendela, tapi ia tidak mendengar suara apapun yang aneh....
Namun. Kemudian ia mendengarnya.
Suara helikopter, itu adalah suara yang tidak terlalu diperhatikan lagi oleh orang-orang karena sudah biasa.
Tapi seseorang yang tidak pernah mendengar suara itu sebelumnya, atau mendengar sesuatu seperti itu, pasti akan langsung menyadarinya.
Dan Wira bukan saja mendengarnya dengan jelas, ia juga sekarang melihat sumbernya, dan bertanya dengan menuntut, “apa itu?”
Rara menoleh kesamping Wira untuk melihat
apa yang dilihat laki-laki itu, dan bersyukur karena saat ini gelap dan helikopter itu hanya terlihat lampu-lampu dari helikopter tersebut.
Jika melihat helikopter itu dengan jelas, mungkin Wira akan kembali syok. Meskipun begitu, perkara ini pasti akan membutuhkan penjelasan yang panjang.
Rara membuka mulutnya untuk memulai penjelasannya, tapi tiba-tiba ia memikirkan sesuatu yang lebih baik.
Alih-alih menjelaskan keajaiban dunia modern, ia hanya mengangkat bahu. “Itu burung. Kami membuat mereka lebih besar saat ini.”
Sorot mata yang ditujukan Wira pada Rara adalah sorot mata tidak percaya, entah karena Wira benar-benar tidak percaya atau justru karena ia mempercayai ucapannya.
Rara tidak akan menanyakan yang mana. Ia malah menarik Wira menjauh dari jendela, lalu menambahkan, “jangan cemas. Mereka tidak akan menyerang manusia. Dan cukup aman... Selama mereka tidak menabrak.”
Kemudian Rara mengalihkan pikiran Wira pada hal lain, “mengenai cerita prabu Siliwangi dan anaknya Rara kandita yang pernah kau lihat lukisannya.”
__ADS_1
Wira langsung menyela. “apa yang ingin kau ketahui?”
“Apakah itu sebuah dongeng? Atau cerita yang dibuat-buat?”
“Rara kandita adalah anak dari prabu Siliwangi dari kerajaan Pakuan Pajajaran.”
“Apakah kau kenal dengan Prabu Siliwangi?”
“Tentu saja aku kenal dengannya, beliau adalah Seorang Raja yang disegani oleh Rakyat dan kerajaan lainnya.”
“Aku kira itu hanya sebuah dongeng, yang setiap kali aku kecil, aku sering mendengarkan ceritanya dari nenekku.”
“Karena setiap kali aku mendengar cerita itu aku akan semakin terobsesi mungkin karena nama kami sama Rara kandita.”
“Apakah kau ingin aku bantu?”
“ Dan jika aku membantu menemukan jawaban yang kau tanyakan, apa kau mau memberikanku hadiah atas pertolonganku itu?”
Apakah Wira sekarang mencoba membuat kesepakatan dengan nya? Rara menahan diri untuk mencari kebenarannya.
“Pengembalian pedangku.”
Rasanya agak mengecewakan mendengar jawaban itu, padahal ia mengharapkan jawaban yang lain.
“Aku, sudah pernah mengatakan padamu bahwa aku tidak akan mau...”
“Lalu, apa yang kau inginkan sebagai gantinya?” Wira langsung menyela, rasa frustasi terdengar dalam suaranya.
“Apa kau mau kekayaan?budak? Berikan pedang itu padaku, dan aku akan memenuhi keinginan terbesarmu.”
“Jadi sekarang kau adalah Jin yang akan menjatuhkan harta Karun dikakiku?” Rara menjawab.
Mendengar ucapan rara, Wira menyeringai. “ Nyi, aku akan merampok pemungut pajak pesuruh Raja.”
__ADS_1
“Raja apa?”
“Raja apapun yang ada yang kau mau.”
“Bicaramu ngawur, Wira sekarang disini sudah tidak ada kerajaan. Disamping itu aku tidak menjual pedang itu dengan apapun.”
“ Aku hanya ingin tahu informasi itu dari mu, dan kebenarannya seperti apa.”
“Mungkin aku bisa menulis buku dari informasi yang kau berikan padaku.”
“Bagaimana jika jika aku memilih untuk tidak memberitahu?”
“Kau bisa melupakan itu.” Ujar Rara matanya menyipit.
“ Apa kau yakin Rara?”
“Amat yakin.”
“Jika kau tidak membatuku , maka itu akan sangat disayangkan. Itu artinya tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan.”
Sekarang Wira tertawa. “Kau berniat untuk mengusirku lagi? Kau akan mendapati bahwa tidaklah mudah melakukan nya. Tapi aku tidak bilang akan menolak memberikan informasi mengenai apa yang sedang kau cari tahu.”
“ Apakah kau ingin bertemu dengan Prabu Siliwangi? Dan Rara kandita?”
Pertanyaan itu mengejutkan Rara, sehingga untuk waktu yang lama , ia hanya menatap Wira.
“Maksudmu kau akan membawa hantu prabu Siliwangi dan Rara kandita kesini?”
“Nyi, tapi aku bisa membawamu padanya, ketempat mereka hidup.”
To be continued...
jangan lupa likenya
__ADS_1
terimakasih 😘