Wira penjaga masa lalu

Wira penjaga masa lalu
Episode 37


__ADS_3

“Bocah itu mengadukan ku yang tidak-tidak bukan, iya kan?”


“Bocah?”


“Pemuda itu, Rinja.” Kemudian Rara berkata dengan lebih ketus lagi, “kau benar-benar berharap aku mengikuti apa yang diperintahkan seorang remaja, ya?”


Wira kembali mengguncang tubuh Rara. Masih mengambang diatas tanah, Rara merespon dengan mengerutkan dahi pada laki-laki itu.


Wira sebenarnya membuat Rara merasa seperti anak-anak, karena laki-laki itu begitu besar dibandingkan dirinya, dan orang lain, setidaknya orang dimasa Rara tidak memperlakukan wanita dewasa seperti cara Wira memperlakukannya sekarang.


“Aku harap, kau memiliki akal sehat untuk mematuhinya,”kata Wira. Rinja tadi hanya memberi pengarahan secara tersirat demi keselamatan mu sendiri. Apa dia tidak mengingatkanmu agar tetap tinggal ditenda ini?”


“Sebenarnya, dia hanya bilang akan menjagaku agar tetap aman di sini sampai kau kembali.”


Kerutan dahi Wira sepertinya bekerja lebih efektif dibandingkan Rara tadi, membuatnya merasa tidak nyaman, membuatnya berharap ia tidak menggunakan alasan bahwa ia memahami peringatan pemuda itu secara harfiah.


Mereka berdua mengerti kalau ia sebaliknya memang tidak meninggalkan tenda, walaupun ia melakukan sebaliknya.

__ADS_1


Dan wirapun tidak keberatan untuk kembali menjelaskannya tapi dengan cara yang lebih empatik, “kau tidak akan pernah lagi melakukan apa yang bertentangan dengan apa yang kukatakan, tidak peduli siapa yang menginformasikannya padamu. Karena kecerobohanmu, sekarang aku ini menjadi berhutang Budi pada orang yang aku tidak ingin berhutang Budi padanya.”


Apakah itu alasannya kenapa Wira begitu marah, lebih marah daripada karena ia hampir terkena cedera yang serius? Rara jadi penasaran.


Pikiran itu entah mengapa menyakitkan untuk Rara, dan ia berkata dengan nada mengejek, “yah, kalau begitu sayang sekali, ya.”


Rara mendapat satu guncangan lagi. Rara baru menyadari bahwa seharusnya ia menunggu sampai Wira menurunkannya terlebih dahulu sebelum ia mengucapkan sesuatu yang bernada sarkasme lagi.


Dan sudah saatnya Wira menurunkannya. Rara hendak mengatakan seperti itu, tapi laki-laki itu belum selesai dengan hukumannya.


Rara cukup tahu kata-kata gundik yang bisa merujuk pada wanita simpanan, jenis wanita yang diperlakukan tanpa rasa hormat. Karena itulah Rara memekik, “Apa?! Beraninya kau....”


“Pria itu sekarang mungkin akan cukup berani meminta bayarannya dalam bentuk...dirimu.”


“Dia...dia tidak akan berani!” Rara mendesis, murka, tapi kemudian ia menambahkan, “Apa akan memberikanku padanya begitu saja jika dia memintaku?”


“Nyi, kalau dia meminta begitu, aku akan membunuhnya.”

__ADS_1


Jawaban Wira itu malah makin membuat Rara marah. “Oh, tentu saja. Pria itu telah melakukan kebaikan dan kau akan memenggal kepalanya karena itu, cara berterimakasih macam apa itu, ketika dengan sekedar mengucapkan tidak kau tidak bisa memilikinya sudah cukup?”


“Ada penghinaan....”


“Aku tidak ingin mendengar omong kosong mengenai kehormatan laki-laki, Wira.


Sebenarnya apa yang membuatmu mengatakan padanya bahwa aku ini wanita simpanan mu?”


“Aku terpaksa mengatakannya seperti itu padanya, supaya aku bisa membawamu, karena dulu dia pernah bertanya dan diberitahu bahwa aku tidak memiliki istri.”


“Kenapa kau tidak mengatakan saja padanya bahwa aku ini anak perempuan yang kau selamatkan? Atau adik perempuanmu yang datang berkunjung? Atau katakanlah saja bahwa aku ini temanmu....”


“Yah, tidak bisa Rara.. dia akan mengetahui...”


Rara mengeluarkan suara jengkel dan berusaha keras agar kakinya bisa menyentuh tanah. Itu adalah usaha yang sia-sia, yang membuatnya mengeluarkan suara yang sedikit membentak, “turunkan aku!”


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2